
Kembali ke balai desa, Budi dan Awal tengah mengumpulkan daging yang sudah di potong ke dalam baskom. Fitri juga membantu, karena dia di minta untuk mengambil sisa daging yang ingin di bersihkan ke tempat mereka mencuci daging.
Disaat Fitri ingin mengangkat baskom tersebut, tangan Fitri dan Awal secara bersamaan memegang baskom. Mereka pun kaget, dan berpandangan satu sama lain selama beberapa menit. Budi yang berada di tengah situasi seperti itu, langsung memberikan kode dengan pura-pura batuk.
Mendengar kode Budi, akhirnya Awal dan Fitri pun melepaskan tangan mereka yang tidak sengaja berpegangan.
"Ah, maaf" Ucap Fitri.
"Ti-tidak apa-apa, da-daging nya biar aku aja yang angkat" Jawab Awal.
"Ti-tidak perlu, biar aku aja" Balas Fitri.
"Gapapa kali Fit, baskom nya berat loh, jadi biarkan Awal yang membawanya. Kamu bawa yang ini saja" Saut Budi sambil memberikan baskom berisi pisau bekas memotong daging.
"Baiklah kalau begitu" Ucap Fitri mengambil baskom tersebut.
Mereka berdua pun membawa baskom tersebut menuju ke tempat pencucian. Sepanjang jalan, Fitri dan Awal sama sekali tidak saling berbicara, ekspresi wajah mereka seakan sedang malu-malu.
"Diperhatikan lagi, ternyata Fitri cantik juga" Batin Awal.
"Kenapa rasanya sedikit canggung yah?" Pikir Fitri.
"Anu!" Ucap Fitri dan Awal bersamaan.
Mereka berhenti, dan saling bertatapan lagi, setelah itu mereka pun dengan cepat memalingkan pandangan mereka.
"Kamu aja duluan" Ucap Awal mempersilahkan.
"Kamu aja" Balas Fitri.
"Gak, kita harus mempersilahkan perempuan untuk berbicara terlebih dahulu" Jawab Awal.
"Woy!" Pekik Ulan melihat mereka berdua. "Ngapain stop disitu, tempat nyuci dagingnya tuh disini, bukan disitu!" Beritahu Ulan.
__ADS_1
"Yeeee, sabar napa!" Saut Awal. "Tadi kamu mau ngomong apa Fitri?" Tanya Awal.
"Bu-bukan apa-apa" Jawab Fitri. "Kamu juga tadinya ingin ngomong apa?" Tanya balik Fitri.
"Bu-bukan apa-apa juga ko" Jawab Awal ragu-ragu.
"Nih bocah pada budeg apa yah!!!, buruan sini dagingnya!!" Pekik Ulan.
"Sabar ih" Jawab Awal.
"Ah, ayo bawa dagingnya, ntar masakannya malah gak jadi sebelum malam" Saut Fitri.
"Iya" Balas Awal.
* * * *
Sore hari pun telah tiba, Alia dan lainnya tengah duduk bersama di samping pohon yang letaknya sedikit jauh dari tempat warga berkumpul. Mereka sedang menunggu kedatangan Jamal dan Dirga yang tengah memperbaiki mobil di bawah sana.
Alia pun menjawab dengan berkata, bahwa mereka berdua pasti sedang menuju ke sini, jadi semuanya harus tetap sabar menunggu. Budi yang tidak sabaran, akhirnya meminta izin untuk menemui Jamal dan Dirga di bawah sana.
Semuanya tanpa ragu mengiyakan ucapan Budi, dan membiarkannya pergi. Awalnya Awal ingin menemani Budi,namun Budi menolak. Karena sebentar lagi warga akan menuju ke puncak untuk membawa persembahan, dan Awal juga sudah setuju untuk ikut bersama para warga.
"Sekarang kita tinggal berempat, bagusnya ngapain yah. Mau bantu warga, tapi semua persiapan sudah selesai" Bingung Ulan.
"Oiya.Awal, Fitri lebih baik kalian pergi ke bu Ningsih sekarang, biar bu Ningsih tau kalau kalian yang akan ikut bersama mereka." Saran Alia.
"Yaudah, kalau begitu kita berdua pergi dulu yah" Pamit Awal. "Ayo Fitri" Ajak Awal.
"Ayo" Balas Fitri.
"Yah......, kita tinggal berdua deh" Keluh Ulan.
"Hhh, mau gimana la-" Ucap Alia.
__ADS_1
"Oiyaa, kamu bawa buku yang kamu baca semalam kan" Saut Ulan memotong ucapan Alia. "Coba sini aku lihat, kamu kayak nyembunyiin banget tuh buku" Ucap Ulan membuat Alia seketika terkejut.
