
Di pagi hari yang cerah, terlihat Tasya yang masih meringkuk diatas kasurnya. Dia terlihat malas untuk bangun dari tidurnya.
"Emmm..... " Lenguhnya saat baru bangun dari tidurnya. Dia beranjak duduk dan mengucek matanya. untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kamarnya.
Setelah sadar sepenuhnya dia mulai melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Pov Tasya
"Ahhhh.... kenapa pagi ini datang begitu cepat" Aku mulai memasukkan tubuhku ke dalam bath up.
Setelah mandi,kini aku merasa tubuhku lebih fress, dan siap untuk menjalani semua kegiatanku di hari ini.
"Oh ya... Aku kan belum sarapan" Ucapku seraya melihat jam tangan di pergelangan kiriku. "Uhmm ... masih ada 2 jam lagi, untuk mata pelajaran pertama, lebih baik aku masak dulu saja" Ucapku lagi.
Aku pun berjalan kearah dapur, didapur aku mulai melihat isi kulkas, kini kulkas yang kemarin nya kosong sudah terisi sepenuhnya.
"Lebih baik aku masak nasi goreng saja kan tidak ribet" Ucapku, setelah itu aku memilih bahan masakan, untuk memasak nasi goreng.
Butuh waktu kurang lebih sepuluh menit, untukku menyelesaikan masakan yang aku buat.
Kini nasi goreng itu pun telah jadi dengan cantik karena aku menghias nya terlebih dahulu.
Saat aku diruang makan, aku kepikiran untuk menghubungi Daddy, aku mengambil ponsel di kamar dan mulai menghubunginya.
Drttt... Drttt..... Drttt....
Tak butuh waktu lama, orang yang disebrang sana akhirnya menjawab telfonnya.
"Selamat pagi Dad" Ucapku seraya tersenyum manis.
"Selamat pagi untuk kesayangan Dad" Ucap Christian.
"Dad sedang apa? " Tanyaku.
"Owhh...Dad baru saja meeting dengan klien direstoran" Jawabnya.
mereka terdiam sebentar, sebelum pertanyaan Christian membuyarkan suasana diamnya.
" Bagaimana kabarmu, Apakah disana kau mengalami kesulitan?" Lanjutnya.
" Kabarku sangat baik, dan aku tidak mengalami kesulitan apapun " Jawabku.
"Sekarang kau sedang apa? " Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Aku sedang sarapan Dad, apakah Daddy sudah makan? " Tanyaku.
" Sudah, tadi saat meeting dengan klien " Jawabnya.
"Kapan kau akan kembali ke Amerika? " Lanjutnya.
"Dad, aku disini baru beberapa hari, dan aku belum membalaskan dendamku" Ucapku.
"Ohhhh.... ayo lah sayang Daddy begitu merindukanmu rumah ini begitu sepi tanpamu" Ucapnya yang mendratis.
"Sudah lah jangan berdrama, nanti jika urusanku sudah selesai aku akan kembali kesana" Ucapku yang jengah dengan apa yangDaddy ku ucapkan.
"Baiklah, tapii jangan lupa jika ada waktu pulang lah, dan jika kau ada kesulitan segera hubungi Dad" Perintahnya kepada ku.
"Oke... kalau begitu aku akn tutup telfonnya dulu" Ucapku padanya.
"Bye sayang hati-hati disana" Ucapnya.
Akupun mematikan sambungan telfon itu, dan memulai sarapan yang tadi tertunda.
Pov Tasya end
Disisi lain Stella dan Dio sedang berada di apartemen milik Dio,mereka membahas masalah tentang Tasya.
"Bagaimana ini yang, dia sudah kembali" Stella terlihat begitu cemas.
"Tapi... aku takut dia akan membalas dendam dan mengambil semua harta yang kita miliki" Ucap Stella.
" sebelum dia melakukan itu kita harus memikirkan cara agar menyingkirkan dia selamanya" Ucap Dio, Terlihat senyum sinis di bibirnya.
"Tapi bagaimana caranya? " Tanya Stella.
"Tenang, biar nanti itu aku yang pikirkan kamu tidak usah khawatir" dan kini Stella mulai tenang.
"Ayo kita pergi dari sini, sebentar lagi jam kuliah gue dimulai" Ucap Stella.
Mereka mulai beranjak dari ruang makan di apartemen Dio. Dio akan mengantarkan Stella menuju kampusnya.
