
2 minggu kemudian.....
Pertunangan Stella semakin dekat, kini Tasya sudah menyiapkan hadiah yang akan menghancurkan Stella. Dia begitu menunggu hari itu akan datang.
Dikampus saat ini, Tasya sedang bersama Dinda. Dinda sudah kembali sejak tiga hari yang lalu, Tasya yang begitu senang karena Dinda sudah kembali, dia mengajaknya untuk berbelanja bersama.
"Din, kamu kan udah balik nih, kita belanja yuk" Ajak Tasya pada Dinda yang berada di sampingnya. Saat ini mereka sedang makan di kantin karena dosen yang mengajar tidak datang.
"Tapii... Aku kan nggak ada uang" Jawab Dinda. Tasya mendengus mendengar jawaban Dinda.
Tiba-tiba dari arah belangkang, Stella dan gengnya mendatangi mereka.
"Hayyy cewek cupu" ucap Stella. yang sepertinya akan membuat rusuh.
"hehh Stel, lo nggak nyapa si pecundang ini juga" Ajeng ikut menimpali.
"oh iya, gue lupa heyyy adik kesayangan" sapa Stella pada Tasya.
Tasya yang mendengarnya mendengus kesal, dan muak dengan yang Stella ucapkan tadi.
"Kalian ngapain sih, cari masalah mulu sama kita" ucap Tasya.
"Siap juga yang buat masalah sama lo" sahut Siska.
"Terus mau apa kalian kesini" Tanya Tasya dengan kesal.
"Cup.. cup.. cup jangan marah dong, gue kesini mau kasih kalian ini, sebagai kakak yang sayang dan baik sama adiknya, mana mungkin gue nggak ngundang kalian" Stella menyerah kartu undangan pertunangannya, sambil tersenyum mengejek. sebenarnya ada maksud lain dia mengundang Tasya dan Dinda, dia akan mempermalukan mereka berdua nanti di pestanya.
Tasya yang tau maksud Stella hanya tersenyum sinis. "Makasih kakak ku yang baik, aku akan datang dan memberikan kado yang spesial buat kamu" ucap Tasya sambil menerima undangannya.
Stella dan kedua temennya pun tertawa." heh, mau beri kado yang spesial, hahaha jangan mimpi paling juga, nanti lo minta sama om-om bayaran lo itu buat beli baju yang akan lo gunain untuk ke pestanya" ujar Ajeng.
"Kamu nggak usah belagu jadi orang, liat saja nanti!. udahlah aku sudah malas meladeni kalian, lebih baik kalian pergi dari sini" usir Tasya pada mereka, dia malas meladeni para perusuh itu.
"Heh gue juga males berurusan sama kalian yang miskin, ayo gays kita pergi" Ajak Stella pada gengnya. Mereka pun pergi dari sana, meninggalkan Tasya dan Dinda.
" Din nanti lo akan ikut kan ke pestanya si Stella? " Tanya Tasya pada Dinda.
"Aku kayaknya engga deh, soalnya aku nggak punya pakaian yang bagus untuk kesana, pasti disana banyak yang akn mengejekku" jawab Dinda.
__ADS_1
"kok kamu gitu sih, kamu ikut yah sama aku, nanti aku akan merias kamu, supaya gengnya si Stella itu nggak ngejek kamu lagi" Ajak Tasya.
"Tapi.. "
"Udahlah pokoknya kamu harus ikut titik" ucap Tasya yang tidak mau dibantah.
"Baiklah" Tasya pun menyetujuinya.
" Oh ya, kamu masih kerja sambilan nggak " Tanya Tasya.
Dinda menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Aku dipecat kemari, karena aku nggak masuk seminggu" Ucapnya.
Tasya tersenyum setelah mendapatkan ide. "Gimana kalo kamu kerja sama aku, gajinya lumayan kok" Usul Tasya.
"Emang kerjaan kamu apa? " Tanya Dinda.
"Aku kerja di perusahaan milik Daddy ku" Jawab Tasya.
"Tapi kan aku nggak ngerti yang kaya gituan" Ucap Dinda.
"Tenang aja nanti aku ajarin kok " Ucap Tasya meyakinkan.
"Besok" Jawab Tasya.
Dinda yang mendengarnya menjadi kaget. "Hahhh, cepet banget sih" Ucapnya.
"Lebih cepat lebih baik" Jawab Tasya.
"Kita pergi yuk udah siang nih, aku harus kekantor" Ajak Tasya.
Mereka pun berdiri dari duduknya, dan pergi dari sana. Tasya akan mengantarkan Dinda ke kontrakannya dulu setelah itu dia akan ke perusahaan.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan kontrakan Dinda. Kemudian Dinda keluar dari mobil Tasya.
"Aku langsung ya, besok aku tunggu kamu di perusahaan, ini kartu namaku" Ucap Tasya sambil menyerahkan kartu namanya.
Dinda pun menerimanya. "Oke, dahh" Dinda melambaikan tangannya saat mobil Tasya sudah pergi dari depan kontrakannya.
*******
__ADS_1
Tasya kini berada du perusahaan, dia sedang berbicara dengan Marco.
"Paman, besok temanku akan bekerja disni" Tasya memberitahukan maksudnya.
"Teman anda yang kemarin nona?" Tanya Marco.
"Iya, aku mau dia jadi sekertaris ku paman" Ujar Tasya.
"Tapi, nona apakah tidak berlebihan. Dan apa teman anda bisa melakukan pekerjaannya" Marco merasa cemas dengan maksud nonanya.
"Tidak apa-apa paman, nanti aku akan mengajarinya" Jawab Tasya.
"Baik nona" Marco pun menyetujuinya.
"Oh ya nona, kemarin tuan besar menelfon dia akan mengunjungi anda minggu depan" Marco memberitahu tentang Christian
Yang akan ke Indonesia.
Tasya menjadi senang mendengarnya. "Benarkah " Ucap Tasya merasa tidak percaya. Marco menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Baiklah paman, kapan Daddy akan sampai aku akan menjemputnya di Bandara? " Tanya Tasya pada Marco.
"Saya belum tahu nona, karena tuan tidak memberitahukan nya" Jawab Marco. "Nanti tuan akan menghubungi nona jika akan sampai" Lanjutnya.
Tasya pun menganggukkan kepalanya. " Ya sudah paman, tapi jangan lupa soal temanku yang akan bekerja disini " Tasya mengingatkan Marco soal dia yang akan menjadikan Dinda sebagai sekretarisnya.
"Saya tidak lupa nona, apa masih ada yang lain? " Tanya Marco.
"Tidak ada, itu saja paman " Jawab Dinda.
" Kalau begitu saya permisi nona" Ucap Marco.
Tasya hanya berdehem. "Hmmmmm"
Setelah itu Marco pergi dari sana, dan Tasya mulai mengerjakan dokumen yang belum diselesaikan.
Dan dia akan pulang setelah semua dokumennya selesai, hari ini dia akan bersantai sejenak. Dan nanti sore dia akan menghabiskan waktunya untuk olahraga di taman, sambil menyegarkan otaknya.
Dan utuk masalah Stella dia akan memikirkannya nanti lagi, hari ini dia akan menikmati waktu senggangnya.
__ADS_1