
Setelah Jamal memeriksa keadaan mobilnya, ternyata ada sedikit masalah pada mesinnya. Untung saja Fitri membawa apa yang diperlukan untuk memperbaikinya.
"Nah udah selesai ni, Fitri coba nyalain mobilnya dulu" Ucap Jamal
"Iya" Balas Fitri mencoba menyalakan mobilnya. Untung saja mobil Fitri dapat menyala, jadi sekarang dia sudah bisa melanjutkan perjalanan.
"Terimakasih semuanya, tadi aku hampir aja nangis karena gatau harus bagaimana. Apalagi di daerah sini jarang banget ada pengendara yang lewat" Ucap Fitri berterimakasih.
"Santai ajah. Oiya kamu mau ke mana lewat jalur ini? " Tanya Budi
"Aku mau ke kampung orang tuaku yang ada di Pantai Tanjung" Jawab Fitri.
"Wah kebetulan banget kalau gitu, kami juga mau kesana. Kita barengan ajah perginya, biar suasana sedikit lebih rame" Ajak Jaman.
"Iya,boleh deh. Kalau begitu sebagian naik mobil aku ajah, soalnya aku juga sedikit takut menyetir sendiri." Balas Fitri gembira karena tidak sendiri lagi.
"Oke, kalau gitu kita bagi ajah.Alia, Budi sama Awal di mobil aku ajah soalnya lebih luas. Terus di mobil kamu biar Ulan sama Jamal ajah, gimana? " Tanya Dirga
"Oke!" Ucap semuanya bersamaan.
"Kalau gitu, boleh aku saja yang bawa mobilnnya Fitri" Izin Jamal.
"Em!, tentu saja boleh" Balas Fitri
Kami semua kembali melanjutkan perjalanan dengan satu anggota baru, yaitu Fitri. Kami terlalu lama membuang waktu tadi, sampai tak sadar kalau sekarang sudah hampir waktu magrib.
Seperti yang dikatakan Ibu hamil tadi.Kabut mulai menutupi setiap jalan, membuat kami sedikit sulit untuk melihat. Dari belakang Ulan dan Jamal berteriak memanggil Dirga, dia menyuruh nya untuk berhenti sejenak karena kondisi kabut yang semakin menebal, tentu saja itu sangat tidak baik untuk berkendara.
Awalnya Dirga ingin berhenti, namun entah mengapa tiba-tiba saja dia menjadi keras kepala dan langsung kembali menyalahkan mobilnya lalu berjalan menembus jalan yang berkabut itu. Jamal yang melihatnya, tentu saja akan mengikuti Dirga agar tidak ketinggalan.
Semakin kita menyusuri daerah pegunungan ini, semakin berkabut pula jalannya, dan jaringan internet juga sampai terputus. Entah sudah berapa menit kita berkendara, namun kami merasa hanya sedang berputar putar saja.
Kami akhirnya sampai disuatu jalan bercabang yang disinari oleh sedikit cahaya matahari. Dirga,Jamal serta yang lainnya sedikit bingung, karena di dalam maps hanya ada satu rute lurus menuju ke Pantai Tanjung di daerah ini.
Tapi entah mengapa satu jalan itu menjadi dua jalur yang berbeda. Kami menepi dan turun mengecek jalan tersebut, salah satu dari dua jalan itu pasti terhubung langsung ke tempat tujuan kami. Tapi kami sama sekali tidak tau mana jalan yang benar, dan mana jalan yang salah.
Budi bertanya kepada Fitri apakah dia tau jalan mana yang menuju langsung ke lokasi, tapi Fitri juga tidak tahu karena ia baru pertama kali melewati daerah pegunungan ini.
__ADS_1
Jalan disini memanglah sangat bagus, namun entah mengapa tidak ada sama sekali pengendara yang melewatinya. Pikir kami, mungkin saja karena rute di jalan ini terlalu jauh dan berbahaya untuk dilewati, apalagi pada saat malam hari.
"Jadi bro?, gaada satupun yang tau kita harus kemana. Padahal sebentar lagi matahari terbenam, kabut juga semakin tebal. Andai saja kita mendengarkan perkataan Ibu tadi, pasti gaakan seperti ini" Ucap Budi kesal.
"Hey, lu bicara seolah-olah gua yang salah karena memilih untuk melanjutkan perjalanan" Ucap Dirga marah.
"Guys udah jang-" Ucap Alia berusaha menghentikan mereka.
"Yah emang lu yang salah, tadi juga kita udah bilang buat berhenti, ntar kita lanjut perjalanan nya lagi kalau kabutnya udah gak terlalu parah!!" Gertak Budi menyalahkan Dirga
"Lah, kenapa lu baru bilang sekarang. Seharusnya lu bilang daritadi kalau emang mau berangka besok. Lagipula sampai kapan kita harus menunggu kabutnya mendingan? Sampai besok?" Bentak Dirga.
"Heh udah anjir gausah berantem" Ucap Jamal mencoba menghentikan mereka berdua.
"Biarin kita berangkat besok, asalkan kabutnya udah ilang. Kalau kabut kayak gini bagaimana mau lewat hah!!" Bentak balik Budi kepada Dirga.
