Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 13 SOSOK BERMATA BESAR


__ADS_3

Setelah selesai sholat, Alia dan Fitri kembali menuju ke balai desa. Disana Ulan dan yang lainnya telah menunggu untuk pulang ke penginapan bersama-sama.


"Ayo pulang bro, mataharinya sudah mulai terbenam" Ajak Awal.


"Iya nih, sebagian warga juga udah pada balik" Balas Dirga.


"Sebaiknya kalian memang pulang sekarang, takutnya dijalan kalian malah ketemu hewan buas" Saut Bu Ningsih.


"Bu Ningsih,makasih ya bu udah memperbolehkan kami sholat di rumah ibu" Ucap Alia berterimakasih.


"Sama-sama nak" Balas bu Ningsih. "Oiya, ini ada beberapa sisa lauk yang tadi kita buat." Saut bu Ningsih, sambil memberikan rantang berisi lauk kepada kami.


"Makasih banyak loh bu" Balas Awal, menerima rantang yang diberikan bu Ningsih.


"Sama-sama nak, yaudah kalau begitu ibu pulang dulu yah" Ucap bu Ningsih berpamitan.


"Iya bu, sekali lagi makasih ya bu" Balas Ulan.


Karena balai desa sudah sedikit sepi, kami semua pun memutuskan untuk kembali. Sesampainya di rumah, kami secara bergiliran mandi karena toilet hanya ada satu.


Yang lainnya memutuskan untuk bermain kartu, sampai Dirga keluar dari toilet. Sedangkan Alia dan Fitri memutuskan untuk memasak nasi, dan memanaskan lauk yang tadi mereka terima.


"Jamal!" Panggil Alia.


"Iya!?" Jawab Jamal.


"Boleh tolong nyalain api untuk dipakai memasak gak!?" Minta tolong Alia.


"Iya bentar" Jawab Jamal.


Alat memasak yang digunakan, merupakan alat zaman dulu, yaitu kompor tanah liat. Walaupun sedikit sulit, tapi makanan yang di masak menggunakan alat ini memiliki ciri khas rasa tersendiri.


Setelah selesai membantu Alia dan Fitri menyalahkan api, Jamal pun kembali ke kamar untuk menggantung kelambu, karena tidak tahan dengan nyamuk yang terus mengganggu nya.


"Jamal kelihatan masih belum terbiasa berada di tempat seperti ini yah" Ucap Fitri.


"Ini memang kali pertama nya pergi di daerah pegunungan seperti ini sih." Balas Alia.


"Owh,tapi kamu ko kelihatannya biasa-biasa aja di tempat seperti ini?" Tanya Fitri.

__ADS_1


"Itu karena aku setiap tahunnya selalu pergi ke desa kelahiran ayah ku, yang letaknya juga di daerah pegunungan. Jadi hal seperti ini sudah biasa bagiku" Jawab Alia.


"Pasti desa tempat kelahiran ayah mu juga sangat indah" Ucap Fitri.


Bruk...


Dirga membuka pintu toilet kuat-kuat,dan berteriak memberitahu yang lainnya,bahwa dia telah selesai mandi.


"Astaghfirullah Dirga, buka pintunya pelan-pelan dong, nanti kalau pintunya rusak gimana?" Kesal Alia.


"Maaf Alia, gasengaja." Balas Dirga. "Awal mana?, sekarang kan gilirannya mandi" Tanya Dirga.


"Lagi main kartu di ruang tamu" Jawab Fitri.


"Owh ok" Balas Dirga.


* * * *


Setelah semuanya selesai mandi, semuanya pun memutuskan untuk makan bersama di ruang tamu seperti biasa, karena di dalam terlalu sempit untuk ditempati makan bersama.


Sambil makan, kami juga sambil bercanda sedikit. Namun di tengah-tengah waktu makan, tiba-tiba saja semua lampu mati, mungkin saja karena terjadi masalah pada pembangkit listrik tenaga air yang berada di sungai dekat desa.


Karena tidak memungkinkan untuk makan di keadaan lampu mati, jadi untuk sementara kami menunggu dulu, siapa tau lampunya akan segera kembali hidup.


"Jamal?, kamu masih di samping ku kan?" Tanya Alia sambil melangkah sedikit demi sedikit ke depan.


"Tenang Alia, aku masih berada di samping mu ko. Kalau begitu aku ke kamar sebentar yah buat ambil handphone, soalnya sedikit berbahaya kalau gaada pencahayaan. Kamu tetap tunggu disini yah, jangan kemana-mana." Jawab Jamal.


"Yaudah jangan lama-lama yah" Balas Alia.


Alia bersandar di tembok yang ada di sampingnya, dia sedikit termenung sambil mengingat buku yang tadi ia baca di rumah bu Ningsih.


