
Di ruang tunggu Lembaga Pemasyarakatan..
Geet tak berani mendongakkan kepalanya meski di hadapannya ada ayah kandungnya.
Sementara Afran di sampingnya berusaha tenang.
"Apa buktinya kalau kamu memang anak saya dan Santi?" Tanya Herald Hanjaya akhirnya. Sejak kedatangan Geet beberapa bulan lalu membuatnya gelisah, dan bertanya-tanya kenapa gadis itu tidak datang lagi.
Geet saling pandang dengan Afran yang tersenyum menenangkan.
Lalu Geet meletakkan kotak berukuran sedang di hadapan Herald.
"Kata Mama, ini semua barang-barang pemberian Papa. Aku simpan ini sebagai kenangan. Silahkan dilihat."
Herald menatap tangan itu gemetar.
Begitu kotak dibuka, Herald terdiam. Ada album foto, kotak musik, cincin pernikahan, dan surat yang ditulis Santi untuknya.
"Itu surat untuk Papa. Mama yang tulis, dan aku nggak pernah membacanya." Geet merasakan genggaman hangat Afran berusaha menenangkannya yang gugup.
Herald membuka amplop, matanya sudah berkaca-kaca lalu membaca isi surat.
*Mas Herald, aku sudah melahirkan putri Mas. Aku beri nama dia Geetazia. Dia sangat cantik seperti yang Mas inginkan. Aku tidak bisa menemui Mas karena Mbak Pamela melarang kita berhubungan lagi. Maka aku menyembunyikan Geet demi keamanan kami. Semoga suatu saat Mas Herald bisa bertemu Geet dan melihat betapa cantiknya putri Mas itu. Istrimu - Santi.*
Air mata Herald tak tertahan, langsung bercucuran membaca tulisan tangan Santi untuknya.
Geet saling pandang dengan Afran, matanya sudah berkaca-kaca.
Afran memeluk bahunya dan berbisik. "Hibur Papa kamu."
Tiba-tiba saja Herald berdiri dan memeluk Geet begitu erat sambil terisak.
Tangis Geet pecah merasakan pelukan hangat itu.
"Maafkan Papa Nak. Benar kamu anak Papa. Maaf atas yang Papa lakukan pada Mama kamu. Maaf kalau Papa sempat melukai hatimu saat kamu datang pertama kali."
Geet mengangguk, luka dan dendam yang selama ini mengikatnya hingga memupus harapan ayahnya mau mengakuinya, hilang sudah.
"Aku kira, aku sendirian sekarang. Tapi aku senang, Papa sudah mau mengakuiku. Aku cuma punya Papa."
"Ehm..."
Geet dan Herald kontan menoleh, Afran duduk di hadapan mereka dengan wajah tertekuk.
"Ini pacar kamu?" Tanya Herald.
"Ini calon suamiku, Pa." Kata Geet membuat Herald terkejut.
"Calon suami? Usia kamu baru sembilan belas tahun."
"Hari ini aku ulang tahun kedua puluh Pa." Jawab Geet membuat Herald lebih kaget.
"Kamu ulang tahun hari ini?"
Geet mengangguk.
__ADS_1
"Om, nama saya Afran. Saya sudah lama bertetangga dengan Geet. Bulan depan usia saya dua puluh empat tahun. Dan saya ini lulusan fakultas kedokteran. Saya meminta restu dari Om Herald untuk menikahi Geet."
Herald menatap Geet dan Afran bergantian.
"Saya mohon restui kami, Om."
"Nak.." Herald memandang Geet serius. "Kamu yakin dengan keputusan kamu untuk menikah muda?"
Geet mengangguk pelan.
Herald terdiam, sibuk dengan pikirannya.
Setelah beberapa saat, Herald akhirnya menyetujuinya. "Baiklah."
Geet sempat kaget ayahnya cepat merestui.
"Papa restui kami?"
"Nak, Papa sebenarnya terharu kamu masih menghargai Papa, meski Papa saat ini seorang narapidana. Citra buruk sudah melekat di masyarakat karena ulah Papa yang merugikan banyak pihak. Papa sudah tidak memiliki apa-apa untuk kamu. Tapi kalau menanti hukuman Papa selesai, Papa juga tidak akan tenang meninggalkan kamu sendirian di luar sana. Kalau Afran bersedia mengambil tanggung jawab, Papa akan sangat menghargainya dan tidak akan menghalangi kalian berdua. Papa ingin menebus kesalahan Papa padamu dan ibumu." Perkataan Herald membuat Geet dan Afran bisa bernafas lega.
"Terima kasih Om."
"Terima kasih Pa."
Geet berpelukan dengan ayahnya. Hatinya begitu lega. Pertemuan pertama ia dengan ayahnya diakhiri dengan kekecewaan, namun ternyata ayahnya mengalami perdebatan sengit di hatinya. Tapi kini, semua itu sirna. Karena ayahnya sudah kembali.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Herald.
