
Dinda mulai tinggal di kontrakan itu, kesehariannya dihabiskan untuk kuliah dan bekerja. Pada saat dua bulan dia tinggal di jakarta dia meresa keuangannya kurang dan memutuskan untuk bekerja sambilan sehabis kuliah.
Selama di kampus, Dinda tidak memiliki satu pun teman, karena mereka merasa jijik dan malu untuk berteman dengannya, dengan dia berkuliah menggunakan beasiswa, semakin membuat mereka menjauh dan membencinya.
Beberapa bulan dia mendapatkan telefon dari kampung.
Drttt.... Drttt.... Drttt.....
"Halo kak... " Ucap disebrang sana dengan nada panik.
"Iya... dek, ada apa? " Dinda meresa cemas dengan keluarganya yang ada di kampung.
"Kak... Bapak sakit, bapak harus dibawa kerumah sakit, tapi kita nggak punya biayanya" Kini adiknya mulai menangis.
" Ap.. Apa...bapak sakit, kamu jangan menangis lebih baik kamu bawa saja bapak ke rumah sakit, nanti kakak akan kirim uang yang kakak punya, biar sisanya kakak akan mencarinya" Dinda menyuruh adiknya membawa bapaknya ke rumah sakit.
" Ya sudah kakak tutup dulu telfonnya, nanti kakak akan kirim uangnya " Dinda menutup panggil itu.
Dinda melangkahkan kakinya ke arah lemari, dia mencari tabungannya.
"Akhirnya ketemu juga" Dinda merasa senang, dia segera melihat isi tabungannya.
" Ini masih kurang banyak " Ucapnya setelah melihat angka di buku tabungannya, dia selama ini selalu menyisihkan uang gajiannya.
Dengan uang yang tersisa dia pergi ke bank untuk mengirimkan uang itu.
Setelah beberapa hari dia merasa bingung harus mencari kemana sisa uang untuk biaya rumah sakit bapaknya.
Flashback Dinda End
Tasya yang mendengarnya meresa kasihan, dia memeluk Dinda yang sudah menangis dari tadi.
" Sudah kamu jangan sedih lagi, aku akan membantu kamu untuk melunasi biaya rumah sakit bapak kamu" Tasya membantu untuk melunasi biaya pengobatan bapaknya Dinda, dia merasa kasihan dengan nasib keluarga itu.
__ADS_1
"Hikss... Hikss... Hikss, terimakasih kamu sudah mau membiayai pengobatan bapakku, kamu adalah malaikat penolong keluarga ku" Dinda merasa terharu dengan kebaikan Tasya, padahal mereka baru saja bertemu.
"Ya sudah sekarang aku akan mengantarkanmu pulang" Tasya mengajak Dinda pulang ke tempat yang Dinda tinggali.
Mereka berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari apartemen. Mereka memasuki lift untuk menuju lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar, Tasya sudah melihat Marco dan bodyguard lainnya.
" Kenapa kamu kesini paman, dan membawa banyak anak buahmu" Tasya bertanya kepada Marco.
"Saya disini disuruh oleh tuan Christian untuk mengantarkan anda ke perusahaan nona, hari ini adalah hari pertama anda bekerja" Jawab Marco pada Tasya.
"Ohh iya, aku lupa tapi kita mengantarkan temanku dulu ya paman" Tasya menyuruh Marco untuk mengantarkan Dinda bersamanya sebelum ke kantor.
" Baik nona, silahkan masuk"Marco mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam mobil.
Dinda hanya diam melihat semua itu, dia berfikir pasti Tasya adalah anak orang kaya. Dia malu pada dirinya karena dirinya adalah orang miskin yang datang dari kampung.
Saat di perjalanan Tasya yang merasa Dinda diam saja dari tadi menegurnya. "Kenapa dengan mu" Tasya yang melihat Dinda diam saja menegurnya.
"Kamu jangan berbohong padaku, katakan yang sebenarnya" Tasya menyuruh Dinda untuk jujur padanya.
"Aku rasa tidak pantas berteman dengan kamu" Dinda akhirnya jujur pada Tasya.
"Kenapa harus tidak pantas, bukankan kita sama-sama manusia" Ujar Tasya.
" Tapii kamu adalah anak orang kaya, nanti apa kata teman kuliah kita mereka pasti menjauhimu karena berteman denganku" Ujar Dinda merasa dirinya rendah untuk berteman dengan Tasya.
" Kamu tidak usah memikirkan omongan mereka, aku meu berteman dengan siapapun bukan urusan mereka " Ucap Tasya memberi nasehat.
"Baiklah, terimakasih " Dinda kini merasa lebih tenang karena ucapan Tasya tadi.
" Kamu jangan mengucapkan terimakasih terus, sebagai teman kita harus saling tolong-menolong" Ucap Tasya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mereka akhirnya sampai di depan kontrakan Dinda. Dinda keluar dari mobil Tasya dan mengajaknya untuk singgah dulu.
" apakah Kamu mau masuk dulu, aku akan buatkan minuman" Dinda menawarkan Tasya untuk singgah dan minum di kontrakannya.
"Maaf untuk sekarang aku tidak bisa, karena aku harus bekerja, lain kali aku akan mampir" Tasya menolaknya dengan perasaan tidak enak.
"Oh tidak apa-apa" Dinda memahaminya, karena tadi dia mendengar percakapan Tasya dengan Marco.
"Baiklah aku pergi dulu, nanti kamu kirim saja no rekening kamu aku akan mentransfer uangnya" Ucap Tasya. Tadi mereka sudah bertukar nomor sebelum pulang ke apartemen Tasya.
" Iya, sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak " Dinda sangat berterimakasih dengan Tasya.
" Ya sudah, aku jalan dulu dahhhh " Mobil Tasya pun meninggalkan kontrakan Dinda menuju ke perusahaan.
di perjalanan terjadi percakapan antara Marco dan Tasya, Marco yang merasa Tasya memilih teman tanpa berpikir dahulu mulai memperingatinya.
"Nona, apakah anda tidak curiga dengan teman baru anda" Tanya Marco dengan hati-hati supaya Tasya tidak tersinggung dan dia juga mengingatkan Tasya supaya berhati-hati.
"Kenapa emangnya, aku merasa dia adalah orang yang baik dan jujur, jadi aku memilihnya sebagai teman" Ujar Tasya.
"Lagi pula aku tidak akan memilih teman dengan sembarangan" Lanjutnya.
" Baik nona " Ucap Marco yang percaya pada pilihan nona nya.
Setelah beberapa menit kini akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Tasya pun sampai di depan perusahaan. Di sana sudah ada pak Anton yang menunggunya. Tasya melangkah keluar mobil, dia berjalan masuk ke dalam perusahaan.
" Selamat datang nona" Sambut pak Anton.
"Hmmm" Tasya hanya berdehem.
" Mari silahkan " Pak Anton mempersilahkan untuk Tasya berjalan terlebih dahulu. Dan dia di belakang bersama Marco. Mereka pun berjalan kearah lift untuk menuju ruang CEO.
Sampai lah mereka di depan ruangan yang akan ditempati Tasya.
__ADS_1
Tasya melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Dia mengedarkan pandangannya, ruangan disana sangat luas dan nyaman, begitu pula lengkap dengan pantry dan kamar istirahat.
Dan mulai hari ini Tasya akan mengerjakan begitu banyak dokumen yang bertumpuk di mejanya.