Pelangi Selepas Hujan

Pelangi Selepas Hujan
TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

Rumah Sakit


Satu jam sudah Mentari memejamkan matanya membuat dua pria cemas mondar-mandir bak setrika. Siapa lagi mereka jika bukan Bintang dan Erick.


*Erick! Sebenarnya apa yang dilakukan dokter didalam sana?!* Dengan nada yang tinggi membuat orang yang berlalu-lalang sempat melirik melihat betapa kacaunya penampilang Bintang. Dasi yang sudah tidak beraturan, dua kancing kemeja bagian atas yang terbuka, serta kemeja yang lusuh dan jas yang berada di genggaman tangan.


*Tahan emosi anda tuan, nona Mentari pasti baik-baik saja*


*Jika dokter itu melakukan kesalahan maka aku akan membuat perhitungan dengannya!*


Saya tau jika tuan adalah pemilik rumah sakit ini, tapi saya mohon tuan jangan mempermalukan diri anda sendiri demi cinta yang bahkan belum anda sadari.


Erick hanya mampu bergumam dalam hati.


Ceklek...


Pintu UGD terbuka Bintang segera berlari menghampiri dokter laki-laki berusia sekitar 38 tahunan itu.


*Bagaimana keadaannya dok?* Erick sengaja bertanya mendahului Bintang, dia takut jika tuannya akan melakukan hal bodoh.


*Nona Mentari tidak apa-apa tu....*


*Apa yang kau bilang! Dia pingsan dan kakinya penuh luka tapi kau bilang tidak apa-apa?! Apa kau sudah bosan menjadi dokter?? Apa kau mau menjadi pemulung disisa hidupmu!*


Belum sempat dokter menyelesaikan ucapannya namun Bintang sudah meluapkan emosinya.


*Ti..tidak tuan.. Maksud saya tidak ada yang serius dengan nona Mentari. Dia hanya kecapean dan tertekan. Nona pingsan itu dikarenakan dia belum sarapan sampai siang ini dan juga karena rasa sakit dari luka dikakinya, mengingat lukanya sangat banyak. Sepertinya Nona Mentari berjalan jarak jauh tanpa menggunakan alas


kaki tuan* Dokter itu menjelaskan dengan tubuh dan kaki yang gemetar sebab takut menghadapi tuan kejam yang satu ini.


*Baiklah kau pergi saja*


*Baik tuan, sebentar lagi Nona Mentari akan dipindahkan ke ruang rawat dan anda bisa menemuinya. Saya permisi tuan*


*Ambil alih semua pekerjaan saya hari ini. Kembalilah ke kantor!* Tanpa mengalihkan pandangannya yang kosong Bintang tetap menatap pintu ruangan di mana di dalamnya ada sebujur tubuh wanita lemah yang sangat dia cintai meskipun dia belum menyadarinya.


Kantor


Ke empat sahabat Mentari mendadak menjadi heboh setelah mendengar kabar tentang Mentari. Mereka sepakat untuk menjenguk sahabatnya itu dirumah sakit setelah pulang dari kantor.


*Udah bener-bener kita di Bali.. Kenapa harus pindah kesini dan Mentari harus jadi korban kekejaman tuan es batu itu!* Adinda gadis kecil itu selalu mengeluh karna harus terpisah ruang kerja dengan Mentari.

__ADS_1


*Betul banget tuh.. Seharusnya kita masih bisa cuci mata melihat bule memakai bikini di pantai setiap minggu* Kali ini Ian yang berbicara.


*Kalian ini kalau bicara hati-hati! Bagaimana kalau tuan Bintang dengar?? Kita bisa dipecat dan di asingkan di pulau seribu!* Amanda yang jarang bicarapun mengeluarkan suaranya.


*Ya sudah lanjutkan bekerja saja. Jika pekerjaan ini cepat selesai maka nanti kita bisa menjenguk Riri dengan tepat waktu*. Wira yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dan mendengarkan teman-temannya bedebat merasa pusing. Beruntung ke empat temannya menurut saja jika dia yang mulai berbicara.


Mereka berempat adalah satu tim yang sangat kompak. Saling melengkapi dan saling bahu-membahu satu sama lain. Sangat cocok jika mereka jadi panutan devisi lain.


Jam bergulir sangat cepat. Semua pekerjaan telah diselesaikan dengan benar kini saatnya mereka berkemas lalu masuk mobil fasilitas kantor dan meluncur kerumah sakit.


*Assalamualaikum* empat sahabat itu berucap bersamaan saat memasuki ruang rawat Mentari.


*Waalaikumsalam* Ucap Mentari dan Bintang. yapps Bintang sejak pagi menjaga Mentari di rumah sakit.


*Pak Bintang!* Pekik Ian


Bintang menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Ian. *Masuk dan duduk lah*


Setelah meletakkan parcel buah di atas nakas Adinda dan Amanda duduk di samping Mentari sambil berbincang-bincang. Sedangkan Wira, Ian duduk di sofa dalam ruangan itu bersama Bintang.


