Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 22 RAHASIA


__ADS_3

Maria tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain menuruti perkataan ibunya, dengan wajah yang berlinang air mata, Maria berjalan menuju ke kamarnya.


Tekatnya untuk menemukan ayah dan kakaknya malah semakin kuat, dia berencana untuk pergi diam-diam dari rumah pada esok subuh, dengan tujuan untuk mencari kedua orang yang sangat ia cintai.


Keesokan harinya, ia benar-benar melakukan apa yang ia rencanakan semalam. Sekitar pukul 04.52 subuh, Maria kabur dari rumah menuju ke puncak gunung. Tanpa rasa takut, ia melewati pepohonan yang menjulang tinggi ke atas, cahaya bahkan tidak dapat menembus masuk akibat daun pohon yang begitu lebat.


Dia terus melangkah dan berteriak memanggil ayah dan saudaranya. Tak sadar, ia akhirnya telah sampai ke puncak gunung, pemandangan yang menunjukkan matahari terbit sangatlah terlihat jelas dari atas sana. Dia termenung sebentar, hingga akhirnya ia kembali tersadar dan melanjutkan pencarian nya.


"Ayah!!, kakak!!" Panggilannya terus menerus tanpa henti.


Tidak ada sama sekali respon dari siapapun, hanya suara dedaunan yang tertiup angin yang terus terdengar di setiap saat. Cuaca menjadi mendung, menandakan bahwa hujan akan turun, namun sampai sekarang ia masih belum menemukan petunjuk apapun.


Maria sampai rela mengitari daerah puncak sebanyak tiga kali, namun masih tetap saja tidak menemukan apapun. Dia berjalan kembali menuju ke puncak bukit, karena dia masih belum memeriksa beberapa tempat yang ada di sekitar puncak.


Saat sampai ke atas, matanya langsung tertuju ke batu besar yang ada di samping pohon yang ada di tempat itu. Dia perlahan-lahan melangkah kan kakinya menuju ke tempat batu itu, dia sedikit tercengang dan merasa khawatir, lantaran di atas batu itu berceceran darah yang masih terlihat segar.


Melihat itu, dia langsung teringat dengan kakak dan ayahnya. Dengan cepat ia memeriksa di sekitar semak-semak di daerah yang tak jauh dari tempat batu besar tersebut. Angin yang bertiup kencang, membuat ia mencium sesuatu yang berbau amis. Dia berjalan semakin mendekat ke arah bau itu berasal, perlahan-lahan ia membuka semak-semak yang ada di hadapannya.


Dan yang ia lihat adalah sebuah tumpukan tanah berbentuk seperti kuburan, wajahnya sedikit memucat, keringatnya bercucuran. Rasa sesak di dadanya membuat Maria memutuskan untuk menggali tumpukan tanah tersebut.


Rintihan hujan mulai turun, namun ia masih berusaha untuk menggali menggunakan tangannya. Gali, terus menggali, hanya itu yang ada di pikirannya. Galian nya sudah lumayan dalam, hingga akhirnya ia menemukan sebuah rambut yang panjang. Dia membulatkan matanya, dan menarik rambut tersebut.


Tubuhnya bergetar, dia melemparkan sesuatu yang tadi ia tarik. Dia tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat saat itu, namun percuma saja tidak mempercayai sesuatu yang sudah sangat jelas ia lihat di depan matanya.


Apa yang barusan ia tarik, adalah kepala milik kakaknya. Dia menangis sambil menjambak rambutnya, dan kembali melirik ke arah kepala yang tadi ia lempar.

__ADS_1


Badannya semakin lemas ketika ia melihat tubuh ayahnya yang tergeletak tak bernyawa di dekat kepala kakaknya. Kecurigaan nya terhadap warga dan ibunya semakin besar, Maria menganggap bahwa warga menjadikan kakaknya sebagai persembahan, sedangkan ayahnya kemungkinan besar mati karena ingin melindungi kakaknya.


* * * *


"Alia?" Panggil Fitri, membuat Alia kaget. "Sekarang udah giliran kamu mandi loh" Ucap Fitri memberitahu Alia.


"Ah, iya. Kamu udah mandi?" Tanya Alia.


"Belum, aku mau makan dulu." Jawab Fitri.


"O-oh, yaudah, kalau gitu aku pergi mandi dulu yah" Pamit Alia.


Alia pergi meninggalkan Fitri, setelah menyembunyikan buku yang tadi ia baca di dalam tasnya. Dia berjalan dengan tatapan kosong, di pikirannya hanya ada berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran dari buku yang tadi ia baca.


