Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
KEHANCURAN DESA TURI


__ADS_3

Berawal dari suatu bencana kekeringan yang terjadi pada desa Turi yang tidak diketahui apa penyebabnya. Bencana tersebut menyebabkan kerugian besar kepada semua penduduk di desa tersebut yang mayoritasnya sebagai seorang petani.


Hingga suatu hari, seorang dukun dari desa Turi mengumumkan kepada semua penduduk bahwa bencana tersebut terjadi karena roh penjaga gunung di desa itu marah, dikarenakan tidak adanya persembahan lagi kepadanya berupa darah dari seorang wanita tercantik di desa tersebut.


Para warga yang mendengar ucapan dukun tersebut percaya dikarenakan kepercayaan dari cerita yang sudah turun temurun di desa Turi.Di desa itu memiliki suatu kepercayaan terhadap sosok tak kasat mata yang diyakini sebagai penjaga desa tersebut.


Diceritakan bahwa sosok penjaga tersebut adalah seorang raja dari Kerajaan masa kuno yang haus akan ketampanan dan juga terkenal akan keserakahan nya.


Raja tersebut meyakini bahwa darah dari wanita cantik akan menjadikan wajahnya tampak lebih muda dan lebih tampan. Karena kepercayaan nya itu, akhirnya dia meminta para prajurit di Kerajaan itu mengumumkan bahwa raja sedang membutuhkan seorang wanita yang sesuai dengan kriteria yang dia inginkan untuk diangkat menjadi permaisurinya.


Setelah pengumuman itu tersampaikan, para wanita cantik di seluruh penjuru kerajaan, bahkan sampai diluar kerajaan berbondong-bondong untuk mengikuti tes penyeleksian permaisuri tanpa tau tujuan sebenarnya dari penyeleksian tersebut.


Ada dua puluh wanita yang telah terpilih di acara tersebut. Sebelum memasuki tes penyeleksian, para wanita tersebut disuruh menandatangani sebuah surat yang dimana surat tersebut berisi perjanjian,bahwa siapapun yang telah terpilih menjadi permaisuri raja, maka sudah tidak diperbolehkan lagi bertemu dengan keluarganya.


Dua puluh orang yang terpilih tersebut sudah menandatangani perjanjian, jadi para wanita itu sudah dimiliki oleh Raja. Apapun yang dilakukan raja kepada para permaisurinya bukan lagi urusan orang lain.


Beberapa wanita itu melalui masa-masa yang indah dalam beberapa hari bersama raja, sampai dimana tepat pada malam purnama, semua permaisuri di kumpulkan di satu ruangan.


Para permaisuri itu kebingungan dan bertanya-tanya tentang tujuan mereka di kumpulkan. Ruangan itu dikunci rapat dari luar, dan yang ada di dalam ruangan tersebut hanya ada dua puluh prajurit, satu dukun, dan raja.


Ruangan itu memiliki dua tempat, tempat pertama adalah tempat para wanita itu dikumpulkan, dan tempat satunya lagi adalah tempat dimana tidak ada satupun orang yang ingin mendatanginya.


Setelah semuanya sudah berkumpul, raja pun akhirnya memerintahkan keduapuluh prajurit tersebut untuk memegangi satu persatu wanita itu, dan menutup mata serta mulut mereka.


Wanita-wanita itu berusaha melawan dan terus melontarkan pertanyaan. Tidak ada yang menjawab satupun dari pertanyaan mereka, sampai mereka akhirnya tau tujuan mereka di kumpulkan di tempat itu,disaat salah satu diantara mereka di bawa masuk ke dalam ruangan satunya.


Suara jeritan sakit menembus penutup mulutnya. Kejadian malam itu merupakan kejadian yang begitu tragis dalam sejarah kerajaan. Darah dari tubuh perempuan itu memenuhi setiap sudut bak mandi sang raja, raja kejam itu dengan senyum manis yang terpancar di wajahnya menikmati setiap darah yang melekat pada tubuh kekarnya itu.


Raja yang telah melakukan tindakan sejahat itu memanglah mendapatkan wajah yang semakin bertambah tampan, namun wajah tampan itu tidaklah membuat umurnya ikut bertambah. Kematian raja itu membuat semua penduduknya percaya bahwa roh dari raja itu masih ada.

__ADS_1


Dan bersemayam di puncak gunung sebagai roh pelindung daerah itu, mereka juga percaya jika rohnya tidak diberikan persembahan berupa darah wanita, maka daerah yang berada di sekitar gunung itu akan mendapatkan malapetaka.


