
Rintihan hujan mulai turun, membuat jalan semakin licin. Jamal berhenti sebentar di sebuah pohon yang lebih besar dari pohon lainnya. Dia merasa sangat lelah karena terus berlari hingga berjam-jam, hanya untuk menghindari sosok-sosok yang mengejar mereka tadi.
Ia merundukkan kepalanya, tatapannya kosong begitu pula dengan pikirannya yang sudah sangat berantakan. Belum lama ia beristirahat, tiba-tiba saja sebuah parang melayang mengenai pohon yang ia sandari. Dia kembali tersadar dan dengan cepat bangkit dari tempatnya.
Dengan cepat Jamal menarik parang yang ada di belakangnya, dan menjadikannya sebagai senjata untuk melawan sosok-sosok yang mengepungngi nya.
"Chi.., ko gua bodoh banget, udah tau kalau yang ngejar bukan manusia, tapi malah kabur dan bersembunyi" Ucap Jamal menyengir. "Nah, sekarang ayo maju sini brengsek" Pancing Jamal, sambil menggerakkan parang yang ia pegang.
Sosok-sosok itu tidak bergerak sama sekali, dan akhirnya menghilang begitu saja. Jamal menghembuskan nafas lega, tangannya bergetar begitu hebat karena tadi ia mengira akan benar-benar memotong-motong sosok tadi.
Jamal yang tadinya sudah merasa lega, tiba-tiba saja terpikirkan dengan kondisi tema-tema nya yang lain. Dengan cepat ia bergerak menuju ke desa melalui rute lain. Saat mendaki ke atas, Jamal sempat beberapa kali terjatuh karena kondisi tanah yang sangat licin.
Hujan yang semakin deras, serta suasana yang sangat gelap, hampir saja menyesatkan Jamal ke jalur lain. Namun untung saja Jamal dapat menemukan letak desa, karena disinari oleh cahaya bulan purnama.
Saat sampai di atas sana, Jamal nampaknya sudah tidak terkejut lagi, karena ia sudah melihat keadaan desa yang hancur parah sebelumnya. Jamal melangkah mengitari desa, namun tak dapat menemukan satupun tema-tema nya.
Setelah mengingat-ingat kembali, Jamal pun akhirnya tau harus mencari kemana. Ia menatap ke arah puncak, dan bergegas ke atas sana. Sosok-sosok yang berada di desa, sama sekali tidak mengikuti Jamal. Itu membuat Jamal kebingungan, dan merasa ada yang aneh dari mereka. Sama seperti di hutan tadi, semua sosok itu langsung menghilang begitu saja.
Cahaya bulan membantu menuntun Jamal, Jamal terhenti di tengah jalan saat melihat Alia sedang berlari kearahnya dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
-Sebelumnya-
Awal,Fitri,dan warga lain akhirnya tiba di puncak gunung. Mereka meletakkan semua barang yang ia bawa ke samping baru besar yang ada di dekat pohon. Semua warga yang ikut pun duduk bersila mengelilingi batu tersebut. Fitri dan Awal hanya menyaksikan apa yang dilakukan oleh warga.
"Jadi ini alasan warga memilih melakukan upacara adat pada malam hari" Bisik Fitri menatap ke arah bulan.
"Yah, walaupun obor mati karena hujan, namun masih ada bulan yang membantu untuk menyinari." Balas Awal sambil merekam.
Setelah berdoa, para warga pun berdiri dan terdiam beberapa saat. Fitri dan Awal masih menganggap itu bagian dari ritual upacara adat, dan masih bersikap biasa saja.
Namun tiba-tiba saja empat orang warga tersebut berjalan menghampiri mereka berdua, tangan Fitri dan Awal mereka pegang erat-erat. Itu membuat Awal kesal dan bertanya apa maksud mereka menahan nya dan Fitri.
"Tumbal" Saut Bu Ningsih. "Kebaikan kami kepada kalian tentu harus di balas, dan balasan yang harus kalian berikan adalah tumbal" Ucap Bu Ningsih sekali lagi.
