
Diluar dugaan, desa ini bahkan mempunyai panti asuhan. Katanya beberapa anak di tempat itu berasal dari jalan kota, lalu di bawa oleh juragan kaya di desa ini saat setelah dia pergi meng dagang kan hasil panen para warga di kota.
Masyarakat di sini meng dagang kan hasil panen mereka sebulan sekali, melalui mobil angkut yang biasa lewat di daerah sini, dulunya. Namun sekarang sudah sangat jarang pengemudi menggunakan jalur ini, karena orang-orang sekarang lebih memilih melewati jalan tol baru yang sudah selesai dibangun.
Jadinya sekarang warga desa ini hanya dapat bergantung kepada juragan kaya yang ada di desa ini, warga desa sekarang hanya menjual hasil pangan mereka kepada juragan itu. Dan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya mereka beli dari truk pengangkut yang selalu pergi sebulan sekali di daerah sini untuk membantu warga di tempat ini.
Tidak terbayang rasa sulit penduduk di daerah sini untuk membeli keperluan lainnya. Mereka hanya bisa terus bergantung kepada orang dari luar desa mereka, entah bagaimana pemerintah tidak mengetahui bahwa ada sebuah desa di tempat seperti ini.
-Di sungai-
"Wah desa ini benar-benar indah yah, jadi gapengen balik rasanya." Ucap Ulan gembira.
"Iya nih, pemandangan disini benar-benar diluar perkiraan." Puji Fitri. "Tapi aku sedikit kasihan sama warga di desa ini, mereka memang kaya akan bahan pangan, tapi mereka kurang mampu untuk kebutuhan lainnya." Balas Fitri sedih.
"Benar banget. Apa kita bantu ajah warga di desa ini seperti ibu waktu itu. Kita foto desanya dan masukin ke medsos terus jangan lupa untuk sertakan letaknya biar orang-orang bisa pada bantuin ngasih sumbangat. Atau bantuin nge tag akun pemerintah setempat agar desa ini diberikan kemudahan soal akses transportasi dan jaringan." Jelas Alia bersemangat.
"Boleh juga tuh, tapi gimana caranya kita upload ke medsos. Jaringan disini kan benar-benar kagak ada, seolah olah ini desa lagi dikarantina tingkat serius." Bingung Ulan.
"Emmm" Gumam Alia berfikir sambil menatapi sekeliling. "Guys!, gimana kalau kita coba ke puncak gunung aja. Bisa jadi di atas sana ada jaringan internet" Ucap Alia melirik kearah puncak gunung.
"Iya yah, ko gak kepikiran sih." Balas Ulan.
"Kurasa kita gaboleh sembarangan naik ke atas sana deh, kita harus tanya warga desa dulu. Siapa tau di tempat itu berbahaya" Pikir Fitri memandang Alia dan Ulan.
"Emmmm iya sih, yaudah kita balik ajah dulu. Ini udah mau masuk waktu asar juga" Balas Alia.
"Yaudah ayo" Ajak Ulan.
Kami bertiga pun menuju ke penginapan dulu untuk menunaikan sholat asar, setelah itu kembali lagi berkeliling desa.Setelah sedikit puas berkeliling, kapi pun akhirnya memutuskan untuk mampir sebentar ke panti asuhan yang ada di desa ini. Tempatnya lumayan jauh dari tempat kami menginap, karena letaknya yang berada di tengah persawahan.
Sama seperti masyarakat lainnya, orang-orang di tempat itu pun sangat ramah menyambut kedatangan kami. Mereka mengajak kami mengelilingi setiap sudut tempat di panti asuhan ini, dan memperkenalkan kami kepada anak-anak yang tinggal di tempat ini.
"Kalau begitu kami pamit ke dapur dulu buat masak makan malam untuk anak-anak. Kalian silahkan bersenang-senang dengan anak-anak lainnya, anggap saja tempat ini seperti rumah sendiri." Ucap ramah pengurus panti asuhan.
"Ah, iya bu. Makasih sudah mengizinkan kami melihat-lihat tempat ini" Balas Alia tersenyum.
__ADS_1
"Iya sama-sama" Senyum pengurus panti asuhan.
Anak-anak di panti ini sangat menggemaskan dan super aktif. Mereka mengajak kami bermain bersama tanpa rasa canggung sedikitpun. Itu menambah suasana gembira kami, desa ini juga memberikan kami kesenangan tersendiri tanpa bergantung kepada alat elektronik.
"Kalian ko gemes banget sih, pengen ku cubik deh" Ucap Fitri gemas.
