Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 4 DESA TURI


__ADS_3

Kami semua duduk di pinggir jalan menatapi nasib yang kami terima. Putus asa, adalah perasaan yang melekat di diri kami sekarang ini. Hingga akhirnya keputusasaan itu perlahan hilang, karena tidak sengaja menemukan kilatan cahaya dari atas gunung tempat kita berhenti.


"Guys cahaya!" Teriak Awal


"Cahaya apa coba" Ucap Budi dengan tatapan kosong.


"Itu lihat di atas gunung!" Balas Awal heboh sendiri.


"Cahaya?, bukankah di tempat ini tidak ada desa yah?" Bingung Dirga


Semuanya berdiri menghadap ke arah cahaya, dan dengan perasaan sedikit tidak percaya, kami semua memutuskan untuk naik keatas melihat cahaya apa itu.


Jalur menuju keatas cukup sulit karena tanah dan tumbuhan yang basah. Namun berkat usaha, kami akhirnya berhasil sampai ke tempat cahaya itu berasal.


Kita semua sedikit tidak percaya, bahwa ditempat seperti ini ada sebuah desa yang luas, rumah panggung berdiri berjejeran disepanjang jalan desa tersebut. Serta patok gerbang bertuliskan nama desa itu.Desa Turi,Namanya.


Terlihat kabut di bawah gunung semakin menebal, bahkan sampai menutupi semua bagian jalan. Melihat keadaan di bawah, kami pun akhirnya memutuskan untuk menginap di desa ini beberapa hari, sampai mobil yang kami tumpangi selesai di perbaiki.


Kami melihat seseorang yang tengah duduk berbincang-bincang di sebuah pondok kecil di dekat gerbang desa itu. Semua berjalan mendekat ke arah mereka untuk bertanya letak rumah kepala desa di daerah sini.


Awalnya kami mengira mereka akan menjawab pertanyaan kami dengan cara biasa, namun mereka malah terlihat sangat gembira dan sangat menyambut kedatangan kami. Mungkin saja karena di desa ini jarang sekali kedatangan seorang pengunjung, karena letaknya yang begitu terpencil di atas gunung.


"Selamat datang di desa Turi, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu bapak di pos ronda itu dengan ramah.


"Gini pak. Kami mau minta tolong ke bapak buat nganterin kami ke rumah kepala desa di sini, kalau gak keberatan sih. " Jawab ramah Alia meminta tolong.


"Oh boleh boleh, sini saya antarkan" Balas bapak itu bersedia membantu kami. "Kalau begitu mari ikut saya" Ajak bapak itu


"Terimakasih banyak pak" Ucap Ulan


"Sama-sama" Balas bapak itu tersenyum ramah.


Dengan arahan dari bapak itu, akhirnya kami tiba di depan rumah kepala desa di desa ini. Setelah mengantarkan kami, bapak itu lalu berpamitan kembali ke tempat rondanya.


'Tok....tok.....tok.....'

__ADS_1


"Permisi!" Ucap Awal memberi salam, namun tidak ada respon.


'Tok....tok....tok.....'


"Permisi" Ucap kami semua secara bersamaan.


"Iya, tunggu sebentar" Ucap seseorang dari dalam rumah.


'kreeek' Suara pintu terbuka.


"Eh ada pengunjung dari luar. Silahkan masuk" Ucap pemilik rumah mempersilahkan kami masuk. "Silahkan duduk" Ucap pemilik rumah dengan ramah.


"Kalau boleh tau ada keperluan apa kalian semua ke desa terpencil seperti ini?" Tanya pemilik rumah tersenyum.


Kami menceritakan awal tujuan kami, hingga alasan kami yang tidak sengaja sampai ke tempat ini. Setelah mendengarkan semua cerita kami,akhirnya pemilik rumah yang merupakan kepada desa di tempat ini, dengan ramah membantu kami mencarikan tempat menginap untuk sementara.


Setelah mendapatkan tempat untuk menginap, kepala desa di tempat ini memberitahukan kepada kami, tentang apa saja yang tidak boleh kami lakukan selama berada di desa ini.


Dia mengatakan bahwa mulai besok, kami hanya boleh keluar pada jam 05.30 pagi sampai pada jam 19.00 malam. Alasannya sederhana, karena pada malam hari sampai waktu subuh, semua hewan buas yang berada di daerah sini sangatlah aktif dan berbahaya dikarenakan sudah masuk waktu berburu bagi mereka.


Setelah berbincang-bincang beberapa jam, pak Dito yang merupakan kepada desa di sini akhirnya pamit pulang karena sudah mau masuk waktu isya.


"Terimakasih pak karena sudah membantu kami, dan maaf karena sudah merepotkan bapak malam-malam gini" Ucap Jamal.


