
Satu bulan setelah Arya melamar Mentari hubungan mereka sangat baik. Hampir setiap hari mereka habiskan waktu bersama dengan penuh canda dan tawa kebahagiaan.
*Mentari maafkan aku, aku tidak bermaksud mengingkari janji tapi saat ini aku memang harus kembali ke London yang semula hanya dijadwalkan 2 tahun saja tapi sekarang menjadi 4 tahun.. Doakan saja semoga pekerjaanku lancar agar saat aku pulang nanti aku sudah siap lahir dan batin menemui orangtuamu bersama keluargaku* Arya menggenggam erat tangan Mentari.
*Kak Arya, berjanjilah bahwa kau akan kembali untukku* tak terasa air mata Mentari menetes membasahi pipinya yang mulus bak pantat bayi itu.
*Hey, Matahariku tak pernah ku izinkan untuk menangis, Air matamu itu terlalu berharga untuk kau keluarkan sayang*
*Aku takut kak, aku takut Awan akan datang* Mentari terisak dan langsung memeluk Arya yang duduk dekat disampingnya.
*Dia tidak akan mengganggumu lagi, mulai hari ini kamu akan pergi menggunakan mobilku dan akan tinggal di Apartemenku saat Awan kembali ke kota ini. Dia tidak akan menemukanmu, percayalah*
Tangan kanan Awan mengusap punggung dan puncak kepala Mentari memberikan ketenangan.
*Apa kakak yakin??*
*Sangat yakin, di sana nanti akan ada Nadya dan mbak ina yang akan mengurus semua kebutuhanmu dan sepulang dari sini aku akan mengizinkanmu kepada ayah dan bunda* Arya tersenyum penuh ketulusan dan itu membuat hati Mentari terasa tenang.
*Baiklah kak, ayo kita pulang*
Sesampai dirumah Mentari, Arya melakukan apa yang telah dia janjikan kepada sang kekasih tanpa susah payah ternyata kedua orangtua Mentari menyetujui hal itu mungkin karena mereka yang tidak terlalu suka dengan tatakrama Awan saat pertama kali bertemu.
Malam pun tiba dimana saat dua kekasih itu harus saling melepaskan dan merelakan untuk saling berpisah sementara waktu di bandara. Arya yang akan berangkat ke London malam ini merasa sangat sedih dan takut meninggalkan Mentari begitupun sebaliknya, Mentari merasa bahwa dirinya akan berpisah selamanya dengan Arya sang kekasih.
*Jaga dirimu baik-baik sayang.. Aku mencintaimu* Arya mencium puncak kepala Mentari dan mengelusnya hangat.
*Bahkan aku sangat mencintaimu kak Arya* Mentari memeluk erat sang kekasih sebelum akhirnya pelukan itu harus terlepas.
Mentari menatap punggung sang kekasih yang semakin menjauh memudar dari pandangan hingga membuat air matanya turun tak terbendung.
*Sudah ri, sekarang waktunya kamu belajar agar kita segera lulus. Jangan malah menangis seperti ini. Kamu itu harusnya bangga karena telah dimiliki oleh seorang lelaki yang berjuang keras hanya demi menyamakan derajadnya dengan kelurga kamu* Nadya memeluk pundak Mentari dan menuntunnya ke Mobil.
*Apa malam ini kamu ingin tidur di Apartemen Arya?*
*Iya Nad, tolong izinkan ke ayah dan bunda ya* minta Mentari yang langsung di angguki oleh Nadya.
๐
Setelah melewati malam penuh dengan drama kini Mentari bangun pagi penuh semangat untuk memulai hari yang lebih baik lagi. Dia pergi kekampus dengan bahagia, meski sesekali masih teringat Arya.
(oowh kak Arya, baru berpisah tadi malam tapi aku sudah sangat merindukanmu)
Gumam Mentari dalam hati sambil berjalan melewati lorong menuju kelasnya.
*Hey anak Mami, sepertinya lagi galau ya karena ditinggal Awan!*
*Hey mulut rombeng! Jaga tu ucapan ya.. Mau gue tampol?!* Nadya yang emosi hampir saja menjambak rambut Meysa.
__ADS_1
*Gak usah sok jadi jagoan deh! Pantesan aja gak laku-laku ternyata begini kelakuan loe! heh Dasar cewek setengah cowok!* Meysa menyindir Nadya lalu berjalan meningalkan dua sahabat itu.
*Maunya apa sih tu orang? Suka sama Awan? Ambil aja!* Mentari menggumam pelan tapi masih terdengar oleh Nadya.
*Kamu tuh jangan diam aja Ri kalau diperlakukan seenak jidat kayak itu* Nadya mendengus kesal.
*Lagian ngapain sih dia masih berkeliaran dikampus! Kayak anak kucing aja! Harusnya kan dia udah lulus bareng Awan* Matahari nampak berfikir sejenak.
