
Dirga memutar balik mobilnya dan melaju menuju ke tempat yang ia katakan tadi.
Disepanjang jalan kami hanya bisa melihat pepohonan yang menjulang tinggi keatas, bahkan pepohonan itu sampai menutupi cahaya matahari. Jalan yang begitu luas dan memanjang kedepan terasa sangat sepi dan gelap, kami ber enam hanya berusaha menghidupkan suasana agar tidak menjadi tegang dengan cara bernyanyi.
"Terluka dan menangis, tapi ku terima semua keputusan yang telah kau buat satu yang harus kamu tahu ku menanti kau 'tuk kembali.........."
"HO.........UWO........HUWOoooo!!! Ohok ohok" Teriak Awal melanjutkan lagunya sampai batuk.
"Hahaha" Semuanya tertawa sampai lupa akan rasa tegang tadi.
"Ahaha, puas banget gua ketawa" Ucap Ulan sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
"Tega banget lu Lan, kasih gua minum kek" Balas Awal memegang tenggorokannya.
"Nih Awal, makanya kalau nyanyi tu gausah sampai teriak teriak gitu" Ucap Ali memberikan Awal minum.
"Makasih Alia" Balas Awal mengambil air yang diberikan Alia kepadanya.
"Pantat gua udah sakit inih, kita kapan sampainya sih Dirga? " Tanya Budi.
Tiba-tiba saja Dirga langsung menginjak rem mobilnya yang membuat kami semua terjungkal kedepan.
"Innalillahi!!, lu kenapa sih Dir. Gua kan cuma nanya, ko malah marah sampai tiba-tiba ngerem mendadak. Kita semua kan jadi nabrak benda di depan kita." Kesal Budi.
"Siapa yang marah!, gua ngerem karna hampir nabrak orang tau!!" Ucap Dirga panik
"Ah yang bener lu. Buruan keluar ngecek keadaan orang nya bro" Ucap Budi ikut panik dan kami semua pun keluar dari dalam mobil menuju ke depan.
"Ibu apa-apa sih, kenapa nyebrang pas ada mobil coba. Kalau Ibu kenapa-napa gimana?,kan saya juga yang repot, apalagi Ibu kelihatannya lagi hamil!!" Gertak Dirga menyalahkan orang yang hampir saja dia tabrak.
"Dirga!! lu apa-apa sih, seharusnya lu minta maaf sama ibunya. Bisa saja ibunya ga lihat ada mobil yang melintas, buruan minta maaf" Ucap Alia kesal sambil membantu Ibu itu untuk berdiri.
"Gamungkin ga lihat, kan gua udah nyalain lampu depan mob-" Balas Dirga.
"Udah gausah ngelawan, buruan minta maaf!!" Saut Ulan memotong perkataan Dirga.
"Iya deh iya. Maaf Bu, karena panik jadinya aku bicara seenaknya tanpa memikirkannya dulu. Ibu gapapa kan?, sini saya antar pulang bu" Ucap Dirga.
__ADS_1
"Nah gitu dong Dir, oiya emang di sekitar sini ada desa?" Tanya Jamal sambil melihat ke sekeliling.
"Iya juga yah?, di maps kan gaada tanda desa" Ucap Awal kebingungan.
"Di sini memang tidak ada desa, tapi rumah saya ada di depan sana. Saya tadi dari cari kayu untuk dipakai memasak nanti" Ucap Ibu hamil itu.
"Kenapa harus Ibu yang cari kayu bakar?, Ibu kan lagi dalam keadaan hamil, itu gabaik buat kesehatan Ibu nanti. Maaf bu, tapi kalau boleh tau suami ibu kemana?" Ucap Alia khawatir.
"Iya nih, massa istri lagi hamil malah dibiarin cari kayu bakar sendiri. Dihutan pula, kalau ada hewan buas gimana? " Kesal Ulan.
"Suami Ibu ada ko, tapi sekarang dia lagi cari uang buat kebutuhan saya sama anak nanti." Balas Ibu itu tersenyum.
"Lu percaya kalau suaminya beneran pergi cari uang dikota, bukankah Ibu ini malah kelihatan seperti ditinggalkan begitu saja." Bisik Awal
"Hust....tu mulut bisa diem gak sih?" Bentak Jamal ke Awal.
"Ya maaf"
Akhirnya kami semua memutuskan untuk mengantar Ibu itu pulang, dan membantunya membawakan kayu bakar yang telah dia kumpulkan. Sesampainya di rumah Ibu itu, kami semua begitu kaget dengan kondisi rumahnya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berpamitan dulu kepada Ibu itu sekaligus memberikan beberapa makanan yang kami bawa kepadanya.
"Bu, maaf yah karena tidak bisa membantu banyak" Ucap Jamal tersenyum merasa bersalah.