"Hari ini." Jawab Afran membuat Herald terkejut, Geet pun sampai melotot kaget.
"Hari ini?"
Geet dan Herald dibuat tak bisa berkata-kata mendengar ketegasan Afran ingin menikahinya.
Jadilah diadakan akad nikah di ruang tunggu Lapas disaksikan para petugas Lapas.
Geet tak berias, hanya mengenakan kain putih yang berguna sebagai kerudung, wajahnya dipoles bedak dan lipstik saja. Dan Afran yang hanya berkemeja putih.
Ada petugas Lapas yang mengabadikan momen tersebut dengan video.
Begitu Afran menjabat tangan Herald, terasa sekali ketegangan keduanya, berkeringat dingin karena gugup.
"Afran Ardiansyah bin Abdul Aziz, saya nikahkan dan kawinkan putri saya Geetazia binti Herald Hanjaya dengan mas kawin perhiasan emas lima puluh gram dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Geetazia binti Herald Hanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Begitu para saksi menyatakan SAH, semua mengucapkan doa. Terutama Geet yang langsung menitikkan air mata.
Geet dan Afran langsung memeluk Herald yang langsung menitikkan air mata haru.
"Terima kasih Pa."
"Afran, jaga anak Papa baik-baik."
"Pasti Pa. Papa jaga diri. Setelah Papa bebas, kita akan tinggal bersama." Kata Afran membuat Geet bahagia bisa berkumpul dengan ayahnya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih. Sering-sering datang ke mari. Papa senang ada yang berkunjung."
"Pasti Pa. Aku akan datang bawakan makanan. Afran jago masak lho Pa."
"Oh ya? Berarti Papa nggak khawatir putri Papa bakal kekurangan gizi. Menantu dokter pasti sangat menjaga kesehatan putri Papa."
Afran tersipu malu jadinya.
"Kalian yang akur. Jangan lupa cepat beri cucu untuk Papa."
"Ooohh itu pastinya, Pa! Aku akan bikin malam ini juga, doakan perjuanganku ya, Pa... Kami bakal rajin bikinnya biar Papa bebas cucu-cucu udah sebelas... Aduuhh...." Afran meringis dijewer Geet.
"Malu dong ngomongnya nakal banget! Enak aja punya anak sebelas emang pemain bola!"
"Ya kan rumah kita gede, sayang. Anak banyak juga masih ketampung."
"Iiihhhh..." Geet sungguh malu Herald sampai menahan tawa.
Kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
Tak ada lagi sedih, luka, dan dendam. Yang ada hanya kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya.
***
Malamnya, Geet duduk di ruang tengah sambil menonton TV sementara Afran sibuk di kamarnya entah berbuat apa.
Geet menggosok kedua tangannya, begitu gelisah. Malam ini malam pertama mereka sebagai suami istri.
Apa yang akan terjadi???
"Sayang, kamarnya udah siap."
DEG.
Geet sampai belingsatan begitu Afran keluar kamar mendekatinya.
"Kenapa? Kok tegang gitu?" Afran duduk di sampingnya, tangan kanannya merangkul bahu Geet sambil menggenggam tangan kirinya.
"Ngg... Bakal sakit nggak?" Geet kegelian Afran menciumi telinga dan lehernya.
Alis Afran kontan berkerut. "Sakit apa?"
"Ya katanya, kalau malam pertama, bakal sakit. Aku jadi ngeri." Kekhawatiran Geet membuat Afran terkekeh geli.
"Aku juga nggak tau. Kan ini juga pertama kali buat aku. Yang pasti, sakitnya pertama kali aja. Begitu robek. Tapi nggak akan lama sakitnya."
Bukan cuma Geet, sebenarnya Afran pun gugup namun berusaha tampil berani. Ia harus bersikap dewasa dan membuat istrinya yang baru saja berusia dua puluh tahun ini nyaman.
"Mulai sekarang, lupain yang lalu-lalu. Semua sudah dapat karmanya masing-masing, dan nggak perlu lagi kita usik mereka. Sekarang kita fokus untuk masa depan. Untuk rumah tangga kita. Dan rencana masa depan kita berdua. Jangan pernah pendam apapun, ungkapkan sama aku apapun yang membuat kamu nggak nyaman. Nggak ada rahasia, ini semua demi kelangsungan pernikahan kita. Ya sayang?"
Hati Geet menghangat mendengar setiap kata terucap dari bibir Afran. Ketakutannya mulai luruh dan lebih percaya diri.
"Ya udah, jadi malam ini boleh nggak kita main itu?" Tanya Afran membuat Geet terkekeh, lalu merentangkan kedua tangannya.
"Tapi gendong."
__ADS_1
Dengan semangat pejuang melawan penjajah, Afran langsung menggendong Geet ala pengantin bergegas menuju kamar yang sudah dirapihkan. Walau percuma sudah rapih karena akan ada perang sengit di ranjang malam ini.
***