
(Ciih.. Bilangnya cinta, tapi gak ada usaha untuk membuktikan! Dan apa ini?! Bahkan saat hari pertunangan semakin dekat justru dia malah semakin cuek terhadapku!) Mentari mendengus kesal.
Beberapa hari terakhir Mentari lebih sering ngedumel sendiri. Pekerjaan yang tidak ada habisnya, ditambah lagi kelakuan Bintang yang semakin hari semakin aneh saja
menurut Mentari.
3 hari lagi acara pertunangan Mentari dan Bintang akan di laksanakan, namun keduanya masih saja disibukkan dengan pekerjaan masing-masing karena semua kebutuhan dalam acara sudah di handle oleh ibunda Mentari.
Mentari,Bintang dan Erick berencana akan datang ke kota asal yang sekaligus menjadi tempat pertunangan mereka pada H-1 dari acara pertunangan. Jadi mereka masih ada waktu 2hari untuk menyelesaikan pekerjaan yang sangat menumpuk itu.
tok..tok..tok..
*Permisi tuan, sudah waktunya makan siang* Mentari yang merasa ada aura aneh pada diri Bintang akhir-akhir ini lebih memilih bersikap biasa saja selayaknya atasan dan bawahan.
*Kita akan makan siang di cafe XX ajak Erick juga karena kita akan membahas tentang pertunangan*
*Baik tuan* Mentari keluar dan segera memberitahukan kepada Erick.
Acara makan siang yang khidmat dan nikmat itu berjalan tanpa ada pengganggu yang sering kali muncul tanpa di undang.
Mereka membicarakan rencana keberangkatan, kembali ke Jakarta, bingkisan serta proyek pembangungan kantor Bintang di Malang.
Kini mereka ber tiga menuju sebuah mall ternama untuk membeli cincin pertunangan serta akan mengambil gaun di butik dengan rancangan desainer top yang namanya sudah terkenal diberbagai negara.
Setelah belanja apa yang mereka butuhkan, mereka memutuskan untuk langsung pulang mengingat hari sudah mulai petang. Hening.. Dalam mobil itu hanya keheningan yang terjadi.
Aneh bukan?? Dia yang memintaku untuk menjadi istrinya tapi sekarang malah mendiamkanku seperti orang yang tak saling kenal.
Banyak tanda tanya yang melintas di fikiran Mentari. Dari mulai negatif sampai positif thingking..
Maafkan aku Mentari, aku lelah dengan fikiran dan beban ini. Kenapa setelah ayahku yang mengacuhkan ku sekarang kakakku harus menikah dengan wanita tak berakal seperti dia?
Bintang yang terlihat dingin seperti gunung es itu ternyata memiliki hidup yang sungguh sangat pahit.
__ADS_1
Beberapa hari setelah mempertemukan Mentari dengan keluarganya kakak iparnya menelfon bahwa dia meminta harta warisan yang ditinggalkan oleh almh.ibu Bintang, bahkan ayah Bintang yang masih hidup dengan sehat seperti itu kakak iparnya itu juga sudah meminta bagiannya juga. Sungguh keterlaluan.
Beberapa hari ini Bintang acuh dan seolah-olah tak peduli pada Mentari karena dirinya sibuk dengan pekerjaan yang menggunung ditambah harus menyelidiki siapa kakak iparnya itu sebenarnya.
Mengejutkan, wanita berpostur tubuh tinggi, tegap, berisi dan berkulit putih namun tidak terlalu cantik iku ternyata memiliki banyak hutang. Bahkan tanah milik almh.ibu Bintang sebagian juga sudah dia jual u tuk membayar hutang yang tidak akan ada habisnya.
Bintang memijat pelan diantara kedua matanya saat dia mengingat masalah kakak iparnya itu. Bagaimana bisa kakaknya menikah dengan wanita seperti itu?? Apa dia tidak menyelidiki dulu siapa dia dan bagaimana latar belakangnya?? Pertanyaan itu selalu memutar berulang kali bagaikan kaset rusak di otak Bintang.
*Erick nanti di apartemenku tolong tinggalkan kami berdua. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan tuan Bintang*
Mentari mengucapkan keingingannya dengan sedikit gugup, takut jika Bintang akan menolaknya.
*Bagaimana tuan?* Erick yang sejak tadi tidak mendengar atau pun melihat pergerakan dari Bintang mencoba menyadarkan sang bos dari lamunannya. Namun bukan Bintang jika tidak miliki aura dingin dan tatapan tajam sulit diartikan.
