
Kami semua pun berangkat ke pusat desa, setelah menunggu Awal yang bersiap-siap nya cukup lama, mengalahkan lama wanita berdandan. Kami bertanya letak rumah Pak Suharjo kepada warga yang kami temui, dan ternyata rumah Pak Suharjo berada tidak jauh dari rumah Pak Kades.
Kami sedikit beruntung, karena di rumah Pak Suharjo juga ada Pak Bakri yang sedang berbincang-bincang di teras rumah. Jadi kami semua tidak perlu lagi mencari rumahnya.
"Permisi Pak" Ucap salam Alia.
"Ah, iya nak. Ayo sini duduk" Balas Pak Suharjo tersenyum ramah.
"Iya Pak makasih" Saut Jamal.
"Sonoh Wal,ucap berterimakasih" Bisik Budi mendorong Awal.
"Iya, ini gua juga mau terimakasih ko." Balas Awal sambil duduk di samping Pak Bakrivv.
"Bagaimana keadaan mu?,siapa tau ada yang luka,biar istri bapak yang obatin" Tanya ramah Pak Suharjo ke Awal.
"Aku baik-baik saja ko pak. Begini Pak Suharjo, Pak Bakri,saya kesian ingin berterimakasih ke bapak, karena sudah menolong saya semalam. Dan maaf Pak karena sudah ngerepotin juga." Ucap Awal berterimakasih.
"Iya, gausah dipikirkan. Itu kan sudah kewajiban untuk menolong sesama manusia" Balas Pak Bakri.
"Terimakasih pak, kalau begitu kami izin pamit dulu" Saut Ulan.
"Ko buru-buru banget sih, ngeteh dulu sinih." Ajak Pak Suharjo. "Bu....ibu..., tolong buatin teh untuk tujuan orang bu" Panggil Pak Suharjo meminta tolong kepada istrinya.
"Gausah repot-repot Pak, kami semua ingin langsung ke puncak gunung sebelum asan Luhur" Tolak Dirga baik-baik.
"Owh, yaudah kalau gitu tunggu sebentar. bu...bu.." Panggil Pak Suharjo.
"Iya Pak" Jawab Bu Susi, istri dari Pak Suharjo.
"Ini bu, Anak-anak ini ingin ke puncak. Kukira tadi ibu juga mau ke puncak cari jamur." Tanya Pak Suharjo kepada istrinya.
"Ah iya juga. Kalau begitu, ibu boleh ikut nak?" Tanya Bu Susi ke kami.
"Boleh banget bu, soalnya kami juga gaterlalu tau jalur menuju ke atas" Jawab Fitri.
__ADS_1
"Makasih yah. Kalau gitu ibu siap-siap dulu yah" Balas Bu Susi.
Setelah Bu Susi selesai bersiap-siap,kami semua pun berangkat menuju ke puncak, dengan Bu Susi sebagai pemandu. Jalan menuju ke atas tentu saja sedikit lebih sulit. Sepanjang jalan, kami membantu Bu Susi untuk mengumpulkan jamur yang tumbuh di batang pohon tua.
Karena sibuk membantu Bu Susi, akhirnya mereka tidak sadar bahwa mereka telah sampai di puncak gunung.
"Ahhh, kita kapan sampainya sih" Ucap Ulan mengeluh.
"Udah sampai ko, coba perhatikan dulu baik-baik" Saut Ibu Susi.
Kami bangkit dan memperhatikan sekeliling kami. Pemandangan yang indah dari puncak gunung sangatlah menyegarkan mata, angin bertiup menerbangkan dedaunan kering, kicauan burung terdengar dari segala arah. Desa Turi terlihat sangat kecil dari atas sini, bahkan lebih kecil dari batu sekepal tangan.
"Ini pertama kalinya aku naik gunung, aku gak nyangka kalau pemandangan di puncak gunung itu secantik ini." Puji Fitri.
"Bener banget, pemandangan dari atas sini ternyata tiga kali lipat lebih indah dari pemandangan yang kita lihat di Desa Turi." Balas Alia.
"Iya kan?. Keindahan ini di dapatkan berkat Roh pelindung yang bersemayam di puncak gunung ini" Ucap Bu Susi memuji kepercayaan masyarakat di Desa Turi.
"Ternyata benar, di setiap desa pasti memiliki kepercayaan masing-masing" Bisik Dirga ke Awal.
Setelah cukup puas melihat pemandangan di puncak gunung, semua akhirnya memutuskan untuk beristirahat, serta menyantap makan siang yang kami bawa dari penginapan tadi. Budi yang tadinya ingin duduk di sebuah batu panjang yang ada di samping pohon jambu air, tiba-tiba di tegur oleh Buk Susi.
