Pelangi Selepas Hujan

Pelangi Selepas Hujan
KEMBALI


__ADS_3

Satu minggu setelah pertunangan kini Bintang dan Erick kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya.


Karena Bintang akan tinggal di Malang setelah menikah dengan Mentari.


Satu minggu selama di Jakarta Bintang melalui hari-harinya seperti biasa namun


kali ini setiap detiknya dilalui beriringan dengan rasa rindunya pada Mentari.


Berbeda dengan Bintang kini Mentari harus bertemu dengan seseorang di masalalunya yang kelam.


Sore itu saat dirinya jalan-jalan bersama Nadya tanpa sengaja dua gadis itu melihat Awan.


*Hey Mentari* bukannya menjawab Nadya justru menarik Mentari menjauh dari Awan. Awan yang tak mau di acuhkan itu akhirnya mengejar Mentari dan memegang kedua tangan Mentari.


*Mentari, tolong jangan menghindar dariku lagi. Aku masih sangat mencintaimu. Aku gak mau kehilangan kamu Mentari*


*Dasar pria Brengs*k! Kau bilang masih sangat mencintai Riri tapi kau jalan dengan wanita rubah itu!*


*Apa maksudmu Nadya?* Awan yang bingung itu mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan Nadya.


*Apa maksudku?? Tentu saja si Meysa wanita bayar*n itu! Semua orang juga tau siapa Meysa! Dan jangan bilang kau sudah lupa bahwa kau bertemu dengan kita saat kau berkencan dengannya beberapa tahun yang lalu.* Nadya mendengus memalingkan wajahnya dari Awan.


*Dasar wanita pengg*da!* seorang gadis tiba-tiba datang dari sisi lain lalu menampar Mentari dengan keras hingga ujung bibir Mentari mengeluarkan darah.


Wanita itu terus saja menghina Mentari tanpa memberi waktu untuk Mentari menjelaskan.


*Hey!! Jaga ucapanmu wanita jal*ng!!! Kau lebih pantas mendapat sebutan itu!* kemarahan Nadya yang sudah berada di ujung kepala itu langsung menarik tangan Mentari agar terlepas dari Awan.


*Dengar nona Meysa yang terhormat! Anda jangan seenak jidat jika ingin menghinaku! Priamu yang tidak tahu malu inilah yang sudah mengejar dan mememang tanganku! Jika ada yang pantas untuk di hina dan disalahkan dia adalah Pria murahan disampingmu ini!* Mentari membalas setiap ucapan Meysa dengan penuh penekanan dengan menunjuk-nunjuk wajah Meysa.


*Ayo Nad kita pergi dari sini* Mentari menarik tangan Nadya namun Nadya menepisnya.

__ADS_1


*Tunggu Ri, ada yang ingin aku sampaikan!*


Nadya satu langkah mendekat ke arah Meysa dan Awan.


*Catat dan ingat-ingat di ot*k kalian berdua! Mentari sudah bertunangan satu minggu yang lalu dan bulan depan dia akan menikah dengan pria yang benar-benar pantas dengannya!*


Nadya melangkah pergi meninggalkan dua makhluk tak bermuka itu.


Awan yang mematung mendengar kenyataan bahwa Mentari tak dapat dimilikinya lagi tak menghiraukan Meysa yang sudah berteriak-teriak mengajaknya pergi.


*Kenapa harus bertemu dengan dia lagi sih Nad! Aku benci!*


*Sudahlah Ri, lupakan saja. Kita fokus ke masadepan kamu saja oke..*


Dua sahabat itu kini menuju foodcourt, makan sambil bercengkerama layaknya seorang sahabat yang sudah sepuluh tahun tak bertemu, sejenak melupakan kejadian memalukan sekaligus memuakkan yang baru saja terjadi.


Jakarta


*Maaf tuan.. CCTV dirumah nona Mentari sepertinya memang sengaja dirusak oleh pelaku. Tapi..*


*Tapi apa Erick?* Bintang yang sudah tidak sabar itu menatap Erick dengan tatapan tajam mematikannya.


*Rumah di sebelah rumah nona Mentari salah satu CCTV nya mengarah ke arah jalan rumah nona tuan. Di CCTV itu hanya ada satu orang yang keluar dari mobil. Kemungkinan memang hanya sendiri saja*


*Lalu?*


huuft.. belum juga ku selesaikan tapi kau sudah menyelahku tuan..


Erick yang sedikit kesal itu hanya mampu bergumam lalu melanjutkan kalimatnya.


*Dia memakai penutup kepala dan memakai pakaian serba hitam tuan. Dan...*

__ADS_1


*Kenapa kau suka sekali mengatakan dengan terputus-putus Erick?? Apa kau ingin aku mati karena penasaran?*


Bintang beranjak dari kursinya dan berpindah pada sofa diruangannya itu.


*Emmm.. Itu tuan,*


Bintang yang hanya mengangkat sebelah alisnya dan menatap semakin tajam itu kini membuat Erick lebih gugup lagi.


Bagaimana jika aku salah berbicara?? Pasti aku akan di bunuh lalu diberikan pada anjing penjaga gedung ini oleh tuan..


Erick yang semakin gugup itu kini tubuhnya sudah gemetar dan basah oleh keringat.


*Kenapa kau membuang-buang waktuku Erick!* Bintang berdiri yang mencengkeram kemeja Erick lalu mendudukan Erick pada sofa. *Duduk dengan rilex, dan katakan!*


*Mobil yang digunakan itu adalah mobil dengan nomor plat yang tuan berikan kepada kakak tuan dua bulan yang lalu*


Bintang menunduk karna takut jika itu membuat sang bos murka.


Yaps! Mobil yang dimaksud Erick adalah mobil dimana sang kakak memintanya pada Bintang ketika Bintang datang kerumahnya saat memperkenalkan Mentari pada keluarganya.


*Ternyata benar dugaanku!*


Bintang menatap kosong pada jendela ruangannya..


Sebenarnya ada apa ini tuan.. jangan membuatku berada diantara hidup dan mati..


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€*


Thanks for Reading


Mau like, comen, tap favorit & vote ya alhamdulillah, tidak juga tidak masalah!

__ADS_1


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


__ADS_2