"Tidak usah berterimakasih, karena ini sudah tugas bapak sebagai kepala desa. Oiya kalau butuh sesuatu,jangan segan-segan meminta bantuan kepada bapak dan juga warga disekitar sini, kami sebisa mungkin akan membantu kalian." Beritahu Pak Dito dengan ramah.


Setelah Pak Dito kembali, kami semua melangkah memasuki tempat menginap kita yang merupakan rumah panggung berciri khas desa ini. Dengan tatapan tidak percaya, kami melihat kesegala sisi rumah ini. Kondisi rumahnya memang baik, ada ruang tamu, kamar tidur, dapur dan juga toilet, namun yang masalah adalah debu-debu tebal dan juga sarang laba-laba yang menempel disetiap ruangan.


"Gimana caranya kita bisa beristirahat dengan debu-debu ini. Bangun-bangun, ini muka udah di tumbuhin jerawat" Keluh Ulan sambil memegang kedua pinggulnya.


"Bodoh!, siapa juga yang mau bobok ditemenin debu. Buruan bantuin gua bersih-bersih, setidaknya ada tempat untuk kita istirahat bertujuh, sisanya kita bersihin besok." Balas Budi mengangkat karpet yang penuh dengan debu.


"Yah benar juga, gimana kalau kita bagi tugas ajah. Yang cewe urus tempat buat tidur, dan yang cowo bersihin toilet sama dapurnya." Saran Fitri


"Yaudah, yok buruan bergerak!" Ucap Awal langsung menuju ke ruang dapur.

__ADS_1


Satu jam kami habiskan untuk ber beres-beres, dan hasilnya sudah lumayan bersih untuk beberapa tempat.


"Oi, di toilet sama di dapur udah bersih belum!!" Teriak Ulan.


"Dikit lagi ini!" Balas Jamal.


"Aduh badan gua langsung sakit anjir, kenapa coba kita harus dikasih tempat berdebu kayak gini. Orang mau langsung istirahat, malah harus bersih-bersih dulu" Keluh Ulan


"Yah mau bagaimana lagi. Kita kan datangnya diluar perkiraan, jadi pak kades gaada waktu buat nyiapin rumah" Balas Alia.


"Iya sih, tapi kenapa kita gak ditawarin buat nginep di rumahnya ajah dulu. Besok baru kesini bersih-bersih. Ucap Ulan masih mengeluh.


"Guys dapur sama toilet udah bersih nih, kalian mending cuci tangan, cuci kaki, cuci jiwa dan juga hati baru istirahat " Saut Dirga memberitahu Alia, Fitri, dan Ulan


"Yaudah, kalau gitu ayo sholat dulu sebelum istirahat Fitri, Dirga, Jaman, Budi" Ajak Alia.


"Gua gak diajak?" Ucap Ulan.


"Yaudah, buruan syahadat" Balas Budi.


"Yeee gua becanda, yaudah sonoh ibadah"


* * * *


Setelah menunaikan ibadah sholat isya, kami pun langsung beristirahat karena sudah terlalu 3L, Lelah, Letih, dan Lesuh. Keesokan harinya, kami semua kembali melanjutkan bersih-bersih rumah, dibantu oleh beberapa warga yang sudah tau kedatangan kami. Warga-warga disini sangatlah ramah kepada kami semua, mereka bahkan memberikan kami beberapa bahan makanan hasil panen mereka.


Setelah selesai membersihkan rumah, para warga yang membantu kami langsung pamit menuju ke tempat kerja mereka. Kami sangatlah berterimakasih kepada mereka yang telah membantu kami dengan sukarela.


Dirga, Jamal, dan Awal turun dari atas gunung menuju ke bawah, untuk mengambil dan membawa barang-barang kami menuju ke tempat penginapan. Setelah makan bersama,mereka bertiga pun kembali lagi kebawah untuk mencoba memperbaiki mesin mobil.


Alia, Ulan, dan Fitri memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi setiap pelosok desa. Sedangkan Budi entah pergi kemana bersama dengan beberapa bapak-bapak di desa ini.


Mayoritas penduduk disini merupakan seorang petani, ladang-ladang dan persawahan ditempatkan ini sangatlah luas. Setiap harinya mereka bekerja dengan penuh semangat, kami semua sampai dibuat bingung, karena mengapa tempat seperti ini tidak tercatat didalam maps.


Matahari bersinar terang, menyinari setiap sudut desa ini, pemandangan dari atas gunung yang begitu indah membuat suasana hati menjadi tenang dan damai. Ada banyak sumber mata air di tempat ini, air terjun yang jernih sangatlah indah bila terkena pantulan cahaya matahari dan bulan.

__ADS_1


__ADS_2