*Heemm* Hanya itulah jawaban dari Bintang.
15 menit hening terasa sangat lama. Kini mereka tiba di Apartemen Mentari.
*Kita sudah sampai tuan* Erick membukakan pintu untuk Bintang.
Ya, mereka berencana akan berangkat besok malam karena perjalanan di malam hari hari tidak akan ada macet dan dengan harapan keesokan siangnya akan sampai dirumah Mentari. Mereka bisa istirahat beberapa jam sebelum acara pertunangan akan di mulai pada malam harinya.
Ting.. Pintu lift terbuka dua calon pasangan itu berjalan beriringan menuju pintu Apartemen Mentari.
*Duduk lah tuan, aku akan membuatkan kopi hitam untuk anda* Mentari meninggalkan Bintang yang masih diam seribu bahasa di sofa hitam itu.
*Silahkan diminum tuan* Mentari kembali dengan dua cangkir ditangannya lalu meletakkan dua cangkir kopi hitam itu untuk Bintang dan untuk dirinya sendiri.
Bintang menyesap kopi hitam buatan Mentari, kopi hitam yang pas dengan takaran selera Bintang.
*Kamu ingin mengatakan apa Mentari?* Masih memegang cangkir ditangannya dan mengangkat sebelah alisnya.
*Apa tuan sungguh-sungguh ingin menikahi saya?* Mentari sedikit gugup menyakan hal itu, mengingat Bintang adalah Bos yang sangat kejam.
__ADS_1
*Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu Mentari?* Kali ini Bintang meletakkan cangkir kopinya di atas meja.
*Maaf tuan, tapi saya tidak yakin apa lagi saya merasa akhir-akhir ini tuan sangat berbeda terhadap saya* Mentari mengeluarkan semua unek-unek yang sudah tersimpan beberapa hari itu.
*Maafkan saya Mentari. Tapi Saya malam ini ingin tidur denganmu Mentari. Disini!*
*Apa!!!*
Mentari yang terkejut itu menolak. Dia mulai memikirkan kejadian beberapa tahun silam bersama Awan, jujur dia trauma dan takut jika kejadian memalukan dan menyakitkan itu akan terulang kembali.
Namun seletah mendapat penjelasan dari Bintang akhirnya Mentari menyetujuinya.
Setelah selesai membersihkan diri dan makan malam akhirnya dua insan itu berada di atas ranjang Mentari.
*Aku hanya ingin tidur memelukmu, dan aku ingin kamu mengusap-ngusap puncak kepalaku hingga aku tertidur*
*Taa... tapi tuu...* Mentari belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi Bintnag sudah menyelanya lebih dulu.
*Aku hanya lelah dengan semua beban ini. Aku rindu ibuku yang selalu mengusap rambutku sebelum aku tidur dan aku ingin mengingat serta merasakan momen itu denganmu Mentari*
Bintang menyembunyikan wajahnya di perut Mentari. Bintang tak mampu membendung laju air matanya yang seakan memaksa menerobos untuk keluar. Sedangkan Mentari yang bingungpun hanya menurut saja apa kata Bintang.
Maaf tuan Bintang, aku tidak tahu jika serapuh itukah dirimu? Seberat itukah beban yang harus kau pikul? serta sepahit itukah masalalumu? Dan untuk kau ibu dari tuan Bintang, aku berjanji akan selalu menjaga putramu ini, aku akan berusaha untuk membahagiakannya, dan aku juga akan belajar untuk mencintainya..
Mentari tersenyum lirih, tanpa sadar airmatanya perlahan juga menetes membasahi pipi mulusnya itu.
Tuhan, aku percaya jika kau akan memberiku kebahagiaan setelah cobaan yang bertubi-tubi ini. Aku berharap dia adalah wanita yang tepat mendampingiku mencapai surgamu. Dan untuk kau Ibu bahagialah kau disurga, karna aku akan bertunangan dengan wanita yang sejak kecil kau sayangi dan kau ceritakan padaku setiap saat.
Bintang yang sudah mulai lelah itu kini hanya bisa menangis dalam diam hingga kedua insan itu terlelap hanyut dalam mimpi masing-masing.
ππππππππππππππππ
Akhirnya setelah krucil-krucil sudah bobok Author bisa curi-curi waktu untuk up meski dengan inspirasi yang seadanya saja.
__ADS_1
Terimakasih sudah mau mampir π
Please like π, comenπ¬, tap favoritβ€, & rateπyaaa π