
Keesokan harinya, Juan yang semalam dihubungi Devan agar membawakan dia sarapan kini telah sampai didepan apartemen Devan.
Dia membunyikan bell apartemennya.
"Ceklek.... " Tapi yang terbuka malah pintu dibelakangnya. Juan memutar balikkan tubuhnya kebelakang.
Namun dia sangat terkejut mendapati Tasya yang ada di depannya. "Kamu... sedang apa kamu disini " Ucap Juan." Ohhh..aku tau, kamu pasti mengikuti ku yah..,ayo ngaku" Ujar Juan dengan pede nya.
"Heh, untuk apa aku mengikuti mu, kurang kerjaan banget sih" Tasya berucap dengan nada kesal.
"Lalu kenapa kamu bisa disini, kamu itu kan hanya seorang penyusup " Ucap Juan.
"Heyyy, aku ini bukan penyusup yah, dan aku tinggal disini" Ucap Tasya menjelaskan.
"Mana mungkin kamu tinggal di sini, pasti kamu bohong yah" Juan nampak masih tak percaya pada ucapan Tasya. "buktinya pas di restoran kamu tidak punya uang, mana mungkin kamu tinggal di apartemen mewah seperti ini" Ucap Juan yang berspekulasi dengan apa yang dia lihat kemarin.
"Buat apa aku bohong sama kamu, kenal juga nggak" Ucap Tasya.
" Dan... Untuk yang kemarin aku nggak bisa bayar makanan di restoran itu, karena aku nggak bawa dompet tau" lanjutnya.
Dan nampaknya Juan masih belum percaya. " Halah.. Kamu itu nggak pu..... " Ucapan Juan terpotong oleh suara orang yang dikenal.
Devan keluar dari apartemen miliknya. "Ada apa ini, kenapa pagi-pagi begini kalian sangat berisik, mengganggu tidur ku saja" Devan marahi mereka berdua.
"Dan kamu juga, kenapa setiap kalian berdua bertemu pasti meributkan masalah yang tidak jelas" Lanjutnya memarahi Juan.
"Maaf tuan" Ucap Juan yang mengalah didepan tuannya.
"Nah...bener tuh, salahin dia saja, yang main nuduh-nuduh aku sembarangan" Tunjuk Tasya pada Juan.
"Heh, aku ini bukan nuduh ya, emang dasar kamunya aja yang ngikutin aku" Sanggah Juan.
"Lagian juga ngapain aku ngikutin kamu, tuh.. Tanya sama bos kamu apa aku tinggal disini atau nggak" Tasya membantah ucapan Juan sambil menunjuk pada Devan.
__ADS_1
Devan yang pusing dengan perdebatan mereka akhirnya melerai nya. "Sudah-sudah, dia memang tinggal disini , lagi pula apa urusannya dengan kamu?" Tanya Devan pada Juan.
Juan menjadi gelagapan dengan pertanyaan Devan, dia juga bingung kenapa dia begitu kesal saat melihat Tasya. " Tidak ada tuan, saya hanya curiga pada dia" Ucap Juan. " oh ya tuan ini sarapan yang Anda pesan" Lanjut Juan mengalihkan pembicaraan.
"Ngapain juga mencurigai aku, emangnya aku maling, huhh" Tasya berlalu dari sana meninggalkan Devan dan Juan.
Kedua orang itu hanya melihatnya saja. Devan kemudian menerima makanan itu.
" Apa jadwal ku hari ini? " Tanya Devan.
"Jadwal anda hari ini hanya meeting dengan cabang perusahaan CR Grup tuan, selebihnya hanya menandatangani dokumen" Juan menjelaskan jadwal Devan hari ini.
"Ya sudah.. Kamu siapkan pakaian ku dulu, aku mau mandi" Perintah Devan pada Juan.
"Baik tuan" Mereka masuk kedalam apartemen yang ditempati oleh Devan.
Berbeda dengan Tasya, kini Tasya melajukan mobilnya sambil memaki Juan.
"pagi-pagi bukannya ketemu cowok ganteng kek, malah ketemu cowok cerewet kaya dia, mana nuduh aku sembarangan lagi" Lanjutnya memaki Juan.
"Huhh, lebih baik aku cepat-cepat ke kampus, pasti Dinda udah nungguin aku" Tasya mengela nafasnya, agar emosinya mereda.
Sesampainya di kampus Tasya tidak melihat Dinda sama sekali. "Kemana sih anak itu? " Tanyanya pada diri sendiri.
"Aku telfon saja deh" Lalu Tasya mengambil hp nya di dalam tas.
Drttt..... Drttt..... Drttt
Akhirnya Dinda mengangkat telfonnya.
"Halo Din, lo dimana sih" Ucap Tasya.
"Maaf, aku hari tidak ke kampus, karena bapak ku mau dikeluarkan dari rumah sakit" Dinda menjelaskan maksudnya hari ini tidak berangkat.
__ADS_1
"Loh.. Loh, bukannya aku sudah membayar biaya rumah sakit nya yah" Ucap Tasya.
"Tapi, kata pihak rumah sakitnya belum ada biaya yang masuk, dan sekarang aku mau pulang kampung" Ucap Dinda.
Tasya yang mendengar ucapan Dinda seketika dia ingat, dia belum mengirim uangnya.
"Aduhh, maafin aku ya Din, aku belum transfer uangnya, aku akan suruh paman Marco mentransfer nya dulu" Tasya merasa bersalah.
"Baiklah, terimakasih" Ucap Dinda yang memaklumi nya.
"Aku tutup dulu telfonnya ya, nanti kalau aku sudah mentransfer uangnya aku akan mengabari kamu" Tasya kemudian memutuskan panggilannya. Lalu dia beralih menghubungi Marco.
Drttt...... Drttt...... Drttt...
Marco pun merima panggilannya.
"Halo, nona" Ucap Marco memulai pembicaraan.
"Paman Marco, apakah aku bisa meminta tolong padamu" Ucap Tasya.
"Apapun yang anda perlukan, pasti saya akan melakukannya" Jawab Marco.
"Aku minta paman untuk mengurus semua biaya rumah sakit keluarga temanku yang kemarin" Tasya meminta tolong.
"Baik nona, akan saya lakukan sekarang" Ucap Marco.
"Ya sudah, aku tutup dulu telfonnya" Tasya pun mematikan panggilannya. Dan Tasya pun mengirim pesan pada Dinda bahwa dia sudah mengirim uangnya.
Sebentar lagi bell masuk,Tasya berjalan ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran hari ini.
Sesampainya dikelas dia melihat semuanya sudah duduk dengan tenang, ya karena hari ini guru yang mengajar adalah guru yang sangat killer.
Kemudian Tasya melangkahkan kakinya menuju bangku yang masih kosong.
__ADS_1