"Eng-engga ko, cuma buku bi-" Jawab Alia gugup.
"Kalau cuma buku biasa, berarti aku bisa lihat dong" Saut Ulan membuat Alia terpaksa memperlihatkan buku yang ada di dalam tasnya.
Ulan dengan sigap merebutnya, dan membaca buku tersebut. Ulan bertanya dimana Alia menemukan buku ini, dan mengapa sampulnya mempunyai bercak darah. Alia tidak dapat berbohong lagi, dan memberitahukan Ulan semuanya.
Setelah Alia memberitahukan Ulan, tiba-tiba saja Ulan berteriak kesal. Untung saja Alia langsung menutup mulutnya agar Ulan tidak memancing tatapan para warga. Alia juga berkata bahwa cerita yang ada di dalam buku tersebut belum tentu benar, apalagi Alia juga belum membaca keseluruhan buku itu.
Ulan langsung mengusulkan kepada Alia untuk membaca halaman-halaman yang belum ia baca, agar semuanya jelas. Ulan juga meminta Alia untuk menemui Kaila, dan bertanya tentang kebenaran dari ucapannya.
Alia pun mendengarkan saran Ulan, dan membaca halaman buku yang belum pernah ia baca sama sekali.
Di buku itu tertulis, bahwa Maria yang tadinya duduk termenung memandangi Tubuh Ayahnya dan kepala Kakaknya, akhirnya berdiri. Dengan tatapan kosong, ia meraih rambut kakaknya yang penuh dengan darah dan tanah yang sudah mengering, dan membawanya pulang.
Sepanjang perjalanan, warga-warga hanya menatapnya tanpa ekspresi. Mereka semua mengikuti langkah Maria dari belakang hingga sampai ke halaman rumahnya.
Bu Ningsih yang sedang duduk santai di teras rumahnya, langsung tercengang melihat Maria dengan pakaian yang sudah sangat kotor, sambil memegang kepala kakaknya. Bu Ningsih mengira bahwa Maria masih berada di dalam kamarnya, namun ternyata dugaannya salah.
Bu Ningsih melangkah menuruni satu-persatu anak tangga, dan meraih pundak Maria. Maria perlahan-lahan menatap mata ibunya dan mendorongnya. Dengan air mata yang berlinang, Maria bertanya kepada Bu Ningsih tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ayah dan kakaknya berada di puncak gunung dalam keadaan tidak bernyawa, dan mengapa kepala kakaknya putus.
Mendengar ucapan Maria, Bu Ningsih pun menunduk tanpa ekspresi. Maria bertekuk sambil menangis histeris, hingga akhirnya dia pun tidak sadarkan diri. Saat Maria terbangun, dia menyadari bahwa sekarang dia berada di dalam kamarnya. Jendelanya tertutup rapat, dan pintunya pun ikut di kunci, Maria yang sangat terguncang akibat kenyataan barusan pun berusaha untuk keluar dari kamarnya, untuk bertanya kepada Bu Ningsih.
Dia sangat frustasi, dan ingin mendengar semua jawaban dari ibunya. Karena tidak di bukakan pintu sama sekali, akhirnya dia mengamuk dan memberantakan seisi kamar, dia meraih foto yang ada di dinding dan melemparnya. Kaca bekas pecahan bingkai, dia ambil dan dia gunakan untuk menyayat tangannya. Maria mengambil bingkai foto yang berada di samping bingkai yang ia lempar tadi.
Dia meletakkan foto tersebut di atas meja, dan meneteskan daranya ke atas bingkai tersebut. Entah karena apa, tiba-tiba saja kaca bingkai itu retak. Maria yang melihat itu, mengira bahwa mungkin saja kakaknya sedang berada di sampingnya.
Dia berteriak memanggil nama Dewi, dan berbicara banyak hal, seakan-akan Dewi sedang mendengarkan ucapannya. Maria berhenti berbicara ketika ibunya dengan nada halus memanggil namanya.
Dengan cepat ia berlari ke arah pintu, dan memukul-mukul nya. Dia meminta agar ibunya membukakan pintu dan memberitahu kebenarannya. Maria juga bertanya dimana kepala kakaknya yang tadi ia bawa.
Perlahan-lahan pintu terbuka, dan bu Ningsih pun masuk. Maria mundur dan menatap penuh harapan kepada ibunya, dia mengira bahwa bu Ningsih akan menceritakan semuanya. Namun ternyata perkiraan nya salah, bu Ningsih hanya mengantarkan makanan dan minuman ke dalam kamarnya, dan kembali mengunci pintu.
__ADS_1