Sementara kini Tasya kini sudah sampai di kampus, dia berjalan menuju ke kelasnya, namun saat ditengah jalan dia melihat seseorang yang sedang membully gadis culun.
Saat ingin melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan mereka, tapi hati nuraninya memilih untuk membantunya. Akhirnya dia memilih mendekati mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan? " Mereka hanya diam. Tasya melihat mereka dengan tajam, seketika pandangannya beralih ke seorang gadis culun yang sedang tertunduk menangis.
__ADS_1
"Kenapa dia menangis? " Ucap Tasya mengintimidasi mereka.
"Memangnya apa urusannya dengan mu" Bantah salah satu dari mereka, yakni bernama Dina. Dina adalah pengikutnya geng Ninda.
"Apa katamu" Tasya mendekati Dina dan menatapnya dengan tajam. Seketika Dina merasa ketakutan dan sedikit gemetaran. Dia mulai mundur kebelakang.
"Hehh.. lo anak baru jangan sok belagu deh" Ucap Ninda sambil mendorong bahu Tasya, Ninda adalah anak dari salah satu orang yang mendonasikan sahamnya di kampus itu, jadi dia menjadi sombong dengan kekayaan keluarganya.
Tasya menatap Ninda dengan tajam, dia muak melihat orang yang sombong dengan kekayaan keluarganya "memangnya kamu siapa disini? Apa kamu yang punya kampus ini sehingga kamu jadi sombong" Tanya Tasya.
"Emangnya kenapa...masalah buat lo. suka-suka gue dong, gue mau ngelakuin apa aja disini emang ada yang ngelarang" Ucap Ninda menantang.
Tasya yang sudah bosan meladeni mereka, memilih untuk segera membawa gadis culun itu pergi dari sana.
" Huhhhh... dasar pecundang aja sok berani lo pergi sana" Tasya memilih sabar dengan ucapan mereka, dan segera membawa gadis culun itu ke kantin.
Setibanya dikantin dia menyuruh gadis itu untuk duduk di kursi "kamu tunggu disini, aku mau cari betadine dulu" Ucap Tasya menyuruh gadis itu untuk menunggunya.
Tasya berjalan menuju UKS untuk mengambil betadine "permisi bu, bolehkah saya pinjam betadine dengan kapas" Izinnya pada seorang dokter jaga disitu.
"Oh silahkan, tapi nanti dikembalikan kembali ke tempatnya yah" Ucap dokter jaga itu.
"Baik bu" Setelah mengambil betadine dengan kapasnya Tasya kembali ke kantin.
Tasya mendekati gadis itu "ini minum buat kamu, silahkan diminum" Dia memberikan gadis itu minuman, tadi saat Tasya kembali dia menyempatkan membeli minuman dulu "Terimakasih" Gadis itu menerima minumnya dan meminumnya.
"Nama kamu siapa? " Tanya Tasya sambil mengulurkan tangannya "Namaku Dinda" Jawab gadis itu sambil menerima uluran tangannya.
"Kenapa kamu bisa dibully oleh mereka? " Tanya Tasya sambil membantu mengobati luka di pipi Dinda.
"Keluarga ku hanya orang miskin, dan aku disini hanya anak beasiswa jadi mereka selalu membully ku" Jawab Dinda dengan sedih.
"Tapi kenapa kamu tidak melawan" Ucap Tasya yang kesal dengan perilaku Ninda.
"Ak.. Aku tidak berani, nanti kalau aku melawan mereka beasiswaku akan di cabut" Ucap Dinda dengan ketakutan.
" Ya sudah mulai sekarang kamu akan menjadi temanku, dan jika ada masalah dengan kamu katakan saja padaku" Tasya merangkul pundak Dinda dan tersenyum kearahnya.
"Te.. Terimakasih, kamu adalah teman pertamaku" Dinda yang tak tahan dengan rasa harus itu pun akhirnya menangis.
"Sudahlah jangan menangis lagi" Tasya mengahapus air mata di pipi Dinda.
"Baiklah aku pergi dulu, sebentar lagi masuk kelas, sampai ketemu lagi, nanti aku akan menghubungimu dahhh.." Tasya berdiri dari duduknya. Dia mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana untuk menuju kelasnya.
__ADS_1
*sekian dari author, jangan lupa like, komen, dan vote yah......
.....makasih 😘😘