Dia ingin tau apakah cerita itu memang benar atau tidak, jika itu benar, berarti upacara adat yang sedang berlangsung di desa, di gelar untuk memberikan persembahan kepada roh kepercayaan masyarakat di desa turi.


Alia belum membaca seluruh halaman yang ada di buku itu, jadi masih belum dapat ia pastikan kalau desa ini selalu mengorbankan wanita untuk dijadikan persembahan atau tumbal untuk roh pelindung.


Secepatnya Alia harus mengetahui semuanya, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Setelah semuanya telah siap, mereka pun akhirnya menuju ke desa, kecuali Dirga dan Jamal. Entah mengapa mereka berdua ingin lanjut memperbaiki mobil, padahal mereka pernah berkata bahwa mobil akan mereka perbaiki setelah upacara adat selesai.


Saat di tanya, mereka hanya menjawab bahwa jika mobilnya di perbaiki hari ini, besar kemungkinan akan selesai hari ini juga, dan mereka pun bisa langsung pulang malam harinya.


Keputusan mereka memang benar, namun Ulan dan Alia ingin mereka kembali ke desa sebelum warga pergi menuju ke puncak untuk membawa persembahan. Dirga dan Jamal mengiyakan ucapan Alia dan Ulan, setelah itu mereka pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing.

__ADS_1


Di perjalanan menuju ke desa, seperti kemarin mereka bertemu dengan anak-anak panti dan pengurus panti yang ingin pergi ke balai desa juga. Kaila juga ikut bersama mereka, tidak seperti kemarin yang katanya tidak ingin ikut.


Semuanya berbincang-bincang dan tertawa bersama. Setelah tiba di desa, anak-anak dari panti langsung berlarian dan bermain bersama anak-anak yang lainnya. Alia, Ulan, Fitri,serta ibu pengurus panti pergi ke tempat ibu-ibu berkumpul, sedangkan Awal dan Budi ikut bersama bapak-bapak yang tengah mempersiapkan alat untuk memotong rusa yang kemarin.


* * * *


Ibu-ibu lainnya tengah mempersiapkan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan untuk memasak rusa yang sudah di potong nanti. Tidak banyak yang perlu dilakukan hari ini, karena semuanya telah diselesaikan kemarin, pekerjaan hari ini hanyalah memasak daging rusa.


Kepala dan darah rusa yang telah di potong, di pisahkan sebagai persembahan nantinya, sedangkan dagingnya di bersihkan dan di masak sebagai hidangan untuk hari ini.


Walaupun Alia sudah tau tentang apa yang akan di serahkan, namun Alia merasa sedikit gelisah akibatnya cerita yang ada di buku milik anak bu Ningsih.


Alia yang tengah duduk bersama Ulan dan Fitri di tempat duduk yang terbuat dari rotan, dihampiri oleh Kaila yang terlihat pucat. Melihat itu, mereka bertiga langsung mendekati Kaila dan bertanya apakah Kaila sedang sakit.


Kaila tidak menjawab apapun, dan memeluk Alia. Dengan hati-hati Alia menggendong Kaila dan pergi memberitahu Bu Wati pengurus panti. Kaila yang tengah di gendong, berbisik kepada Alia tentang buku yang kemarin mereka ambil.


Alia membalasnya dengan nada yang sedikit rendah, bahwa dia telah membaca sebagian dari buku itu. Kaila sekali lagi berbisik menyuruh Alia untuk segera membaca seluruh halaman dari buku tersebut, dan jika Alia telah mengerti cerita yang ada di buku itu, Alia dan teman-temannya harus mencari cara untuk keluar dari desa sebelum malam tiba.


Kaila juga berkata bahwa apa yang ada di buku itu, adalah cerita asli tanpa rekayasa. Dan apa yang dilakukan penduduk desa sekarang ini, hanyalah kebohongan yang bertujuan untuk menipu semuanya untuk mencari tumbal.


Alia terkejut, dan menurunkan Kaila.


"Alia, ko kamu nurunin Kaila sih?" Tanya Ulan namun tidak di hiraukan orang Alia.


"Kenapa kamu menganggap bahwa isi buku itu adalah cerita yang nyata?" Tanya Alia serius.

__ADS_1


Kaila melihat sekelilingnya, dan menyadari bahwa semua warga yang ada di tempat itu tengah memandangi nya dengan tatapan mata yang tajam.


__ADS_2