"Gaboleh, nanti pipi Tasya jadi merah" Jawab salah satu anak di panti asuhan itu.
Alia yang juga ikut bersenang-senang dengan yang lainnya, tiba-tiba teralihkan oleh salah satu anak perempuan yang sedang duduk terdiam di kursi kayu panjang yang ada di taman kecil panti.
"Guys aku ke situ dulu yah" Ucap Alia.
"Iya" Jawab Ulan dan Fitri fokus bermain dengan anak-anak lainnya.
Alia berjalan perlahan mendekati anak itu dan duduk tepat di sampingnya.
"Adek kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya?" Tanya Alia melihat ke depan. Tidak ada sedikitpun respon dari anak itu, dia hanya terus terdiam menatap lurus ke arah puncak gunung.
"Kalau boleh tau, nama adek siapa yah? " Tanya Alia kembali mencoba berbicara dengan anak itu.
"Anak ini gabisa ngomong yah?" Batin Alia.
Saat Alia memalingkan pandangannya, tiba-tiba saja anak itu berkata. "Kakak cantik tau tumbal?" Tanya anak itu masih menatapi Alia.
"Kenap-" Ucap Alia bingung. "Yah kakak tau, emangnya kenapa dek?" Tanya Alia.
"Bukan apa-apa. Sebaiknya kakak cepat pulang dari tempat ini sebelum bulan purnama" Ucap anak itu serius.
"Kenapa begitu, padahal kakak mau tinggal di desa ini lebih lama lagi" Balas Alia bercanda.
"Bodoh padahal desa ini hanya ilusi!" Gumam anak itu, lalu pergi meninggalkan Alia.
"Dek!" Panggil Alia, namun tidak mendapatkan respon dari anak itu. "Ilusi? Apa maksud anak itu?" Gumam Alia bertanya-tanya.
"Permisi nak. Bukannya ibu mau mengusir, tapi lebih baik sekarang kalian pulang, karena sudah mau masuk waktu maghrib. Kalian bisa kembali lagi besok jika masih ingin bermain dengan anak-anak." Ucap Bu Wati pengurus panti asuhan memberitahu Ulan dan Fitri.
__ADS_1
"Ah iya juga yah,karena keasikan bermain,kita jadi lupa waktu gini. Besok kami boleh kesini lagi kan bu?" Ucap Ulan.
"Tentu saja, kapanpun kalian bisa ke sini." Jawab Bu Wati tersenyum ramah.
"Alia!, sini! " Panggil Fitri
Alia berjalan menuju ke tempat Ulan dan Fitri.
"Yaudah deh bu, kalau begitu kami izin pamit dulu yah" Ucap Fitri bersalaman, diikuti oleh Ulan dan Alia.
Mereka pun langsung kembali menuju ke penginapan tanpa mampir ke tempat yang lain dulu, karena mengingat peraturan yang pak kades ucapkan.
Mereka sampai ke penginapan bersamaan dengan Budi, Awal, Jamal, dan Dirga. Sangat kebetulan.
"Daging apa tuh Budi?" Tanya Ulan menunjukkan daging yang dipegang oleh Budi.
"Oh ini" Jawab Budi menaikkan dagingnya. "Ini daging ayam hutan hasil buruan ku dan Pak Tono" Beritau Budi
"Pak Tono? Bapak yang nunjukin kita rumah pak kades yah?" Tanya Alia.
"Yoi. Orang-orang disini memang ramah banget asli, padahal aku cuma bantu megangin hasil buruan. Tapi mereka malah ngasih aku satu hasil buruan mereka,katanya sih sebagai tanda terimakasih." Jawab Budi.
"Ternyata lo pergi berburu, besok masih pergi gak?. Gua mau ikut jugaaa" Rengek Awal.
"Lah bukannya lo tugasnya perbaikin mobil yah?" Tanya Budi menaikkan alisnya.
"Tenang, ada Jamal sama Dirga" Jawab Awal tersenyum tanpa beban.
"Enak banget lu seneng-seneng sendiri, sedangkan kita malah harus benerin mobil." Kesal Dirga dengan alis yang mengerut.
"Gaada yang ngelarang lo buat bersenang-senang, kan mobilnya bisa dikerjain hari esoknya lagi" Balas Budi dengan tatapan sinis.
"Ekhm...." Kode Jamal agar mereka berdua berhenti.
"Ya-yaudah, kalau begitu mending kalian bersih-bersih badan dulu. Aku, Fitri, dan Ulan yang akan menyiapkan makan malam" Ucap Alia menarik tangan Ulan dan Fitri masuk ke dalam.
__ADS_1