
"Ini semua sudah Bos."
Afran meneliti foto-foto yang dibawa para anak buahnya.
"Kalian udah ngikutin mereka selama dua minggu untuk dapet semua jadwalnya?" Tanya Afran melihat foto-foto kegiatan para target.
"Sudah Bos. Pak Dewo, dia selalu datang jam delapan pagi. Setiap jam satu siang dia selalu menjemput anaknya yang masih bersekolah dasar. Istrinya selalu mengomel kalau dia terlambat menjemput anaknya. Istrinya punya butik di kawasan Jakarta Timur. Dan dua anak perempuannya masih bersekolah di sekolah menengah pertama. Setiap hari minggu mereka mengadakan kumpul keluarga, berbelanja di mal, makan di restoran. Ada informasi nama sekolah, nama anak-anaknya, dan alamat butik istrinya. Juga nomor telepon istrinya." Lapor Diro yang mengintai Pak Dewo.
Afran mengangguk-angguk. "Lengkap juga. Bagaimana yang lain?"
"Eros jarang masuk kuliah dan sering menghabiskan waktu di tempat biliar. Dia didatangi mantan pacarnya.." Guna melaporkan sambil menunjukkan foto Eros dan seorang gadis.
"Hmm... Lesta."
"Mereka sepertinya sering ribut. Dan setiap malam Selasa, Kamis, dan Sabtu Eros balap liar di arena Blue. Malam lainnya, dia dan gengnya ada di Real Club'."
Afran menerima rekaman video pengintaian.
"Oke. Next?"
"Emon dan Don sering bersama di tempat spa dan apartemen. Mereka sering bermesraan di depan umum. Setiap hari Sabtu mereka berdua pergi ke vila di Bandung menghabiskan dua hari bersama. Ada video mereka sempat ribut karena keluarga Emon ingin menjodohkan dirinya dengan gadis kampung. Don memiliki keluarga yang terpandang di Batam. Keluarganya tidak tahu kalau kehidupan pernikahan Don tidak normal karena dia dan istri menutupinya." Lapor Toga.
"Boni memiliki hutang judi dan rumahnya sudah disita bank. Sekarang dia menumpang hidup bersama Bu Tina. Tapi setiap hari mereka hanya ribut dan ribut saja."
"Geng perempuan ini sering berkumpul di Chewy Cafe. Setelah makan-makan mereka lanjut ke diskotik. Setelah pulang dari diskotik mereka menginap di rumah Bella. Dan mereka selalu memesan pizza dari tempat yang sama."
Afran sungguh puas dengan kerja anak buahnya.
"Good job." Afran mengeluarkan amplop tebal. "Ini bayaran sesuai perjanjian. Dan stand by kapan pun gue panggil."
"Terima kasih Bos." Lima anak buah langsung meninggalkan rumah.
Muncul Geet dari dapur membawa sepiring pisang coklat buatannya.
"Gimana Fran? Udah dapet semua?" Geet duduk di sampingnya memperhatikan foto-foto di meja.
Aroma wangi lembut menerpa hidungnya membuat Afran menoleh.
__ADS_1
"Lo abis mandi kembang?"
Geet mendelik tajam. "Apaan sih lo, ngeselin banget. Komen kek, gue beli body lotion baru. Wangi kan?"
Afran terkekeh dan mengelus tangan Geet. "Iya lembut, wangi. Keliatan beda lo sama biasanya."
Senyum Geet mengembang sambil mengibaskan rambutnya. "Keren nggak? Gue bingung pas disuruh milih model rambut. Dikasih model begini katanya kayak girlband Korea." Rambut panjangnya dipangkas hingga sebahu dengan poni menutupi dahinya.
"Jadi kayak bocah, lo."
Geet mencibir. "Biarin. Kayak bocah. Daripada kayak sugar baby."
"Ya lo jadi sugar baby, gue jadi sugar brother nya deh."
