Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 11 PERSIAPAN UPACARA ADAT II


__ADS_3

"Nak Alia, Nak Ulan, dan Nak Fitri" Panggil Bu Susi. "Ayo makan dulu, pasti kalian udah pada lapar kan. Panggil kedua teman kalian yang disana juga" Ajak Bu Susi dengan ramah.


"Iya Bu,makasih" Jawab Alia, Ulan, dan Fitri.


Semuanya berkumpul, dan mengambil makanan secara bergiliran. Sangking baiknya warga di desa ini, kami bahkan dipersilahkan mengambil makanan lebih dulu. Setelah semuanya mengambil makanan, kami pun duduk memanjang memenuhi balai desa, untuk makan siang bersama.


Wajah gembira terukir di setiap wajah semuanya. Kebersamaan, kekompakan, dan keceriaan, yang jarang sekali kami dapatkan di kota-kota besar, kami dapat di tempat ini.


Keterbatasan yang didapatkan oleh desa ini, sedikitpun tidak menganggu para warga/penduduk. Sebaliknya, itu membuat mereka menjadi lebih dekat, dan mengerti arti kata saling tolong menolong atau gotong royong.


Setelah selesai makan siang bersama, Alia dan Ulan membantu Bu Susi dan Bu Ningsih mengangkat piring kotor, untuk di bersihkan. Awalnya Bu Susi menolak untuk dibantu, tapi karena Alia dan Ulan bersikeras untuk membantu, akhirnya Bu Susi pun mengiyakan keinginan mereka berdua.


Dan Fitri lanjut membantu membersihkan bahan-bahan atau rempah-rempah, bersama ibu-ibu yang lainnya. Sedangkan Budi dan Awal, katanya ingin menyusul bapak-bapak yang mencari rusa tadi.


"Ini di cuci di mana Bu?" Tanya Ulan, sambil mengangkat baskom berisi beberapa piring kotor.


"Di depan sana, itu ada pompa air" Jawab Bu Susi menunjuk kearah pompa air manual yang letaknya berada di belakang balai desa.


Sampai di dekat pompa air itu, Alia dan Ulan pun meletakkan baskom berisi piring kotor tersebut. Di dekat pompa air itu, terdapat sebuah sumur tua yang sangat besar yang di tutupi oleh papan.


Ulan bertanya kepada Bu Susi, apakah sumur itu masih memiliki air atau tidak. Dan Bu Susi menjawab, bahwa sumur itu sudah sangat lama tidak digunakan, dan mungkin saja sudah tidak berisi air lagi.


"Terus, alat ini gimana digunain nya bu?" Tanya Ulan, menunjuk ke pompa air.


"Disitu kan ada tuasnya tuh, nah tuasnya tinggal di naik turunin ajah pakai tangan. Nanti airnya bakalan keluar sendiri ko" Jawab Bu Susi.


"Kalau gitu, boleh Alia yang coba pompain airnya gak Bu?" Tanya Alia.


"Boleh-boleh, tapi tuasnya agak keras loh, maklum benda tua." Jawab Bu Susi.

__ADS_1


Alia menggapai tuas pompa itu, dan mencoba menggerakkan nya. Seperti yang dikatakan Bu Susi barusan, bahwa tuas pompa itu agak keras untuk di gerakkan, karena sudah berkarat. Setelah beberapa kali percobaan,Alia masih belum bisa menggerakkan nya.


Melihat Alia yang tengah kesusahan menggerakkan tuas pompa itu, membuat Ulan meminta untuk menggantikan Alia. Karena tenaga Ulan yang lebih kuat dibandingkan Alia, Ulan pun dengan mudah menggerakan nya hanya dengan sekali percobaan.


Air mengalir dari corong besi yang ada di pompa air itu, Alia dan Ulan terlihat takjub, karena ini adalah kali pertama mereka melihat dan mencoba menggunakan pompa air manual. Karena di kota hanya ada keran yang penggunaannya sangat mudah dibandingkan pompa air.


-Di lain tempat-


Dirga dan Jamal masih terus berusaha untuk memperbaiki mesin mobil, memang sedikit curang melihat yang lainnya tengah asik menikmati keindahan dan keramahan di desa Turi, namun mereka berdua tetap harus mementingkan mobil.


Karena tidak mungkin mereka tinggal terus di desa ini, apalagi mereka sepakat nya berlibur selama lima hari.Dan hari ini merupakan hari kedua mereka di desa turi, jadi sisa tiga hari lagi.


"Bagaimana mobil lo Dir?" Tanya Jamal.