Para lelaki itu nampak canggung dengan Bintang karena selain bos mereka dia juga datar dan jarang berbicara.


*Kita tadi bawa makanan, bagaimana kalau kita makan bersama. Ini makanan kesukaan kamu lho Ri* Ucap Adinda memecahkan kecanggungan diantara para lelaki itu sambil membuka bungkusan nasi goreng untuk Mentari.


Awalnya Bintang menolak namun karna paksaan dari Mentari maka dirinya menerimanya. Suapan pertama Bintang ragu-ragu tapi suapan demi suapan berikutnya Bintang mengakui bahwa nasi goreng pinggir jalan itu benar-benar mampu memanjakan lidahnya.


Ahhh rasanya sudah berpuluh-puluh tahun aku tidak memakan makanan di pinggir jalan. Air mata Bintang hapir runtuh saat mengingat masa sulitnya ditinggal ibu tercinta dan mengetahui perselingkuhan sang ayah.


*Jangan dilihat dari bungkus dan tempat warungnya pak.. Meskipun terletak dipinggir jalan, ini itu sangat enak dan ini sangat cocok dikantong karyawan rantau kayak kita* ucap Mentari dengan mulut yang penuh makanan.


*Maksud kamu apa Mentari* Bintang masih dengan tatapan tajamnya.


*Porsi yang banyak, harga yang murah, rasa yang enak, bersih dan higenis tentunya. Itu adalah makanan para karyawan biasa yang merantau seperti kita, atau anak-anak kos yang masih sekolah. Secara logika nih ya, uang kita itu pas-pasan dan harus berhemat. Gak kayak tuan Bintang yang mau apa-apa tinggal tunjuk. * ucap Mentari menjelaskan tanpa sadar ucapannya menyentuh hati paling dalam Bintang.


Apa kabar teman-teman jalananku, teman-teman yang membantuku saat aku susah dulu.


Fikiran Bintang terbang kembali kemasa lalunya.


Setelah pukul 8 malam ke empat sahabat itu berpamitan untuk pulang dan akan datang besok sore lagi.


*Tuan Bintang tidak pulang juga?*

__ADS_1


*Saya akan menginap disini menemani kamu. Apa kamu keberatan?*


Mentari hanya menggeleng.


*Tidurlah! Kamu butuh istirahat*


*Saya belum ngantuk pak. Oh ya hp saya mana pak. Saya harus menghubungi teman saya*


Mentari lupa jika seharian ini dia tidak memberi kabar pada Nadya bahwa dirinya dirawat dirumah sakit. Dia segera menuliskan pesan pada sang sahabat agar tidak cemas.


Satu hari bersama-sama itu membuat dua orang ini saling mengenal satu sama lain.


Tidak banyak yang dibicarakan namun Mentari tau bahwa dibalik sikap dingin seorang Bintang tersimpan banyak luka yang teramat pedih namun disisi lain juga memiliki hati yang sangat baik.


Bagitupun sebaliknya, Bintang juga mengetahui bahwa Mentari adalah gadis baik, sederhana, ceria dan dia sadar bahwa cinta sudah mulai tumbuh dihatinya.


*Saya minta maaf Mentari, kamu seperti ini karena saya. Andaikan saya bisa bersikap baik sedikit saja kepadamu tentu kamu tidak akan mengalami ini semua*


*Sudahlah tuan, tidak perlu anda seperti itu. Ini tidak seberapa, dengan berlari tanpa alas kaki aku jadi tau bahwa rasanya sangat sakit. Bisa dicoba lagi jika kakiku sudah sembuh* Mentari tersenyum receh, niatnya hanya bercanda namun Bintang menangkapnya dengan berbeda.


*Kenapa kamu keras kepala sekali Mentari! Apa kau tahu, jantungku hampir copot meliat darah begitu banyak dikakimu dan bahkan kakimu itu bengkak. Melihatbitu semua aku begitu khawatir dan takut kehilanganmu!*


Bintang yang sedikit kesal mengucapkan semua isi hatinya tanpa dia sadari.


Beberapa detik ruangan itu terasa hening. Mentari mencerna setiap kata yang diucapkan Bintang.


*Tuu.. tuan.. Maksud ucapan anda tadi apa?*


*Emmm.. lupakan saja dan beristirahatlah. Aku akan keluar sebentar membeli kopi*


Mentari hanya menatap punggung Bintang hingga akhirnya punggung itu menghilang dibalik pintu.


Mungkin yang di maksud tuan Bintang takut kehilangan aku sebagai skretarisnya kali ya..


Mentari menggumam pelan.. Merebahkan tubuhnya yang tadi duduk menjadi tidur, menarik selimut dan berusaha memejamkan matanya..


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Ayo dongg mana nih likeπŸ‘ comentπŸ’¬ favorit❀ dan rate🌟 nya..


Dukung author biar semakin bersemangat membuat karya yang lebih bagus lagi.

__ADS_1


Terimakasiih 😍


__ADS_2