"Iiihh makin ngaco mana ada sugar brother. Fokus dong, gimana ini?"
"Ehh iya iya.. lo sih bikin gue gagal fokus. Nih, gue dapet banyak info. Pak Dewo, menurut informasi setiap hari dia jemput anak laki-lakinya di sekolah dasar. Dan kalau dilihat dari foto yang diambil, gue rasa Pak Dewo ini suami suami takut istri. Istrinya galak. Dijamin Pak Dewo mati gaya kalau ada istrinya."
Geet berpikir rencana brilian.
Plaakkkk ..
"Awwwww apaan sih lo geplak geplak gue?" Omel Afran lengannya sampe merah kena tabok.
"Gue ada ide nih."
"Ide apaan?"
"Gini, kita bayar perempuan buat godain Pak Dewo. Bikin dia bucin sampe dia cuekin keluarganya. Pas waktunya jemput anak, godain tu sampai dia lalai jemput anaknya. Pasti istrinya marah-marah tuh. Abis itu, chat aja terus bahkan tengah malem tu perempuan manja-manja minta ketemu. Hidung belang kayak Pak Dewo bakal mupeng liat paha mulus dikit."
Alis Afran mengangkat. "Boleh juga tuh. Encer juga otak lo urusan bales dendam?"
"Ya gue empet sama dia pake kunciin gue di ruangan dan pegang-pegang bokong gue. Oke nggak ide gue?"
"Oke dong. Oke fix ya buat Pak Dewo, kita cari cewek seksi buat beraksi."
"Sip."
__ADS_1
"Terus Eros, dia udah putus sama Lesta. Kerjaannya balap liar, dugem nggak jelas. Kita adu domba aja dia sama Lesta."
"Boleh tu. Lesta kita cariin cowok buat jebak dia, Eros biar gue yang turun tangan. Gue bakal panasin si Eros dengan hack sosial media Lesta, tulis status yang jelek-jelekin Eros. Si Eros kan sombongnya selangit, nggak suka direndahin."
Afran mencibir. "Katanya nggak suka sama Eros, semangat amat pengen nyosor."
"Iiihhh jijik gue sama dia malahan.. yang pasti dia tau Lesta benci sama gue. Walau ogah sih gue deket-deket. Biar nggak perlu pdkt lagi. Ntar gue bikin situasi dia halu ketemu gue."
"Nggak ah! Nggak setuju gue. Kita bayar orang aja.."
"Kok gitu?"
"Gue nggak sudi ya ntar dia pegang-pegang lo. Udah tau tangannya tu nggak pernah disekolahin, main *****-***** liat cewek... Yang lain nggak pa-pa, lo jangan!"
Geet langsung mingkem sambil menahan tawa, dan merangkul Afran. "Cemburu ya?"
Afran mengendikkan bahu. "Siapa juga yang cemburu? Lo itu kalah badan sama si Eros. Ntar kalo lo lengah diapa-apain sama dia gimana?"
"Bilang aja cemburu.." goda Geet.
"Diihh kok lo jadi genit sama gue? Biasanya jutek mulu."
Geet merengut dan berdiri. "Ya udah deh gimana lo aja!" Geet malah ngambek dan berbalik pergi.
Afran berlagak biasa sambil melihat-lihat foto.
Bibir Geet sampe manyun lima senti dan berbalik. "Kok lo cuek sih gue ngambek?"
"Cewek kalo ngambek apalagi karena PMS nggak akan bisa dibujuk. Istirahat sana. Ntar gue bawain obat ngurangin sakit perut lo."
Geet sampai heran. "Kok lo tau gue lagi dapet?"
"Kemarin kan lo beli pembalut. Udah sana istirahat. Gue yang susun rencana besok pagi kita bahas sambil sarapan."
Geet merengut dan berbalik ke kamar. Diam-diam senang juga Afran peka.
***
__ADS_1