"Yah udah lumayan lah, tapi mungkin ini ga bisa selesai hari ini juga." Jawab Dirga.


"Oh..,bagus lah. Yang penting udah beres sekitar 80%, mobil Fitri juga sedikit lagi beres" Ucap Jamal, sambil mengetuk-ngetuk mobil Fitri.


Tanpa mereka sadari, dari balik pohon terlihat sepasang mata sedang memandangi mereka dengan wajah kesal. Pria itu mencoba mendekati Jamal dan Dirga, dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat. Dia menyapa Jamal dan Dirga, seolah-olah seperti teman yang sudah sangat akrab.


"Hai, boleh ikut gabung gak bro? " Tanya Rudi, remaja yang baru saja mengawasi mereka berdua.


"Siapa yah?,datang-datang ko langsung bersikap sok akrab" Tanya balik Dirga.


"Ish, gaboleh nanya gitu." Tegur Jamal. "Iya boleh-boleh ajah" Balas Jamal ramah.


"Wah makasih nih." Saut Rudi.


Dengan tidak sopan, Rudi duduk di dekat Jamal, dan melahap makanan yang mereka berdua bawa. Bukan apa, tapi dia mengambil makanan Jamal dan Dirga tanpa dia minta terlebih dahulu.

__ADS_1


"Wah jamurnya empuk, enak lagi" Ucap Rudi dengan makanan yang masih ada di dalam mulutnya.


Dirga menatap jengkel ke arah Rudi, dia berusaha untuk tidak berkata kasar di depan Jamal. Apalagi sekarang Jamal tidaklah mempermasalahkan sikap Rudi yang seenaknya itu.


"Jadi kalian yang dimaksud pak kades, katanya kalian tersesat yah" Ucap Rudi dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Hhh, iya. Gara-gara gaterlalu tau rute, jadinya kayak gini. Tapi, walaupun kami gak sampai ke tempat tujuan kami, setidaknya kami menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan, yaitu tempat ini" Balas Jamal, sambil tersenyum ramah.


"Yah, disini pemandangannya memang indah." Ucap Rudi sambil mencoba menelan makanannya. "Tapi tempat ini sangat jarang dikunjungi, jangankan dikunjungi, di ketahui orang-orang dari luar tempat ini saja tidak." Jelas Rudi.


"Yah, penyebabnya pasti karena jalan tol yang pembangunan nya baru saja selesai." Saut Dirga dengan wajah yang masih sedikit jengkel.


"Hem.." Gumam Rudi yang sama sekali tidak menghiraukan Dirga. "Oiya, mungkin kalian gatau. Dua hari lagi bakalan diadakan upacara adat yang dilakukan selama dua tahun sekali di desa ini, kalian sangat beruntung karena datang tepat waktu" Beritahu Rudi kepada Jamal.


"Oy...lu ngacangin gua yah bangs-" Kesal Dirga.


"Dirga!" Tegur Jamal. "Kalau boleh tau, acara adatnya untuk memperingati hari apa?" Tanya Jamal.


"Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada roh penjaga di tempat ini, karena telah memberikan kami berkah dan hasil panen yang melimpah" Jawab Rudi.


"Owh gitu. Berarti sekarang warga desa udah bersiap-siap dong?" Tanya Jamal.


"Iya, sekarang ini semuanya lagi pada sibuk di balai desa. Persiapannya memang sedikit lebih cepat, karena akan ada banyak jenis makanan dan kue-kue tradisional dari desa ini yang akan dipersembahkan, sekaligus untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat di desa ini" Jelas Rudi.


"Wah, kalau gitu kita sudahin dulu perbaiki mobilnya Dir. Hari ini kita ke balai desa dulu, untuk membantu para warga." Ucap Jamal kepada Dirga.


"Emm, yaudah deh. Mungkin saja yang lainnya lagi pada bantuin juga" Balas Dirga.


Jamal dan Dirga akhirnya memutuskan untuk ikut dalam membantu para masyarakat desa. Mereka berdua menuju ke desa melewati jalan yang lebih baik dari jalan yang mereka daki sebelumnya.

__ADS_1


Saat tiba di desa, benar saja bahwa semuanya tengah sibuk menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk persiapan upacara adat nanti. Jamal dan Dirga berjalan menuju ke tempat Fitri, dan menanyakan dimana yang lainnya. Setelah mendengar bahwa Awal dan Budi sedang mencari Rusa, mereka pun memutuskan untuk menyusul juga ke sana.


__ADS_2