Cerita itu dipercaya secara turun temurun kepada generasi selanjutnya. Itulah mengapa tanpa pikir panjang dan tanpa usaha untuk mencari tahu penyebab sebenarnya dari bencana kekeringan yang terjadi , para warga di desa itu mulai mencari wanita tercantik yang ada di desanya sebagai persembahan/tumbal kepada roh raja yang mereka yakini.


Setelah mencari kesana kemari, akhirnya penduduk desa memutuskan untuk memilih anak dari seorang fakir miskin bernama Miranda sebagai tumbal. Wanita itu sudah menikah dua tahun yang lalu dan sekarang tengah mengandung anak pertamanya yang sudah 6 bulan didalam kandungan. Saat ini suaminya sedang mencari pekerjaan di kota untuk biaya kelahiran bayinya nanti.


Miranda adalah seorang wanita cantik dan berhati lembut, karena kecantikan dan kebaikannya itu membuat banyak kaum lelaki ingin menikahinya. Namun pada akhirnya dia menolak semua pria yang telah melamarnya, dan malah memilih untuk menikahi teman masa kecilnya yang juga menyukainya.


Para warga berkumpul dan berdiskusi tentang Miranda yang ingin mereka jadikan tumbal, namun tak disangka ayah Miranda tidak sengaja mendengar pembicaraan para warga dan langsung buru-buru kerumah untuk memberitahu Miranda agar segera kabur dari desa ini.


Dengan wajah khawatir, ayah Miranda segera mengemasi baju-baju mereka berdua, dan langsung melarikan diri dari desa melewati hutan. Tak disangka warga yang sudah menduga hal itu, berhasil menemukan mereka dan langsung menarik paksa Miranda agar ikut bersamanya.


Ayah Miranda berlutut memohon dengan air mata yang terus mengalir di pipinya ,di la meminta agar penduduk tidak menjadikan anaknya sebagai tumbal dikarenakan dia sedang mengandung cucu pertamanya, dan Miranda merupakan anak satu-satunya yang selalu berada di sampingnya.


Penduduk desa tidak memperdulikan perkataan kakek tua itu dan malah mengatakan kata-kata tak pantas kepadanya bahkan kepada almarhumah istrinya.


Warga desa terus menyeret tubuh Miranda sampai ke tempat pemenggalan yang berada di puncak gunung. Sepanjang jalan terdengar suara tangis Miranda dan juga Ayahnya meminta balas kasih kepada warga tak berperasaan yang berada di sekelilingnya.


Seperti cara prajurit zaman dulu saat melakukan persembahan, kepala dan mulut orang yang akan dipersembahkan harus di tutup. Dukun yang memberikan solusi kepada para penduduk desa, menjadi orang yang akan mengakhiri hidup wanita malang itu.


Senjata pemotongan yang tajam mendarat di kepalanya, darah mengalir jatuh kedalam kendi. Ayahnya yang menyaksikan itu menangis histeris dan meneriakkan kata-kata berupa kutukan kepada seluruh orang yang telah merebut anak dan cucunya.


"Desa ini akan mendapatkan malapetaka yang lebih besar, dan akan lenyap diterkam cahaya. Malam purnama menjadi saksi atas kekesalan ku, kalian semua akan merasakan rasa yang lebih sakit dari rasa sakit ku saat ini!!!". Teriak kakek tua itu,bulan purnama bercahaya menyinari puncak gunung, rintihan hujan mulai membasahi tanah dan memadamkan api pada obor.


Orang-orang bersorak gembira karena merasa berhasil membuat sang roh pelindung senang akan persembahan mereka. Ayah Miranda berjalan perlahan ketempat Miranda, dengan tatapan kosong dia merangkul tubuh anaknya dan mengelus perutnya secara perlahan.


"Cucuku, maafkan kakekmu ini yang telah gagal menyelamatkan ibumu dan juga dirimu. Aku yakin Tuhan akan membalas semua perbuatan para iblis ini". Tanpa bersalah semua orang turun dari bukit meninggalkan Kakek tua itu yang sedang mengelus elus perut Anaknya.


Dibawah bukit sana, mereka berpesta sehari semalam tanpa rasa bersalah sedikitpun. Beberapa minggu setelah penumbalan dilakukan, semuanya berjalan dengan baik didesa itu. Sampai pada suatu desa itu kembali mengalami suatu kejadian yang tidak masuk akal.