*Sudahlah Ri jangan dipikirkan. Sebaiknya kita fokus belajar biar masadepan kita cerah, secerah ketiak artis iklan deodorant*
ucapan Nadya membuat Mentari tersenyum geli.
Kegiatan belajar mengajar di kelas Mentari berjalan dengan sebagai mana mestinya.
Dua sahabat itu berjalan gontai menuju tempat parkir mobil sambil sesekali tertawa, namun langkah mereka harus terhenti saat melihat sosok pria yang tidak asing berada di taman dekat parkiran.
*Kenapa sih Ri berhenti tiba-tiba kayak ngelihat setan begitu* Nadya sedikit memonyongkan bibirnya.
*Sssttt jangan keras-keras Nad, coba lihat itu.. ituu...* Mentari menunjuk jari telunjuknya pada sosok pria berjumper hitam dipadukan dengan jeans biru yang membelakangi mereka.
*Awan!* Pekik Nadya sambil melongo.
Mentari menarik lengan Nadya ketika Awan menoleh padanya.
*Dia sepertinya melihat kita Nad, Sebaiknya kita lewat samping kanan saja yuk* Ajak Mentari yang langsung disetujui Nadya.
Dua sahabat itu akhirnya bisa masuk mobil dengan selamat tanpa terlihat oleh Awan.
*Aku gatau Ri, akhir-akhir ini aku mengabaikan pesan dan telefon darinya*
*Coba kamu cek deh Ri*
Mentari langsung mengeluarkan ponsel nya dan membuka beberapa pesan dari Awan di aplikasi hijau nya.
Yesterday
07.00 *Apa kabar sayang ๐*
15.00 *Kenapa gak di balas*
20.00 *Kamu sibuk atau sudah menemukan pria lain? ๐*
20.10 *Angkat telfonku atau besok aku sudah berdiri didepan rumahmu!
Today
08.00 *Kamu dimana?? Satpam bilang semalam gak pulang!*
__ADS_1
11.45 *Tunggu aku dikampus! Aku akan menjemputmu*?
*Astaga Nad dia datang karena sejak kemarin aku nyuekin dia. Aku kemarin kan sibuk sama kak Arya. Bodohnya aku!* Mentari merutuki dirinya sendiri seandainya dia membalas pesan Awan mungkin dia tidak akan datang.
*Gil*! Nekat bener tuk cowok! Baru juga sebulan kerja ehh udah ambil cuti! Sebaiknya kita tetap di Apartemen Arya saja deh Ri. Pasti dia sekarang sedang membawa segudang amarah*
*Iya Nad, kamu bener juga. Bentar biar aku telfon bunda dulu biar bunda gak keceplosan atau gugup saat Awan datang kerumah*
*Sekalian telfon kerumahku ya Ri. Takutnya nanti bibi bilang kalau aku nginap dirumahmu. Bibi suruh bilang aja kalau aku lagi nyusul mama dan papa*
*Siap* ucap Mentari semangat.
Sesampainya di apartemen mereka bernafas lega.
๐ท Taman Kampus
*Awan! Hay.. Awan kan??* Sapa seorang perempuan cantik.
*Hay.. Meysa.. Apa kabar?*
*Yaa seperti yang kamu lihat* Meysa menunjukkan senyum centilnya *ehh bdw kamu ada acara apa kesini?* Tanya meysa.
*Aku nyari Mentari. Sejak kemarin Nomornya susah dihubungi. Kamu sendiri?* Awan sedikit menunduk menyembunyikan wajah marah bercampur ketakutan.
*Aku sih tadi ngantar sepupu aku daftar kuliah disini. Lalu dimana dia sekarang?* Meysa celingukan mencari dimana sosok wanita yang dianggap sebagai musuhnya itu.
*Aku tidak menemukannya. Sepertinya dia tidak ke kampus hari ini.* Awan melangkah pergi menuju jalan gerbang utama kampus.
*Eiits tunggu Awan! Sepertinya dugaan kamu salah*
Awan berhenti melangkah, menoleh ke arah Meysa dengan penuh tanda tanya.
*Maksudmu?*
*Aku bertemu Mentari tadi...*
*Jangan ngaco kamu! Aku dari tadi menunggunya bahan aku tidak menemukan mobilnya diparkiran!* Awan menyela ucapan Meysa.
*Tidak Awan! Aku benar-benar bertemu dengannya. Bahkan aku sempat ngobrol dengannya tadi*.
Mereka berdua melanjutkan bicara disebuah cafe dekat kampus.
3 hari berada disini Awan tidak menemukan Mentari sama sekali dan Akhirnya dia harus kembali bekerja di kota sebelah..
Dimana kamu Mentari... Apa kamu sengaja menjauh dari ku..
Gumam Awan sambil memandang foto cantik Mentari di ponselnya..
__ADS_1
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
TERIMAKASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBACA KARYA PERTAMAKU ๐