
Setiap tahunnya desa turi terus menghasilkan hasil panen yang baik dan berlimpah. Semua warga hidup dengan persediaan makanan yang banyak dan segar.
Namun suatu hari, desa mengalami krisis pangan dan juga air. Pemanenan selalu gagal, itu membuat satu desa menjadi sangat risau dan khawatir akan kemarau yang berkepanjangan.
Keputusasaan membuat mereka akhirnya memilih jalan yang menurut mereka adalah jalan yang terbaik. Mereka mengira bahwa mereka mendapatkan musibah seperti ini, karena tidak mengikuti adat desa yang terus berlanjut hingga ke penerus mereka.
Alhasil, para petinggi desa melakukan rapat untuk melaksanakan upacara tersebut. Awalnya, beberapa warga tidak menyetujui keputusan yang diambil oleh para petinggi desa, karena upacara itu sangatlah tidak manusiawi.
Namun, sehari setelah keputusan tersebut, semua warga tiba-tiba mengikuti keputusan para petinggi. Hanya saja, anak dan suami bu Ningsih sama sekali tidak mengetahui keputusan tersebut.
Alasan kenapa hanya mereka bertiga yang tidak mengetahui keputusan tersebut karena, Bu Ningsih secara diam-diam telah sepakat kepada warga untuk menjadikan anak pertamanya sebagai tumbal untuk desa.
Anak kembar Bu Ningsih adalah anak yang periang dan juga sangat cantik jelita, namun kecantikan anak pertama melebihi kecantikan anak keduanya. Bu Ningsih mengajukan anak pertamanya sebagai tumbal, karena ia dijanjikan harta yang betlipah, sekaligus merasa bahwa jika ia memberikan tumbal kepada roh pelindung, maka dia akan lebih dekat dan dicintai oleh roh pelindung.
Di hari perayaannya upacara adat, ayah dan anak pertama Bu Ningsih hanya mengira bahwa acara yang sedang berlangsung di desa hanyalah acara biasa. Namun berbeda dengan anak keduanya, dia merasa ada yang aneh dengan perayaannya yang sedang berlangsung di desa.
Dia merasa ada yang janggal tentang acara itu, dia berfikir mengapa warga merelakan atau mengeluarkan seluruh hasil pangan mereka hanya untuk acara seperti itu, di saat desa sedang mengalami krisis pangan.
Apalagi, bertahun-tahun ia tinggal di desa turi, namun sama sekali tidak ada perayaannya ataupun acara-acara adat yang pernah warga gelar.
Hingga pada suatu malam, warga yang biasanya tidak pernah keluar saat malam hari, tiba-tiba saja berkumpul di balai desa untuk merayakan upacara adat. Dewi dan Maria tentu saja sangat bersemangat dan senang, karena malam itu adalah malam yang sedari dulu telah mereka berdua nanti nantikan.
Disaat mereka bergandengan tangan keluar dari rumah, Bu Ningsih langsung memanggil Maria, dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah. Mendengar ucapan Bu Ningsih, membuat Maria seketika menjadi sangat kesal. Ia bertanya kepada ibunya mengapa hanya dia yang tidak diperbolehkan untuk keluar, sedangkan kakaknya dapat keluar.
__ADS_1
Bu Ningsih membuat alasan dengan berkata bahwa seseorang harus menjaga rumah. Tentu saja alasan itu malah membuat Maria semakin kesal, dan langsung memanggil ayahnya yang berada di dalam rumah untuk keluar.
Ayahnya dengan raut wajah yang kebingungan bertanya mengapa Maria memanggilnya. Maria merengek kepada ayahnya, bahwa dia tidak diperbolehkan keluar oleh ibunya, dan hanya kakanya saja yang boleh.
Pak Hartono pun menanggapi pertanyaan anaknya itu dengan kembali bertanya kepada istrinya, yaitu Bu Ningsih. Ia bertanya tentang alasan Bu Ningsih melarang Maria keluar, Bu Ningsih hanya menjawab pertanyaan suaminya seperti yang ia ucapkan kepada Maria tadi.
Pak Hartono mengerutkan keningnya, dan berkata dengan nada yang sedikit tinggi kepada Bu Ningsih, bahwa Maria tidak seharusnya berada sendiri di rumah, dan meminta agar Bu Ningsih membiarkan Maria untuk pergi bersama saudara kembarnya.
Pak Hartono juga sedikit curiga dengan anyaman bambu yang dibuat oleh warga tadi,karena bentuknya menyerupai tempat menaruh kepala persembahan seperti yang digunakan penduduk dulu untuk acara penyerahan tumbal kepada roh pelindung.