__ADS_1


Sejumlah ulat dan belatung merusak tanaman tanaman mereka, para penduduk desa menjadi kebingungan dan mengira bahwa wanita yang ditumbalkan tidaklah cukup dan itu membuat roh pelindung memberikan bencana lain kepada desa.


Para ulat serta belatung menyebar secara cepat membuat desa kembali mengalami krisis pangan. Mereka memutuskan untuk mencari wanita lainnya untuk dijadikan persembahan oleh roh pelindung.


Di hari itu, suami dari Miranda kembali kekampung halamannya. Dengan gembira dia memeluk sebuah boneka beruang besar dan juga beberapa peralatan bayi. Sepanjang jalan dia lewati, dia merasa ada sesuatu yang salah dengan pandangan orang-orang disekitarnya.


Karena merasa ada yang tidak beres, dengan buru-buru dia melangkah menuju ke kediaman istrinya. Sebelum masuk kedalam, dengan usaha dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Dia membuka perlahan pintu dan memanggil nama istri dan juga ayah mertuanya, rasa khawatir kembali tumbuh di dalam benaknya.


Dengan cemas dia menaruh barang-barang nya dan pergi menanyakan dimana istri dan mertuanya sekarang kepada para tetangga. Beberapa orang yang dia tanyai hanya pura-pura tidak tau dimana dia berada, dan sampai dimana ada salah satu warga desa yang berkata bahwa istri dan mertuanya sedang berada di atas gunung untuk berdoa kepada roh pelindung.


Mendengar itu membuat langsung menuju ke atas gunung, perasaan khawatirnya tidak hilang sampai dia benar-benar memastikan bahwa istri dan juga ayah mertuanya, beserta anaknya baik-baik saja.


Dengan tergesa-gesa dia menaiki puncak gunung, perasaan khawatirnya perlahan redah ketika dia melihat ayah mertuanya tengah duduk tergeletak di atas tanah di depan sebuah tumpukan tanah yang lebih tinggi dari tempat duduknya.


Perlahan-lahan dia mendekat ke tempat ayah mertuanya dan menggapai pundaknya. Dia seketika syok melihat keadaan ayah mertuanya yang sangat kurus serta melihat dengan tatapan kosong.


Seketika rasa khawatirnya kembalidan dengan perlahan dia bertanya kepada ayah mertuanya tentang keadaan istri dan anaknya yang berada di dalam kandung.


Dia sontak syok ketika Ayah mertuanya menunjuk kearah tanah yang ada di hadapannya. Matanya melebar melihat sebuah nama terukir di atas permukaan tanah itu.


"Miranda" Sebutnya dengan suara bergetar, sekali lagi dia bertanya kepada Ayah mertuanya tentang keadaan istrinya.


Dengan perlahan kakek tua itu berkata. "Para iblis itu telah merampas semuanya dariku hanya karena kepercayaan mereka terhadap hal yang sama sekali tidak pernah ada di tempat ini" Ucap kakek itu dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Kakek itu juga menunjuk kebatu besar dan kendi yang berisi cairan merah di tempat itu.


Tanpa bertanya lagi, laki-laki itu sudah mengerti kejadian yang menimpa keluarga selama dia tidak berada di desa. Tanpa pikir panjang, dia mengambil kendi tersebut dan menuruni bukit bersama dengan ayah mertuanya.


Mengelilingi desa, dia menumpahkan bensin dan menyalakan api. Api menyebar dengan cepat dikarenakan angin yang bertiup kencang, dia menuju ke pusat desa dengan posisi tangan kanan memegang kendi,dan tangan kiri memegang obor.


Semua warga desa berkumpul menyaksikannya, dia menatap semua warga desa dengan tatapan penuh kebencian setelah itu langsung menempelkan obor tersebut ke tubuhnya yang membuatnya terbakar, semua orang yang menyaksikannya tidak bereaksi dan hanya diam melihatnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia hangus terbakar, orang-orang yang berada di desa yang tadinya hanya terdiam sekarang menjadi panik melihat kobaran api mengepung ngi desa. Mereka dengan panik berusaha memadamkan api yang menyebar dengan cepat, namun semua itu percuma.


Para warga yang akhirnya kehilangan keputusasaan akhirnya menyerah dan merelakan dirinya ditelan oleh cahaya panas, beberapa juga mencoba menyelamatkan diri dengan melompat ke dalam sumur besar di dekat sebuah panti asuhan. Semua berakhir begitu saja dengan keadaan desa yang sudah habis terbakar tanpa sisa.


__ADS_2