"Ibu bercanda kan?" Tanya Fitri ketakutan.
"Iya benar!, ibu pasti bercanda haha" Saut Awal gelisah.
"Tidak mungkin kami bercanda di depan roh pelindung" Jawab seorang kakek-kakek yang merupakan dukun di desa itu.
Kakek itu entah datang dari mana, namun kedatangan nya membuat Fitri dan Awal semakin ketakutan. Awal berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman warga, begitupun dengan Fitri.
"Pak, bu Ningsih tolong lepasin kami, kami gak ngelakuin kesalahan apapun, tapi kenapa kami yang harus menerima perlakuan seperti ini" Ucap Fitri memohon. "Oiya, Bu Susi pernah berkata bahwa yang di tumbalkan adalah wanita cantik kan, kalau begitu aku apalagi Awal tidak mungkin untuk menjadi tumbal kan" Sambung Fitri semakin panik.
"Siapa juga yang ingin menumbalkan laki-laki, dan siapa yang berkata bahwa kau tidak cantik, tapi Alia memang lebih cocok di jadikan tumbal di bandingkan kamu. Namun ada roh lain yang selalu menganggu kami untuk merebut Alia (yang dimaksud adalah Kaila dan tiga wanita yang telah dijadikan tumbal) " Balas Bu Ningsih terus terang.
"Haha, jumlah kalian kan banyak, lantas mengapa kalian tidak melawan roh yang melawan kalian?!" Kesal Fitri.
"Tenang Fitri!" Gertak Awal.
"Hah?, diam?. Kamu menyuruh ku diam di saat aku ingin di tumbalkan dengan mereka!" Saut Fitri tidak terima. "Dan apa maksud ibu dengan roh?, apakah kalian semua dapat melihat hal seperti itu?, haha jangan ngaco kalian!!" Tanya Fitri yang sudah sangat marah.
__ADS_1
"Kami dapat melihat roh katamu?. Tentu saja, karena kami juga adalah roh" Jawab Bu Ningsih.
Fitri dan Awal tentu saja semakin melawan sangking takutnya. Namun perlawanan mereka percuma saja, Awal yang tidak ingin diam di paksa diam oleh mereka, dengan cara menusuk perutnya. Fitri berteriak sangking takut dan terkejutnya, badannya menjadi lemas, dan akhirnya ambruk.
Dua warga yang menahannya tadi, langsung menari tubuh Fitri dan membaringkan nya di atas batu besar yang mereka sembah. Dukun itu mengeluarkan krisnya dan memegang kulit leher Fitri. Perlahan-lahan ia meletakkan krisnya itu ke leher Fitri, lalu menggerakkannya ke kiri dan kekanan, hingga sebuah cairan kental berwarna merah keluar.
Pemandangan itu dilihat langsung oleh Alia yang baru saja sampai. Tubuhnya mematung, bulu kuduk nya merinding, dan nafasnya menjadi sangat berat. Ia tertekuk di atas tanah, dan melihat tubuh Awal yang sudah tergeletak masih dalam keadaan setengah sadar.
"A-Alia lari" Saut Awal berusaha berbicara.
"Awal, kamu udah bisa lihat aku?" Kaget Alia sambil meneteskan air mata yang deras.
"Apa maksud mu, ohok" Ucap Awal sampai darah keluar dari mulutnya.
"Awal plis jangan bicara dulu,bertahanlah, a-aku akan mencari bantuan!" Panik Alia.
"Bantuan di keadaan yang seperti ini?, semuanya tidak berpihak pada kita Alia." Saut Awal. "Kumohon pergilah dan berjanjilah kepadaku untuk keluar dari desa ini dalam keadaan baik. Cepat lari, apakah kau tidak melihat mata mereka yang sedang memperhatikan mu, mereka semua berniat untuk menjadikan mu juga tumbal" Lanjut Awal berusaha untuk berbicara lebih banyak.
