Pembalasan Anak Terbuang

Pembalasan Anak Terbuang
Pembalasan Anak Terbuang


__ADS_3

Jam kelas telah usai Tasya kini berjalan menuju parkiran, dia sudah menghubungi Dinda agar menunggunya disana.


Dinda kini sudah berada diparkiran dan sedang menunggu kedatangan Tasya, tapi dari arah belakang datang gwngnya si Ninda.


"Oh siapa ini, bukannya dia si culun itu kan, ngapain kamu disini" Ninda berucap dengan tersenyum sinis.


"Ak.. Aku sedang menunggu temanku" Dinda mulai ketakutan, dia melangkah mundur saat geng Ninda menghampirinya. " Ak.. Aku mohon, aku tidak membuat kesalahan apapun, kenapa kalian membully ku" Lanjutnya berucap dengan lantang.


Mereka tertawa mendengar ucapan Dinda. "Hehh... Menurut lo kita ngelakuin ini karena apa? " Ninda tersenyum mengejek.


Dinda hanya menundukkan kepalanya, dia terdiam dengan perkataan Ninda.


Ditengah kejadian itu, Tasya yang sudah berada di parkiran, dia segera mendekat kearah mereka. "Kalian lagi.. Kalian lagi, mau kalian apa sih, kenapa gangguin Dinda terus, lebih baik kalian pergi dari sini"


Muak melihat kelakuan mereka, Tasya mengusir gengnya Ninda dari sana.


"Hehh.. emang masalahnya apa buat lo, dasar pecundang" Ninda berucap sembari mendorong Tasya


"Maksud kamu apa yah, Dinda itu sahabat aku jadi mulai sekarang aku peringatin kalian jangan ganggu dia lagi" Ucap Tasya.


"Ohh.... ada juga yang mau sahabat sama dia, hahaha.. " Ninda beserta temannya menertawakan Tasya dan Dinda.


Kesal dengan ucapan Ninda, Tasya mendekatinya dan memelintir tangan kiri Ninda.


"Hehh, maksud kamu apa yah, kenapa emangnya kalo aku bersahabat dengan Dinda, kenapa kalian menertawakan kami? " Tasya semakin menekan tangan Ninda.


"Aaa.. Aduhhh....Aduhh, lepasin nggak, sakit bego" Ucap Ninda yang kesakitan.


"Kalian bantuin gue, ngapain diam aja" Marah Ninda pada kedua temannya, mereka pun ingin membantu Ninda, tapi Tasya mengancam mereka.


"Kalau kalian mendekat, aku patahkan tangan dia" Tasya mengancam mereka. Mereka pun tidak berani mendekat. "Aku peringatin sekali lagi jangan ganggu Dinda lagi , atau kalian berurusan sama aku" Perintah Tasya, sambil menekan kembali tangan Ninda.


"Aa.. Aduhh.. Aduhh, iya iya sekarang lepasin tangan lo" Ucap Ninda, Tasya pun melepaskan tangan dia.


Setelah itu Ninda bersama gengnya memilih pergi dari sana dengan kesal. "Awas yah kalian berdua, nanti kita akan balas perbuatan lo ini" Gumam Ninda, setelah jarak mereka sudah jauh dari Tasya.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa kan? " Tasya menanyai keadaan Dinda.


"Aku baik-baik saja, makasih yah kamu udah nolongin aku" Jawabnya sambil berterimakasih.


"Sama-sama, kamu kan sudah menjadi sahabat ku, jadi sahabat itu harus saling menolong" Tasya tersenyum kearah Dinda. Dinda pun ikut senyum.


Mereka pergi dari sana menggunakan mobil Tasya.


"Kamu akan mengajak aku kemana? " Tanya Dinda.


"Kita akan pulang ke apartemen ku dulu" Jawab Tasya. Dia mulai melajukan mobilnya.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai.


"Ayo kita masuk" Ajak Tasya, mereka berjalan menuju lift untuk sampai ke lantai 6.


Saat tiba di apartemen Tasya, Dinda melihatnya dengan kagum, karena apartemennya besar sekali.


"Ini rumah kamu, besar sekali barang-barangnya juga bagus-bagus" Ucap Dinda dengan memperhatikan barang yang ada disana.


" Baiklah " Dinda pun menuju sofa dan mulai duduk disana.


" Wowww.. Kursinya sangat empuk dan nyaman sekali "Dinda merasa kagum dengan sofa yang dia duduki.


" Itu namanya sofa, bukan kursi jadi pasti empuk dan nyaman untuk diduduki" Ujar Tasya.


"Ohhhh... Jadi ini namanya sofa, maaf aku tidak tau soalnya aku dari desa mana pernah duduk di sofa kaya gini. " Ujar Dinda.


"Tidak apa, ayo diminum dulu" Tasya menawarkan jus yang dia bawa tadi.


"Terimakasih" Dinda pun meminum jusnya.


"Ehmm, ini benar-benar enak sekali" Puji Dinda.


Tasya hanya tersenyum dan mengangguk. "Disini kamu tinggal di mana? " Tasya menanyakan tempat tinggal Dinda.

__ADS_1


" Aku tinggal di kontrakan yang dekat dengan kampus " Jawab Dinda.


"Terus bagaimana dengan keluarga kamu? " tanya Tasya.


"semua keluarga aku ada di kampung" Jawab Dinda. Tapi setelah itu wajahnya terlihat murung.


"Ada apa dengan wajahmu itu, kenapa terlihat sedih" Ujar Tasya.


"Tidak ada apa-apa" Ujar Dinda, seolah menutupi masalah yang terjadi padanya.


"Oh jadi kamu tidak menganggap ku sahabat" Ucap Tasya yang dibuat seolah sedang marah.


" Bu..bukan, tapi aku tidak ingin merepotkan kamu lagi, kamu sudah banyak membantuku "ucap Dinda dengan lirih, dirinya tidak ingin merepotkan Tasya, dengan Tasya menolongnya di kampus saja, dia sudah sangat membantunya.


" Kamu itu gimana sih, aku tuh ikhlas nolongin kamu dan kamu sudah aku anggap sahabat, jadi apapun masalah kamu tinggal cerita padaku" Ucap Tasya.


"Ba.. Baiklah, aku akan menceritakannya" Ucap Dinda yang sudah pasrah, karena Tasya menekannya agar bercerita.


Flashback Dinda


Dinda Tri mulyani, dia adalah anak dara dari seorang petani di kampungnya. dia adalah anak pertama dari empat bersaudara.


saat kelulusan SMA nya, dia mendapatkan beasiswa di jakarta, orang tuanya begitu senang dengan prestasi anaknya, dan menyuruhnya mengambil beasiswa itu.


setelah lahir sampai di jakarta dia mencari kontrak yang harganya murah, akhirnya dia menemukan kontrakan yang pas.


"bu berapa harga kontrakan nya sebulan" Tanya Dinda pada ibu kosnya.


" lima ratus ribu per bulannya, tapi disini belum ada apa-apa, hanya kasur lipat saja mau" jawab Ibu kosnya.


"Boleh bu, tapi saya bayarnya setengah dulu ya bu " Dinda akhirnya menerimanya karena disitulah kontrakan yang paling murah.


" baiklah, ini kuncinya " ibu pemilik kontrakan itu menyerahkan kunci padanya.


"Terimakasih bu" Dinda menerimanya dengan senang.

__ADS_1


__ADS_2