Pembalasan Anak Terbuang

Pembalasan Anak Terbuang
Pembalasan Anak Terbuang


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, Tasya kini sudah selesai mengerjakan semua dokumen yang ada di mejanya. Dia mulai beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari ruangan yang dia tempati.


"Ayo kita pulang" Ajak Tasya pada Marco. Dia berada di ruangan yang bersebelahan dengan Tasya, untuk membantu Tasya jika diperlukan.


" Baik, nona" Marco mengikuti perintah Tasya.


Mereka berjalan menuju lift. Saat pintu lift terbuka mereka masuk kedalam dan menekan tombol menuju lobi.


Sampainya di lobi, mereka berjalan keluar dari perusahaan, namun dari arah belakang pak Anton memanggilnya.


"Nona Tasya, tunggu" Teriak pak Anton. Tasya yang mendengarnya menghentikan jalannya, begitu pun Marco yang senantiasa berada di belakangnya.


Tasya menoleh ke belakang " Pak Anton, ada apa, apa masih ada dokumen yang belum saya selesaikan? " Tanya Tasya pada pak Anton yang kini sudah di depannya.


" Maaf nona, bukan masalah itu, tapi besok ada meeting dengan Dirgantara Corp, dan mereka ingin anda yang datang " Ujar pak Anton memberitahu Tasya.


" Baiklah, jam berapa meeting nya? " Tanya Tasya.


"Jam 10 pagi, nona" Jawab pak Anton.


" Saya akan berusaha untuk datang " Ujar Tasya.


"Baik nona, terimakasih." Ucap pak Anton.


Tasya hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu dari sana. Saat di luar Tasya menungu didepan pintu masuk, sedangkan Marco dia mengambil mobil di parkiran.


Mobil mereka pun sudah berada di hadapan Tasya, dia membuka pintunya dan masuk kedalam mobil. Marco melajukan mobilnya menujukan apartemen Tasya.


"Nona, besok akan ada sekertaris yang membantu anda, jadi meeting besok anda akan didampingi olehnya" Marco memulai pembicaraan.


"Dia perempuan atau laki-laki? " Tanya Tasya.


" Laki-laki nona, dia adalah rekomendasi dari tuan besar, dan dia sudah dilakukan ujian seleksi oleh tuan besar"

__ADS_1


Marco menejelaskannya. (Disini tuan besar adalah Christian yah... )


" Hmmmm" Tasya hanya menjawabnya dengan deheman.


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan apartemen, tapi ada yang berbeda dari biasanya karena hari ini ada orang yang pindah di depan apartemen nya.


Tasya melihat ada mobil yang mengangkut barang-barang orang itu. Dia tetap berjalan masuk kedalam lift.


Dan saat sampai di lantai 6, dia melangkah keluar,namun saat dirinya didepan pintu apartemen miliknya, dia dihalangi oleh kardus besar yang entah apa itu isinya.


Dia berusaha memindahkannya dengan mendorong kardus itu. " Heyyy... kau apa yang kamu lakukan dengan barangku" Teriak seseorang dari dalam apartemen di depannya, Dia adalah Devan Dirgantara.Tasya pun menengok ke arah orang itu " Tuan barang anda ini menghalangi pintu masuk apartemen saya, jadi saya ingin memindahkannya " Ucap Tasya dengan nada sopan.


" Tapi dengan kau mendorong-dorong nya seperti itu nanti barang itu akan jatuh dan rusak, dan apa kamu tau apa isinya itu? " Ujar Devan dengan nada marah.


Tasya hanya menggelengkan kepalanya " Memang isinya apa, mungkin hanya barang yang tidak penting." Gumamnya dengan lirih, tapi Devan dapat mendengarnya.


" Apa maksudmu tidak penting, itu isinya guci kesayangan saya, bahkan harganya sampai miliyaran, apakah kamu bisa membelinya? " Ucapnya dengan nada sombong.


" Baiklah, akan aku suruh orang untuk pindahkan barang itu, tapi jika ada lecet sedikitpun kau akan menanggung akibatnya " Ancam Devan pada Tasya.


Setelah itu Devan menyuruh orang untuk memindahkan barangnya masuk kedalam apartemen miliknya.


Tasya segera masuk kedalam apartemen, dia mulai melakukan rutinitas dirinya sebelum tidur.


Saat tengah malam, tiba-tiba ada orang yang membunyikan bel apartemennya.


Tasya yang sedang tidur menjadi terganggu, dan dengan kesal dia berjalan menuju pintu. Dia melihat Devan didepan pintu apartemen miliknya " Anda ada perlu apa anda tengah malam begini membunyikan bel apartemen saya? " Tanya Tasya dengan nada kesal.


" Ehmmm, begini aku kan orang baru disini aku belum membeli keperluan makanan dan di apartemen ku tidak ada makanan " Ucap Devan dengan nada sedikit arogan. Tapi sekarang dirinya merasakan malu.


" Jadi, maksud anda" Tasya menaikan alisnya.


"Begini bolehkah aku makan di apartemen mu, ah bukan maksudnya aku akan makan makanan milikmu dan nanti aku akan membayarnya" Ujar Devan masih dengan nada arogan nya.

__ADS_1


"Maaf tidak bisa, ini sudah tengah malam dan saya ingin tidur" Ujar Tasya yang kesal dengan sifat arogan Devan.


" Ahh, ayo lah" Baru kali ini Devan memelas dihadapan seseorang, apalagi dia seorang perempuan. " Aku begitu lapar, dan aku memiliki penyakit lambung, jika penyakit ku kambuh maka aku akan menyalahkan mu " Devan mengancam Tasya dengan berpura-pura memiliki penyakit lambung.


Tasya akhirnya mengizinkan Devan makan di apartemen miliknya. Karena dia merasa kebohongan Devan adalah benar.


Tasya memasakkan nasi goreng untuk Devan, setelah selesai dia membawanya ke tempat makan. " ini, silahkan dimakan dan cepat keluar dari sini" ujar Tasya sambil meletakkan piring yang berisi nasi goreng itu di hadapan Devan.


"kamu mengusir saya" ucap Devan merasa tersinggung. Tasya hanya tersenyum mengejek.


"jika anda pintar, maka anda paham maksud saya" ujar Tasya.


Devan yang sudah sangat lapar memilih mengabaikan ucapan Tasya dan memakan nasi goreng itu.


satu suap nasi goreng masuk kedalam mulutnya, dia merasa nasi goreng buatan Tasya begitu enak, dan mulai memakannya dengan lahap.


"apakah nasi goreng buatan saya begitu enak, sehingga anda menghabiskan nya dengan begitu cepat" ucap Tasya.


Devan tersedak mendengar ucapan Tasya, dan dia mengambil minum di depannya.


"lebih baik kamu diam, nasi goreng ini biasa saja tapi karena aku sedang lapar jadi cepat habis" ucap Devan yang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


"ouhh, masa sih" Ucap Tasya yang tidak percaya.


"sudahlah, aku sudah selesai makannya" ucap Devan yang kini berdiri dari duduknya.


" berapa yang harus aku bayar? " tanyanya.


"tidak perlu " ucap Tasya.


"ya sudah kalau begitu, aku anggap ini sebagai hutang budi dan lain kali aku akan membayarnya" setelah itu Devan pergi dari apartemen Tasya, menuju apartemen miliknya.


Tasya pun melanjutkan tidurnya yang tadi tertundah.

__ADS_1


__ADS_2