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya Awal menghembuskan nafas terakhirnya. Alia menangis tersedu-sedu menyaksikan kematian temannya. Sekarang ini tidak ada pilihan lain selain keluar dari desa ini seperti janjinya kepada Awal, sebelum Awal pergi untuk selama-lamanya.
Semua warga berubah menjadi sosok aslinya, dan berusaha untuk menangkap Alia. Alia berlari menuruni gunung sekuat tenaga, lututnya sampai mengeluarkan darah lebih banyak dari tadi. Walaupun begitu, ia sama sekali tidak menyerah dan terus berlari.
Alia tau bahwa berlari dan bersembunyi bukanlah pilihan yang terbaik, namun ia tidak dapat berbuat apapun lagi selain dengan cara itu. Sekali lagi ia terjatuh hingga membuat seluruh pakaiannya kotor, dia berusaha untuk bangkit lagi, dan berlari lagi.
Hingga akhirnya ia melihat Jamal yang sedang berlari menuju ke arahnya juga. Mereka akhirnya bertemu dan berpelukan, Alia melepaskan semua kesedihannya. Melihat keadaan Alia seperti itu, Awal pun berusaha untuk tetap tegar. Karena ia tau, jika ia ikut bersedih maka itu hanya akan menambah kesedihan Alia.
Mereka berdua melepaskan pelukannya, dan saling bertatapan di bawah derasnya hujan.
"Alia kuatkan dirimu, aku tidak tau hal seperti apa yang baru saja kau lihat, namun untuk saat ini kita harus keluar dari desa turi" Ucap Jamal berusaha menenangkan Alia.
"Baiklah kalau begitu, apakah kamu masih kuat untuk berlari?" Tanya Jamal.
Alia menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya, yang berarti iya. Mereka pun berpegangan tangan, dan lari bersama.
"Jangan takut Alia, mereka tidak akan mengejar mu karena ada aku bersama mu" Teriak Jamal berusaha menenangkan pikiran Alia.
"Kalau begitu, sekarang kita akan kemana?" Tanya Alia sambil berbalik sesekali ke belakang.
"Kita akan pulang bagaimanapun caranya, mobil juga sudah selesai diperbaiki, jadi kita dapat pergi dari sini" Jawab Jamal.
"Lalu bagaimana dengan Ulan, Budi, dan Dirga? " Tanya Alia khawatir.
Jamal menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arah Alia. Budi mengatakan bahwa Dirga jatuh kejurang, dan kemungkinan besar telah mati, sedangkan Budi sempat ia temukan di dalam hutan dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Jamal sebenarnya tidak ingin mengatakannya ke Alia, namun Alia pasti tidak akan ingin pergi dari sini sebelum menemukan yang lainnya.
"Lalu dimana Ulan" Tanya Alia dengan nada rendah, sambil menunduk.
"Aku juga tidak tau" Jawab Jamal.
"Kalau begitu ayo kita cari Ulan dulu!" Gertak Alia khawatir.
__ADS_1
"Alia, tolong berhenti memikirkan yang lain saat ini, kita anggap Ulan juga sudah mereka bunuh. Jadi ayo pergi Alia" Bujuk Jamal.
"Apa maksud mu?!" Kesal Alia. "Bisa saja Ulan masih baik-baik saja!" Ucap Alia menyimpulkan.
"Baik-baik dalam keadaan seperti ini?, jangan bercanda Alia, sekarang ini kita harus khawatir kepada diri kita sendiri. Kalau Ulan memang masih hidup, dia akan mencari cara sendiri untuk keluar dari tempat ini, lagipula dia tau cara nyetir dan masih ada satu mobil yang dapat ia gunakan untuk kabur" Balas Jamal berusaha untuk tetap sabar.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Jamal, Jamal yang akhirnya sudah tidak dapat bersabar lagi pun memutuskan untuk membuat Alia pingsan. Ia meminta maaf kepada Alia terlebih dahulu, dan akhirnya memukul bagian leher belakang Alia hingga pingsan.
