Pelangi Selepas Hujan

Pelangi Selepas Hujan
-


__ADS_3

Flash Back


Ibu Bintang adalah sahabat bunda Mentari sejak SMP, tapi setelah meninggal 13tahun yang lalu Bunda Mentari tidak lagi mengetahui bagaimana kabar dari keluarga Bintang. Selain ayah Bintang yang menikah lagi, Bintang juga pergi dari rumah karena tidak tahan hidup dengan ibu tiri yang hanya menginginkan sang ayah namun tidak memperdulikan Bintang dan kakak laki-lakinya. Setelah Bintang mengetahui Bahwa Mentari adalah Putri dari sahabat mendiang ibunya maka Bintang langsung meminta restu kepada orangtua Mentari dan langsung disetujui oleh keduanya 1 bulan yang lalu. Bintang datang menemui orangtua Mentari bersama Erick, Bintang menjelaskan semuanya, sejak pertama kali bertemu dengan Mentari dan tujuannya untuk melamar Mentari. Ayah dan bunda Mentari yang mengenal Bintang sejak bayi itu tanpa ragu langsung merestui keinginan Bintang.


Flash On


*Jadi ayah dan Bunda sudah menerima lamaran ini?*


*Iya sayang, Bunda dan Ayah tau kalau Bintang adalah pria yang baik. Pria yang akan menjaga kamu, yang akan menyayangi kamu seperti ayah yang menyayangi bunda* Bunda Mentari duduk di sebelah Mentari, memberikan sebuah pengertian bahwa dalam pernikahan bukan hanya cinta saja yang menjadi poin utama, tapi sosok pria dewasa penyayang dan juga mampu menjaganya adalah hal yang paling penting.


*Tapi bunda...*


*Kamu tenang saja sayang, kamu pasti bahagia* kini ayah Mentari juga mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan antara ibu dan anak itu.


*Mentari, setelah menikah kita akan tinggal dimanapun sesuai keinginan kamu, saya tidak akan pernah membatasi pergerakan kamu asalkan itu bukan hal yang aneh-aneh*


*Bagaimana jika aku ingin tinggal bersama ayah dan bunda disini?*


Heeem bagimana mungkin dia akan mengizinkanku, pekerjaannya kan ada di Jakarta, lakukan sesuatu agar dia tidak menikahimu Mentari..


Mentari bergumam sambil tersenyum devil.


*Saya akan sangat setuju Mentari, karna saya akan membuka perusahaan di sini. Saya akan memantau perusahaan saya dari sini. Saya hanya butuh waktu 1minggu 1x untuk mengunjungi perusahaan saya di Jakarta dan Singapura*


*Tapi..*


*Sudahlah sayang, percaya sama bunda dan ayah. Tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya sendiri. Apa lagi kamu putri tunggal kami*


Lagi-lagi Mentari kalah dalam berdebat.

__ADS_1


Untuk dua hari kedepan Bintang dan yang lain akan menginap di rumah Mentari.


Setelah berbicara panjang lebar maka pertunangan Mentari dan Bintang akan dilaksanakan satu bulan lagi.


Selama satu bulan itu juga Mentari meminta agar masih di ijinkan untuk bekerja sebagai sekretaris Bintang dengan alasan agar lebih dekat dan mengenal Bintang lebih dalam lagi.


Setelah berkunjung ke rumah orangtua Mentari, kini Bintang membawa Mentari untuk mengunjungi rumah sang ayah yang kebetulan hanya berjarak sekitar 25km dari kediaman orangtua Mentari.


Mentari disambut dengan hangat, namun tatapan ibu tiri Bintang sangat aneh.


Yaaa seperti di televisi lah kurang lebih.. ibu tiri yang kejam dan pandai memutar balikkan fakta. hehe


Setelah memperkenalkan Mentari kepada sang ayah dan keluarga besar dari almarhumah ibunya, Bintang memutuskan untuk kembali ke Jakarta hari itu juga.


Perjalanan kembali itu dilalui sama seperti saat mereka berangkat, berdebat dan tidur.


*Tuan, Katakanlah sejujurnya!*


*Apa maksud anda memutuskan untuk menikahi saya!?*


*Karna saya mencintai kamu Mentari, kamu adalah perempuan pertama yang hanya dari awal bertemu saja tapi saya sudah bisa menilai bahwa kamu memancarkan aura berbeda dari perempuan yang lainnya* Bintang menggenggam tangan Mentari agar perempuan yang dicintainya itu percaya dengan kata-katanya yang benar keluar dengan tulus dari dalam hatinya.


*Bagaimana jika anda berbohong tuan?*


*Maka orangtuamu akan membunuhku!*


*Yang benar saja! Orangtuaku bukan pembunuh!* Mentari yang merasa sebal itu memalingkan wajahnya, kini dia menatap jalanan dari kaca jendela mobil yang dia tumpangi dengan tangan yang terlipat di depan dadanya.


*Hey! Siapa juga yang mengatakan bahwa orangtuamu adalah pembunuh?? Aku hanya memprediksi bahwa setiap orangtua pasti akan melakukan apapun jika putri tunggal kesayangannya ini terluka sedikit saja. Jangankan terluka, tergores saja pasti aku akan di cekik* Bintang menarik dagu Mentari agar dia mau menatap Bintang.

__ADS_1


*Jadi apa kah kamu mau menikah denganku?* Bintang tersenyum tulus, senyum manis yang mampu membuat para wanita terkena diabetes jika melihatnya.


*Memangnya ada pilihan lain??* Mentari tetap judes meskipun entah kenapa hatinya merasa begitu sangat bahagia..


Hey jantung kenapa kamu berdetak begitu kencang?? Bagaimana jika tuan muda disampingku ini bisa mendengarmu?? Apa kau mau ku pecat??


Mentari bergumam merasakan detak jantungnya yang tidak karuhan itu.


*Kenapa pipimu merah seperti tomat busuk Mentari?*


*Apa!!!*


Lihatlah, baru beberapa menit yang lalu kau membuatku terbang, namun dalam sekejap kau menghempasku sampai kedasar tanah.


*Sudahlah Mentari jangan ngambek begitu, kamu semakin cantik dan membuatku semakin jatuh cinta* Bintang selalu saja menggoda Mentari, dia merasa senang saat Mentari cemberut menurutnya itu sangat menggemaskan.


*Jangan berisik tuan muda! Saya sedang tidur!*


Nona kenapa anda mengatakan tidur sedangakan anda mampu menjawab setiap kata tuan? Apa anda sekarang juga bodoh seperti tuan?


Erick yang mengetahui perdebatan itu hanya bergeleng-geleng dan bergumam dalam hati.


*Baiklah silahkan tidur tuan putri* Bintang mengelus puncak kepala mentari dan menyelimuti tubuh Mentari dengan jasnya.


Mentari : Hey hati kenapa kamu seperti ini?? Apa aku mulai jatuh cinta?


Bintang : Kamu sangat imut, lucu, baik, cantik dan menggemaskan Mentari. Meskipun aku tidak memperoleh keperawananmu tapi aku sudah sangat bahagia bisa memilikimu.


*Berhentilah menatap kami dari kaca itu Erick!Kaca itu bisa pecah! Atau aku akan mencongkel kedua matamu! Berpura-puralah buta dan tuli!*

__ADS_1


Erick yang mendengar ancaman itu hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


__ADS_2