
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Bintang kini telah tiba. Dimana hari ini adalah hari pertunangannya dengan Mentari.
Semua keluarga hadir diacara resmi tersebut termasuk kakak ipar Bintang.
Acara ini memang hanya mengundang keluarga dekat saja mengingat hari pernikahan akan di adakan dalam waktu dekat. Dua keluarga itu berencana akan mengadakan pernikahan yang mewah karna Mentari adalah anak tunggal sedangkan Bintang ingin pernikahan satu kali dalam seumur hidupnya ini meninggalkan kesan yang tidak dapat dilupakan.
Siang setelah sampai dirumah orangtua Mentari, Bintang dan Erick memutuskan untuk beristirahat dan memeriksa pekerjaannya melalui tab dan laptop saja.
Sedangkan Mentari dia terpaksa harus menuruti sang bunda untuk berlulur, facial serta merawat diri sebagaimana mestinya seorang gadis sebelum nanti malam akan berdiri diatas panggung pertunangan.
*Istirahatlah sayang, nanti sore bunda akan membangunkanmu* Bunda Mentari mencium kening Mentari lalu menyelimutinya agar dia tertidur.
Sejak kemarin Bunda Mentari sibuk mempersiapkan acara pertunangan putri sematawayangnya dengan Bintang.
Malam puncak acara pun tiba, kini dua calon pasangan itu sudah berdiri diatas panggung pertunangan dengan orangtua masing-masing dikedua sisinya.
Mentari terlihat begitu cantik dengan gaun selutut berwarna putih tanpa lengan itu sedangkan Bintang tak kalah rupawan dengan setelan jas hitam yang menambah kharismanya.
*Mentari Hendrawan, tuan putri cantik yang telah mengusik ketenangan hatiku. Bukan ungkapan cinta atau menunjukkan hal romantis yang bisa ku lakukan, tapi dengan kesungguhan hati aku mantapkan pilihan terakhirku pada dirimu. Ingin kuhabiskan sisa hidupku hanya denganmu. Mentari, maukah kau menjadi calon istriku?* Bintang berjongkok dihadapan Mentari dan memegang telapak tangan kanannya, siap untuk memasukkan sebuah cincin berlian dijari manis Mentari.
*Bintang Hermawan, pria yang mampu menerimaku dalam semua kekuranganku. Ajarkanlah aku sebuah cinta yang akan menuntunku mejunu jannah dan aku akan belajar mencintaimu sebagaimana mestinya karena aku mau menjadi calon istrimu yang sholehah*
Mentari tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu menuntun Bintang agar berdiri dan memasangkan cincin di jari manis Bintang.
__ADS_1
Mulai malam itu Mentari akan bekerja keras untuk mencintai Bintang seperti Bintang mencintainya meskipun banyak pertanyaan tentang keluarganya yang sepertinya tidak sepenuhnya membuka kedua tangan untuk Mentari.
*Terimakasih Mentari, karna kamu mau melengkapi kebahagiaanku*
Ucap Bintang yang hanya dibalas anggukan serta senyuman oleh Mentari.
Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang Mentari dan Bintang sengaja duduk berdua ditaman belakang rumah Mentari.
Mereka berdua saling bertukar cerita dari sejak masa kecil hingga saat ini. Berharap bahwa mereka akan saling mengenal lebih dalam lagi meakipun sejujurnya Bintang sudah mengetahui semua tentang Mentari melalui mata-mata yang dia kirim beberapa bulan yang lalu.
Jam sepertinya bergulir dengan cepat, waktu menunjukkan pukul 12.30 malam namun kedua mata pasangan baru itu masih terlihat berbinar. Selain kedua pasangan baru itu yang belum memejamkan mata, juga masih banyak pelayan yang membersihkan rumah Mentari.
Pranggg....
*Entahlah Bintang, mungkin salah satu pelayan ada yang memecahkan piring* Mentari mengangkat bahu cuek.
*Tidak Mentari, suara itu bukan berasal dari dapur. Tapi itu dari lantai atas, dilantai dua*
Secepat kilas Mentari dan Bintang langsung berlari menuju tangga setelah menyadari suara itu bukan berasal dari dapur.
Beberapa pelayan juga ikut berlari ingin memastikan ada apa sebenarnya, sedangkan orangtua Mentari dan Nadya (Sahabat sejak kecil Mentari) juga berlari dari atas menuju lantai satu dimana Mentari, Bintang dan para pelayan berada.
*Ada apa bunda?? Suara apa itu??*
__ADS_1
*Mentari?* Bunda yang terkejut itu segera berlari dan memeluk putri sematawayangnya.
*Tolong katakan ada apa sebenarnya? Kenapa bunda menangis?* Bintang yang penasaran akhirnya bertanya karena melihat semua orang yang berlari dari atas menunjukkan wajah terkejut.
*Itu tadi suara pecahan kaca jendela di kamar Mentari, aku sendiri tidak tahu siapa yang melempar batu ke jendela itu. Saat kejadian itu kebetulan aku ada di kamar mandi* Nadya menceritakan kejadian yang baru saja menggegerkan seisi rumah.
*Bunda khawatir sayang, karena bunda tidak melihat kamu di dalam kamar. Bunda takut kamu kenapa-napa* Bunda mentari masih terisak dan menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah Mentari.
*Ayo nak Bintang, kita cek dan cari tahu siapa yang sudah mengusik istirahat malam kita* Ayah Mentari mengajak calon menantunya menuju kamar Mentari.
*Dan bunda malam ini istirahat saja di kamar tamu bersama Mentari dan Nadya*
Pesan ayah Mentari sebelum melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
Setelah berada di dalam kamar Mentari pecahan kaya berserakan dimana-mana. Ada beberapa batu yang digunakan untuk melempari kaca tersebut.
*Ayah, ini pasti disengaja dan orang yang melakukan ini tentu orang yang sudah tau bahwa ini adalah kamar Mentari. Lihatlah*
Bintang memberikan sebuah kertas yang membungkus sebuah batu. Dikertas itu juga bertuliskan
~***TINGGALKAN BINTANG HERMAWAN~
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐***
__ADS_1
Please tap ๐๐ฌโค๐ Thankyou ๐