Bu Maria kembali menjawab ucapan Pak Hartono dengan tegas, dia menggunakan alasan tentang kondisi Maria yang sakit-sakitan. Dia juga menangkal ucapan suaminya tentang anyaman bambu tersebut, dengan berkata bahwa itu hanya untuk hiasan kue dan dupa saja.
Pak Hartono terdiam sejenak, dan menatap ke arah Maria. Dia mendesah dan akhirnya menerima alasan istrinya, karena dia juga sedikit khawatir dengan kondisi Maria. Mendengar keputusan ayahnya, Maria pun menangis dan langsung menuju ke kamarnya.
Dewi ingin menyusul Maria ke dalam kamar, namun Bu Ningsih menarik tangannya dan menyuruhnya untuk membiarkan Maria menenangkan diri. Dewi menyangkal ucapan ibunya, dengan berkata bahwa tidak ada salahnya untuk memperbolehkan Maria keluar sebentar. Di kondisi Maria yang seperti ini, dia pasti sangat memerlukan suasana yang nyaman, dan sering-sering untuk bahagia.
Mulai dari situlah Maria akhirnya merasa sangat bersalah kepada kembarannya. Ia bercerita bahwa disaat Dewi pergi untuk membujuknya, dan mengajaknya keluar bersama, ia justru membuat Dewi kesal kepadanya.
Dia mulai berkata kasar kepada Dewi, serta membanding-bandingkan dirinya dengan Dewi. Dia berkata bahwa Dewi adalah anak kesayangan ibunya, serta warga sekitar. Dewi juga lebih cantik darinya, dan juga tidak sakit-sakitan seperti Maria.
Karena ucapan Maria, Dewi menjadi sangat kesal, dan menyuruh Maria untuk berhenti berkata yang tidak tidak. Maria juga merupakan anak kesayangan Ibunya, serta warga sekitar. Dia juga berkata bahwa Maria tidaklah jelek, karena mereka berdua kembar, jadi tentu saja wajah mereka berdua sama.
Maria sama sekali tidak memperdulikan ucapan Dewi, dia malah makin berkata kasar, dan menyuruh Dewi untuk meninggalkannya sendiri. Dewi memasang wajah kesal, dan langsung meninggalkan Maria yang sedang menunduk sambil menangis.
__ADS_1
* * * *
"Aku tidak pernah menyangka, bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan saudara kembarku, serta ayah ku dalam keadaan bernyawa." Ucap Alia membaca buku tersebut dengan nada kecil. "Tu-tunggu dulu!. Dalam keadaan bernyawa?, berarti mereka berdua telah tiada?, tapi karena apa?." Ucap Alia bertanya-tanya dengan ekspresi wajah yang gelisah.
Alia terdiam beberapa menit, kemudian kembali membaca buku itu lagi. Saat Alia membuka halaman selanjutnya dari buku tersebut, tiba-tiba saja Ulan terbangun, dan memanggil Alia yang sedang duduk di dekat koper, sambil memegangi buku yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Alia yang terkejut, langsung menyembunyikan buku yang dia pegang, dan berbalik melihat Ulan.
"Alia?, lu ngapain disitu?" Tanya Ulan setengah sadar.
"Ah, gapapa. Aku cuma mau itu, mau ambil jaket doang ko." Jawab Alia terbata-bata.
"Hem...., jiket" Balas Ulan bernada. "Terus buku apa yang sedang kau sembunyikan di belakang mu itu?" Tanya Ulan curiga.
"Bu-bukan apa-apa ko, cuma buku biasa" Jawab Alia.
"Owh yaudah" Saut Ulan.
Ulan bangkit dari tempat tidurnya, dan melangkah menuju ke pintu kamar. Alia memanggilnya, dan bertanya kepada Ulan bahwa dia ingin pergi kemana. Ulan pun menjawab bahwa dia ingin pergi mengambil minum, karena tenggorokan nya terasa sedikit kering.
"Mau ikut ga?" Tanya Ulan.
"Engga ko, aku mau langsung tidur ajah" Jawab Alia berdiri, dan melangkah menuju ke kasur.
__ADS_1
"Yaudah" Balas Ulan, dan meninggalkan kamar.
Saat Alia berbaring di atas kasur, dia tidak sengaja membangunkan Fitri. Fitri yang setengah sadar pun bertanya kepada Alia, apakah Alia butuh bantuan.Alia berkata bahwa tidak membutuhkan bantuan, dan meminta maaf karena telah membangunkan Fitri.