"Tidak apa-apa nak, kalian membantu Ibu sampai sejauh ini membuat Ibu sudah sangan bersyukur. Oiya nak, kalau boleh tau kalian ingin kemana?" Tanya Ibu hamil itu.
"Kami niatnya ingin ke pantai Tanjung bu, tapi jalan utama menuju kesana sedang ditutup karena ada kecelakaan tadi pagi. Itulah kenapa kita terpaksa melewati jalan ini" Jawab Budi
"Maaf mengatakan ini disaat kalian sudah dekat dari tujuan, tapi lebih baik kalian putar balik dan berangkat saja keesokan harinya" Ucap Ibu itu memberi tahu kami untuk tidak melanjutkan perjalanan.
"Emangnya kenapa bu? Jalanan di depan ada masalah juga yah? " Tanya Alia
"Bukan begitu. Tapi jika kalian melanjutkan perjalanan, Ibu takut kalian kenapa-napa. Apalagi sekarang sudah hampir malam, dan jalanan di daerah ini setiap malamnya selalu dipenuhi dengan kabut tebal. Bukankan berbahaya mengemudi di saat seperti itu? ,apalagi ini kan daerah pegunungan yang banyak jurang nya" Jawab Ibu itu khawatir.
"Maaf Bu kami tidak bisa berhenti di tengah-tengah perjalanan begitu saja, kami memutuskan untuk tetap pergi hari ini. Lagipula aku juga sangat mahir dalam mengemudi, jadi jalan pegunungan seperti ini hanyalah hal kecil bagiku. Jika memang nantinya kabut mulai menebal, maka kami akan menunggu sampai kabut nya hilang" Balas Dirga keras kepala.
"Baiklah jika memang itu adalah pilihan kalian, Ibu sudah memperingatkan kalian jadi jangan sampai menyesal di akhir." Ucap Ibu itu mengingatkan.
__ADS_1
"Iya bu, kalau begitu kami pergi dulu." Ucap Dirga "kami permisi bu" Ucap kami semua berpamitan kepada Ibu itu
"Iya nak,hati-hati yah" Balasnya dengan tatapan khawatir.
Kami semua memasuki mobil dan langsung melanjutkan perjalanan tanpa sedikitpun menoleh ke arah belakang lagi. Kami melintasi jalan dengan bantuan cahaya dari lampu mobil,karena cahaya matahari tidak dapat menembus pohon-pohon disekitar jalan.
Waktu terus berlalu, kami berhenti sejenak untuk makan. Setelah makan, kami kembali lagi melanjutkan perjalanan sampai akhirnya kami bertemu lagi dengan seseorang. Dari jauh kami melihatnya seperti sedang dalam kesulitan.
"Dirga, cewe di depan sana kayaknya lagi kesulitan deh." Ucap Ulan
"Kurasa begitu, ayo kita dekati dan tanyakan apa masalahnya" Balas Dirga mendekatkan mobilnya kearah wanita itu.
Saat sampai di dekatnya, dia terlihat seperti ketakutan. Mungkin dia mengira kita orang jahat jadi dia terus mundur sambil mengepalkan tangannya. Karena tidak ingin membuatnya semakin takut, kami pun menurunkan kaca mobil dan menyapanya.
"Permisi, Hai. Apakah kamu butuh bantuan?" Tanya Ulan sambil tersenyum ramah.
"I-ya. Mesin mobil ku rusak, sedangkan aku tidak tau cara memperbaikinya. Oiya kalian siapa?, dan kalian ingin kemana?" Tanya wanita itu.
"Bukankah lebih baik memberitahukan nama kita terlebih dahulu sebelum menanyakan nama orang lain? " Jawab Awal.
"Ma-maaf, perkenalkan nama ku Fitri Irmala. Salah satu mahasiswa universitas U." Balas wanita itu.
"Wah kebetulan banget, kami juga mantan mahasiswa di Universitas itu. Kenalin nama ku Alia, di samping kanan ku namanya Ulan, terus di sampingnya lagi ada Jamal. Di belakang ku namanya Budi,di depan ku ada Dirga,dan yang terakhir namanya Awal. " Ucap Alia memperkenalkan dirinya dan kawan-kawannya.
"Sa-salam kenal" Balas Fitri .
"Bicaranya santai saja, gausah kaku. Boleh aku lihat dulu mesinnya?" Tanya Jamal keluar dari dalam mobil,kami semua juga ikut keluar menemani Jamal dan Fitri.
"Boleh, silahkan" Jawab Fitri.
"Hebat juga kamu Fitri. Padahal disini gelap, tapi kamu keliatan tetap tenang gitu" Saut Awal.
"Aku takut ko, tapi aku berusaha untuk tetap tenang" Balas Fitri berusaha menutup rasa takutnya.
"Bodoh lu Wal, mana ada orang yang gatakut sendiri di tempat yang kayak gini" Saut Ulan.
"Yah gua kirain dia berani" Balas Awal sambil memanyungkan mulutnya.
__ADS_1