"Woy Awal, gausah nempel nempel bisa gak sih? Mending lu bantuin Jamal nenangin mereka berdua" Ucap Ulan
"Gamau ah, gua mana berani negur mereka berdua" Balas Awal cemberut.
"Woy bangsat!!!, kalian udah gede tapi masih ajah saling nyalahin!!. Pola pikir kalian sebenarnya kemana sih?!" Gertak Jamal yang sudah kehabisan kesabaran mendengar perkelahian mereka berdua.
Seketika semuanya terdiam melihat Jamal yang terkenal kalem, untuk pertama kalinya terlihat sangat kesal seperti itu. Hembusan angin bertiup kencang menggesek ranting dan dedaunan pohon, suasana menjadi semakin tegang dan menyeramkan.
"Sudahlah guys, hentikan perdebatan ini dan pilihlah salah satu diantara jalur ini. Kalau kita pilih jalur yang benar, itu sangat bagus. Tapi kalau pilihan kita salah, masih ada kata putar balik." Ucap Alia dengan wajah kebingungan.
"I-iya benar juga, iya kan Fitri?" Balas Ulan mengajak Fitri berbicara agar dia tidak ikut tegang.
"I-iya" jawab Fitri
"Aku akan menunggu didalam mobil, jadi cepat pilih" Ucap dingin Jamal.
Suasana semakin menjadi tegang ketika Jamal masuk ke dalam mobil. Dirga dan Budi saling membelakangi dengan raut wajah masih kesal.
"Ayolah guys, bukankah tujuan kita untuk liburan bersama itu untuk mempererat ikatan kita, bukan untuk saling membenci." Ucap Ulan mencoba mencairkan suasana.
"Guys, dari yang gua perhatian. Mending kita lewat jalan disebelah kiri deh, soalnya pohon-pohon tidak terlalu menghalangi sinar matahari, dan juga ada sebuah patok bertuliskan 2km. Bisa saja 2 km itu berarti jalan menuju ke Tanjung tinggal 2 km" Ucap Awal memberitahu.
__ADS_1
"Iya juga yah, lawat situ ajah deh." Saut Alia. "Jamal....!! Kita lewatin jalan di sebelah kiri saja gimana?" Teriak Alia memberitahu Jamal yang berada di dalam mobil.
"Yaudah ayo,buruan masuk kedalam mobil" Perintah Jamal.
Kami memasuki mobil dan mobil pun melaju kearah jalur yang tadi kita pilih, sepanjang jalan tidak ada masalah apapun, kecuali suasana di dalam mobil yang sedikit canggung. Budi bertukar tempat dengan Ulan, sekarang yang berada di mobil Fitri hanya Jamal, Fitri, dan juga Budi.
Tak terasa sudah jauh kita melewati jalan, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 18.03 waktu maghrib. 2 km, hanya sebuah angka yang tertulis di patok tua tadi. Kami menyusuri jalan ini hampir sepanjang 3 km, namun tak kunjung mendapatkan tanda-tanda keluar dari tempat ini.
"Aduh..." Desah Ulan. "Ini kapan sampainya sih, kita salah jalur atau gimana ini?." Ucap Ulan mengeluh.
"Perasaan kita udah dari tadi nyusurin jalan ini, sampai-sampai jalannya udah bukan aspal lagi" Ucap Awal ikut mengeluh.
"Sabar guys, nanti juga ketemu jalan keluarnya" Balas Alia tetap tenang.
Dirga dan Jamal tiba-tiba menghentikan mobil disaat perjalanan sudah sangat jauh di tempuh.
"Kayaknya kita harus putar balik deh" Ucap Dirga dengan raut wajah sedikit muram.
"Lah kenapa lagi?" Tanya Ulan
"Lihat tuh jalan di depan, jalannya udah di tumbuhin tanaman merambat" Jawab Dirga.
"Dirga!!, putar balik atau lanjut nih?" Teriak Jamal di mobil belakang.
"Putar balik ajah, jalan di depan udah bener-bener gabisa dilewatin lagi" Teriak Dirga memberitahu Jamal.
Karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan, akhirnya kami memutuskan untuk putar balik. Sekali lagi, kami merasa sedang berputar putar saja di jalur yang tadi. Hingga akhirnya mobil Dirga dan Fitri tak bisa lagi melanjutkan perjalana.
Dirga dan Jamal keluar dari mobil untuk mengecek keadaan mobil. Hasilnya mesin mobil menjadi rusak dikarenakan suhu panas.
"Dir gimana mobil lu!?" Teriak Jamal bertanya kepada Dirga
"Mesinnya Rusak Jal" Jawab Dirga menggeleng gelengkan kepalanya dengan raut wajah pasrah.
"Ko bisa sih mobilnya rusak secara bersamaan, sial banget kita ini hari" Keluh Ulan dengan raut wajah kesal.
"Terus gimana nih, kita gabisa ngehubungin orang lain juga buat ngebantuin kita. Di daerah sini sama sekali gaada jaringan" Balas Awal.
__ADS_1