Isi buku itu sedikit mengingatkan nya pada kata-kata yang di ucapkan oleh kaila tempo hari. Jamal yang kembali ke tempat Alia setelah mengambil handphone, sedikit bingung melihat Alia yang diam termenung.


Karena takut Alia kenapa-napa, Jamal pun mendekat dan memanggil nama Alia. Awalnya Alia sama sekali tidak merespon, hingga akhirnya Jamal sedikit mengeraskan suaranya.


"Alia!" Panggil Jamal dengan nada tinggi.


"Ah iya,apa?" Jawab Alia kebingungan.

__ADS_1


"Kamu daritadi di panggil tapi sama sekali gaada respon, aku sampai ngira kamu kesurupan tau gak" Balas Jamal.


Yang lainnya berlarian menuju ke tempat Alia dan Jamal, karena mengira mereka berdua kenapa-napa. Awal bertanya dengan ekspresi wajah khawatir kepada Jamal, tentang apa yang baru saja terjadi, dan mengapa Jamal berteriak sambil menyebut nama Alia.


Jamal menjawab, bahwa dia hanya memanggil nama Alia karena Alia sempat termenung cukup lama.


"Tapi Alia gak kenapa-napa kan?, mau istirahat dulu, mungkin saja kamu kecapean" Ucap Awal khawatir.


"Gapapa ko, aku tadi cuma mikirin beberapa hal yang gak terlalu penting" Jawab Alia beralasan.


"Beneran gapapa Alia?" Saut Ulan khawatir.


"Iya, beneran gapapa ko" Jawab Alia tersenyum.


Setelah mengetahui keadaan Alia, semuanya pun kembali ke ruang tamu, kecuali Awal yang katanya ingin ikut mengambil pelita bersama dengan Alia dan Jamal.


Sesampainya di dapur, Alia meminta Jamal menyodorkan cahaya handphone nya ke atas lemari yang letaknya tidak jauh dari toilet. Saat cahaya handphone tertuju ke atas lemari, mereka bertiga sedikit terkejut, karena tiba-tiba saja ada tikus yang terjatuh dari atas palfon.


Tikus yang baru saja jatuh, langsung melompat dan lari menjauh dari mereka bertiga. Karena tikusnya sudah pergi, Alia pun mengambil kursi yang ada di samping meja makan, dan menggapai pelita yang ada di atas lemari.


Saat Alia ingin turun dari kursi, kaki Alia tidak sengaja tergelincir, untung saja Awal dengan sigap menangkap Alia yang hampir terjatuh. Kedua mata mereka bertemu, dan saling menatap beberapa detik.


"Ekhem" Kode Jamal dengan wajah acuhnya.


"Ah, astaghfirullah" Ucap Alia sadar, dan langsung melepaskan tangannya dari pundak Awal.


"Maaf Alia, kamu gapapa kan?" Tanya Awal.


"I-iya gapapa ko, makasih yah udah nahan saya biar ga jatuh." Jawab Alia gugup.


"Pelitanya udah dapet kan?, kalau gitu ayo ke tempat yang lain." Saut Jamal masih dengan wajah acuhnya.


Mereka bertiga pun kembali ke ruang tamu, dengan suasana yang sedikit canggung. Saat sampai di dekat kamar, Jamal meminta Alia dan Awal untuk pergi ke ruang tamu duluan, dan memberikan handphonenya ke Awal.


Mereka berdua hanya mengiyakan ucapan awal, dan pergi meninggalkan nya sendirian. Jamal melangkah memasuki kamar kedua, untuk mengambil baju lengan panjangnya, karena dia sedikit kedinginan.


Setelah selesai mengganti bajunya, dia pun berbalik ke arah jendela yang masih terbuka lebar. Dia melangkah untuk menutup jendela itu,namun saat sampai di depan jendela, matanya terbuka lebar, badannya seketika diam membeku melihat sosok yang berada di balik semak-semak di samping rumah.


Badan besar, dengan mata merah menyala tengah memandangi nya dengan tatapan penuh kebencian. Jamal benar-benar sama sekali tidak berkutik melihat sosok itu, perlahan-lahan keringat dinginnya mengalir membasahi kedua tangan dan kakinya.

__ADS_1


Sosok itu hanya menampakkan dirinya sebentar, lalu akhirnya hilang diterkam gelapnya malam. Melihat sosok itu telah hilang, Jamal dengan cepat menutup jendela, dan langsung duduk termenung di kasur.


Walaupun singkat, tapi apa yang barusan ia lihat adalah sosok yang benar-benar jelas dan nyata. Dengan kaki bergetar, Jamal memutuskan untuk pergi ke tempat teman-temannya.


__ADS_2