
Hari yang ditunggu-tunggu kini sudah tiba. Mentari yang sudah siap dengan kebaya pengantin berwarna putih terlihat begitu cantik dengan makeup yang melengkapi penampilannya pagi ini.
^Cantik sekali kamu Ri^ Nadya datang dan memeluk Mentari dari belakang.
^Terimakasih Nad^ Mentari yang tersenyum manis itu tak terasa ada bulir air mata yang membasahi pipinya.
^Kamu kenapa menangis? Bagaimana jika air matamu merusak riasanmu?^ Nadya mengelap air mata sahabatnya ^uppss kenapa aku lupa bahwa seorang Bintang tidak mungkin mengirimkan perias yang jika terkena air mata maka akan luntur dalam sekejap^ tawa keduanya mengisi kamar hotel Mentari.
^Nad, bagaimana jika aku tidak bisa mecintai Bintang selayaknya Istri yang baik?^
Pertanyaan belum terjawab, namun tiba-tiba ibu Mentari masuk mengatakan bahwa acara ijab qobul akan di adakan sebentar lagi.
Pernikahan itu dihadiri oleh keluarga besar Mentari, Bintang, dan semua Karyawan Bintang tentunya sahabat Mentari juga hadir pada acara itu.
^*Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Hendrawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 50gr serta uang tunai sebesar 50juta dibayar tunai^
^**SAH***^
Hanya dengan satu tarikan nafas Bintang mampu menyelesaikan kalimat sakral dan memperoleh jawaban SAH dari semua tamu undangan yang hadir.
Setelah ijab qobul dilantunkan kini Mentari keluar dari tempatnya, duduk berdampingan dengan suami, bersalaman dan di akhiri dengan Bintang yang mencium kening Mentari.
^Terimakasih sudah bersedia menjadi pendamping hidupku^ Bisik Bintang pada Telinga Mentari dan hanya di jawab sebuah senyuman manis saja oleh Mentari.
__ADS_1
Resepsi Pernikahan itu terjadi hingga malam hari pukul 23.00. Mentari di tuntun Bintang menuju kamar hotel yang sudah di persiapkan sedemikian rupa layaknya kamar pengantin.
^Tuan Bintang, bisakah membantuku membuka resleting gaun ini? Tanganku tak mampu menjangkaunya^ Mentari yang membelakangi Bintang menunjukkan resleting dipunggungnya yang memang sulit jika di buka sendiri.
^Apa kamu sudah tidak sabar sayang? sampai-sampai kamu menggodaku saat kita baru saja memasuki kamar pengantin kita^ Bintang tersenyum licik menggoda Mentari.
Mentari yang gugup dan malu itu hanya tercengang mendengar kalimat Bintang.
^Maaf tuan. Saya mandi dulu^ Namun baru satu langkah memasuki kamar mandi Bintang menarik pergelangan tangan Mentari.
^Jadi setelah mandi kamu akan mengajakku...^
^Berhentilah berfikiran mesum tuan^
Mentari sengaja menyela ucapan Bintang karena dia merasa terpojokkan.
^Jangan panggil aku tuan. Aku kan suamimu^
^Baiklah. Akan aku pertimbangkan^ Mentari mengangkat bahu menggoda Bintang.
Bintang yang berada dibalik pintu kamar mandi itu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat Mentari yang begitu polos dan menggemaskan menurutnya.
Malam itu dilalui tanpa terjadi apapun Bintang juga tidak memaksa Mentari untuk segera melakukan kewajibannya karna Bintang tahu kejadian beberapa tahun yang lalu masih menyisahkan sedikit trauma di hati dan fikiran Mentari.
__ADS_1
Hari berjalan begitu cepat. Pernikahan itu sudah berjalan hampir satu bulan. Dan selama itu juga Bintang belum menyentuh Mentari sama sekali. Bintang berencana jika Mentari sudah siap maka dia akan menjadwalkan Bulan madu ke suatu tempat yang sangat ingin Mentari kunjungi dan sekaligus akan melakukan malam pertama disana.
*Aahhhh.. Aku akan sabar menunggu waktu itu tiba Mentari.. Dan akan ku buat semuanya menjadi indah, seindah impianmu selama ini...
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐*
**Sementara novel ini end dulu yaa..
Tapi suatu saat nanti novel ini akan author lanjut mengingat BAB kakak ipar Bintang juga belum selesai dan Kehidupan Bintang setelah menikah juga belum tertulis.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐**
Terimakasih yang sudah menyempatkan membaca novel Amatiran ini..
Terimakasih juga untuk yang sudah
Like ๐
Coment ๐ฌ
Tap Favorit โค
dan
__ADS_1
Rate ๐
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