* * * *
Saat Alia bangun, Alia pun sadar bahwa sekarang sedang berada di dalam mobil.
"Jamal?, kamu bikin aku pingsan yah!?" Tanya Alia sedikit kesal.
"Maaf Alia, aku gaada cara lain, di satu sisi aku juga sudah tidak dapat berfikir dengan baik lagi.Aku harap kau mengerti keputusan ku" Jawab Jamal berterus terang.
"Seharusnya aku yang meminta maaf, karena sudah terlalu egois" Balas Alia. "Kita udah jalan yah?" Tanya Alia yang terbaring di kursi belakang.
Saat ini tubuh Alia benar-benar sangat lelah, bahkan sampai sulit untuk di gerakkan.
"Kita belum jalan, kita masih stay di sini" Jawab Jamal. "Aku sedikit sulit memutuskan pilihan ku, apakah aku harus jalan dan menabrak mereka semua, atau terus seperti ini" Ucap Jamal melihat ke arah depan yang penuh dengan tubuh warga yang telah menjadi roh/setan.
"Kali ini, aku akan memilih untuk menabrak mereka semua. Entah mengapa aku seakan dendam kepada mereka semua, aku tau ini salah, tapi hati ini tidak dapat berbohong" Ucap Alia.
"Terimakasih telah jujur, kalau begitu aku akan memilih apa yang telah kamu pilih" Saut Jamal tersenyum.
Jamal menyalahkan mobil, dan langsung tancap gas hingga menabrak sosok-sosok yang menghalangi jalan. Di saat mobil telah berhasil melewati mereka semua, Alia memaksa tubuhnya untuk bangun dan melihat ke arah belakang.
Dia begitu tercengang melihat Dirga sedang berdiri dalam keadaan penuh darah di depan para sosok-sosok tersebut. Alia ingin memberitahu Jamal, namun ia tak mampu. Saat ia kembali melirik ke arah belakang, tiba-tiba saja semuanya menghilang.
"Ada apa Alia?" Tanya Jamal.
"Gak, gak kenapa-napa ko" Jawab Alia dengan senyuman yang ia buat-buat.
Mobil terus melaju, hingga akhirnya berhasil keluar dari jalur yang ia pilih sebelumnya. Mereka kembali melewati jalan yang menuntunnya hingga sampai ke jalur bercabang tersebut.
Hujan perlahan-lahan berhenti turun, kabut pun mulai kembali menutupi jalan. Jamal menyetir dengan penuh hati-hati, dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu lagi jika ia menyetir dengan cepat.
Keadaan nya saat ini sama dengan keadaan Alia, dia terlalu lelah dan sangat mengantuk. Pepohonan mulai terlihat sedikit, menandakan bahwa mereka akan sampai ke jalan kota sebentar lagi.
Saat sampai di jalan kota, Jamal akhirnya bernafas lega, sekaligus mengeluarkan air mata yang sedaritadi ia tahan. Walaupun sudah sampai di tempat yang ramai, itu tidak membuatnya kehilangan rasa lelah dan ngantuk.
Perlahan-lahan ia berbalik melihat ke arah Alia. Saat ini Alia tengah tertidur pulas, Jamal tersenyum ke arah Alia dan merasa bahwa penglihatannya mulai sedikit kabur.
"Maaf Alia" Gumamnya meminta maaf kepada Alia karena ia tau bahwa dirinya telah kehabisan tenaga, dan mungkin saja akan menyebabkan kecelakaan.
Dugaan Jamal sangatlah benar, ia kehilangan kesadaran di saat tengah berkendara, awalnya ia akan berhenti sebelum itu terjadi, namun ia tidak sempat.
Mobil yang mereka bawa pun hilang kendali dan melaju ke depan sebuah truk pengangkut gerbong.
__ADS_1
Duar...
Mobil mereka pun tertabrak, untung saja sopir yang membawa truk pengangkut gerbong itu menyadari akan terjadi kejadian seperti itu. Jadi ia secepat mungkin melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak tabrakan yang cukup parah.