Bu susi berkata bahwa batu itu adalah tempat bersemayamnya roh pelindung, dan tidak sembarang orang yang dapat mendudukinya. Jika orang yang salah tiba-tiba menduduki batu itu, maka warga desa akan mendapatkan nasib sial.
Dan nasib sial itu hanya boleh di hilangkan dengan cara menumbalkan darah dari rusa bertanduk putih, yang sudah sangat langkah untuk ditemukan di tempat ini. Jikalau tidak ada rusa tanduk putih, maka warga desa terpaksa harus menumbalkan seorang wanita yang paling cantik yang ada di desanya.
Teguran Bu Susi seketika membuat Budi berkeringat dingin, karena hampir saja menghilangkan satu nyawa orang yang tak bersalah, jikalau ucapan Bu Susi itu benar.
"Aduh Budi, seharusnya lo lebih hati-hati lagi." Ucap Dirga memperingatkan.
"Yah gua mana tau kalau tempat itu gaboleh diduduki!" Balas kesal Budi.
"Udah ah. Ntar berantem lagi, gamalu apa dilihatin Bu Susi sama Fitri" Tegur Ulan.
"Teng..teng..teng..te..te..te..te.." Suara notif pesan yang sangat banyak di handphone Jamal.
__ADS_1
"Anjir, suara notif di handphone kamu berisik banget tau." Kesal Ulan mendengar notif pesan dari handphone Jamal.
"Sabar ih,ini volume handphone gua gabisa diturunin. Sangking banyaknya pesan, handphone ku jadi lag parah" Jawab Jamal.
"Emang pesan apa ajah, ko bisa seramai itu?" Tanya Alia.
"Yang aku lihat sih, ini komentar dari postingan tentang Ibu hamil yang kita bantu." Jawab Jamal.
"Wah, apakah ada banyak orang yang ingin membantu Ibu itu?" Tanya Alia bahagia.
"Tunggu dulu Alia,kayaknya pesannya tidak berkaitan tentang sumbangan atau bantuan deh" Jawab Jamal dengan ekspresi bingung.
"Ha?, maksudnya. Terus komentar seperti apa?" Tanya Dirga.
Semuanya berkumpul kecuali Bu Susi,menunggu pesan-pesan itu berhenti. Begitu pesannya sudah berhenti, kami pun mulai membaca beberapa komentar yang berisikan kata cemas, serta ngeri.
Semua orang yang melihat postingan itu, hanya membahas masalah kepala dari wanita hamil itu, serta keadaan kami saat ini. Kami yang merasa kebingungan pun, dengan cepat melihat foto, serta beberapa video yang sudah di posting ke sosmed.
Rasa merinding dan takut, itulah yang kami rasakan sekarang ini. Kami bertujuh begitu tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Sebuah tubuh wanita hamil tanpa kepala, terpampang jelas di foto dan video yang kami posting. Sangat jauh berbeda dengan wanita yang kami temui sebelumnya. Wanita itu utuh tanpa sedikitpun luka, bagaimana bisa sekarang menjadi seperti ini.
"Nauzubillah, ini gak bener kan. Perasaan wanita yang kita temui punya kepala" Ucap syok Alia, sambil memeluk Ulan yang ketakutan setelah melihat postingan-postingan itu.
Tanpa disadari,dari belakang Bu Susi memasang wajah Cemas,seakan-akan takut terhadap sesuatu.
"Berarti yang kami bantu sebelumnya adalah setan?. Pantas sajah rasanya agak aneh, emang gak masuk akal sih ada orang yang tinggal di tempat seperti itu, sendiri lagi." Ucap Budi tidak menyangka, akan apa yang kami alami sebelumnya.
"Udahlah guys, pelan-pelan kita lupain ajah. Lagipula kita harus bersyukur, karena sampai sekarang ini semuanya masih baik-baik saja." Saut Jamal menenangkan semuanya.
Perlahan-lahan kami mencoba untuk melupakan apa yang baru saja kita lihat, kecuali Awal yang sekarang ini sedang diam membeku, sangking syoknya.
"Guys bantuin gua nenangin Awal. Kayaknya dia sekarang udah lupa cara bernafas deh" Ucap Ulan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Awal.
"Nih anak. Gender doang yang cowo, mental ke cewe" Ucap Dirga tidak habis fikir.
Beberapa menit kemudian, Awal sudah tidak diam membeku lagi, namun masih tidak mengatakan sepatah katapun. Karena melihat keadaannya yang seperti itu, kami sebagai teman baik akhirnya memutuskan untuk membawanya ke suatu tempat, yang mungkin akan membuatnya kembali aktif seperti sebelumnya.
__ADS_1