
"Sial!" Umpat Sherry begitu jalan pulang naik motornya.
"Gimana bisa gue dituduh ngeracunin? Dan lagi, gimana bisa obat itu ada di saku gue?"
Ia mencoba mengingat, barusan kurir pizza datang. Ia yang membayar. Lalu kurir itu memberikan uang kembalian berupa uang yang digulung. Langsung saja ia masukkan itu ke dalam sakunya.
"Apa kurir pizza itu yang udah masukin racun?"
Di lampu merah, Sherry menghentikan motor.
Jalanan cukup padat padahal sudah hampir tengah malam.
"Gila banget kan gue diusir!"
"Hay mantan geng..." Sapa seorang gadis di mobil sebelahnya.
Sherry menyipitkan matanya tak mengenal gadis yang memakai kacamata dan berambut sebahu.
"Kasian ya, sekarang lo udah dibuang sama geng lo. Lo itu, cuma sampah. Yang pantes dibuang karena cuma mencemari udara."
Meski gelap dan lampu jalan tak terlalu jelas, ia bisa mengenali.
"Lo... Cleaning service???" Geet ada di sini??? Bukannya dia udah dibuang di gedung kosong itu??
Begitu lampu hijau, Sherry melajukan motornya menyusul mobil yang membawa Geet.
"Jangan-jangan ini semua ulahnya! Dia bikin gue dikeluarin dari geng! Gue harus bales dia..."
Sherry menambah kecepatan motornya berusaha menyusul mobil yang gila-gilaan melaju di jalanan.
"Duuhh ngebut banget, lagi! Gue harus... Ehh kenapa nih motor??? Ehh... Ehh... Aaaaaakkkkkhhhh...."
Brukkkkkk...
__ADS_1
***
Akibat kecelakaan motor hingga terpental jauh, Sherry dilarikan ke rumah sakit.
Kondisinya cukup parah.
Geet dan Afran yang mengantarnya.
"Sampe kecelakaan gitu, tapi kita nggak salah kan Fran?" Tanya Geet cemas.
"Ya enggak lah. Ini kecelakaan tunggal. Kayaknya motor yang dipake Sherry bermasalah."
"Tapi gue masih nggak ngerti kok bisa botol obat itu ada di sakunya Sherry?" Tanya Geet.
"Waktu kurir kasih uang kembalian, botol itu ada di dalam gulungan uang kertas. Begonya tu cewek nggak nyadar."
"Tapi nggak bahaya kan?"
"Cuma obat cuci perut. Sama aja dengan detox racun dalam tubuh. Sebenarnya setelah itu badan mereka bakal lebih ringan dan bugar."
"Gimana Fran?" Tanya Geet begitu dokter pergi.
"Sherry udah sadar. Tapi dia nggak bisa gerakin tangannya, dan syaraf bicaranya juga terganggu."
Dalam kondisi normal jelas Geet kasihan dengan kondisi Sherry. Namun mengingat perlakuannya yang begitu kejam, bahkan sempat menginjak kepala Geet begitu akan dibuang, rasanya Geet puas melihat kondisi Sherry.
Geet masuk ke ruang UGD.
Sherry kontan terkesiap melihatnya datang, matanya melotot, ingin menjerit namun tak bisa.
Geet tersenyum sinis. "Gimana? Sakit?" Ia mendekat dan berbisik di telinganya. "Ini nggak sebanding dengan apa yang udah kalian lakuin ke gue."
Sherry menegang. Apa?? Jadi ini ulahnya?? Gue dikeluarin dari geng sampai gue kecelakaan, ini semua perbuatan Geet! Gue harus kasih tau Bella. Tapi, kenapa suara gue nggak keluar? Ini tangan kaki gue juga kenapa??
__ADS_1
"Mau ngapain lo?" Geet melihat kondisinya dari kepala sampai kaki.
Ia mengalami patah tulang kaki dan harus dibebat. Tangannya pun mati rasa.
"Lo udah nggak bisa ngapa-ngapain." Geet tertawa licik. "Gue tau kok lo kepengen kasih tau mantan geng lo kalau gue masih hidup. Tapi yahhh... Lo nggak bisa apa-apa. HP lo aja udah ancur. Lo terima nasib aja."
Sherry ingin membalas namun tak bisa.
"Ini akibatnya, terlalu ngeremehin orang. Lo udah terlibat celakain gue, dan lo dapat balasannya. Kata dokter, lo bakal cacat seumur hidup.."
Apaa???
Cacat seumur hidup???
Sherry kontan berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak bisa.
"Gue pergi dulu. Nanti rumah sakit bakal telepon orangtua lo ke mari."
Teringat sesuatu, Geet berbalik lagi dan tersenyum manis.
"Lo nggak usah ngarep sama Delon lagi. Dia juga mana mau sama orang cacat kayak lo."
Sherry mengerutkan kening, tanda bingung.
"Ya. Gue udah bayar Delon buat berlagak deketin lo sama Geeta. Padahal dia nggak ada tertarik sama kalian berdua. Puas gue sekarang dengan kondisi lo."
Geet meninggalkan ruangan UGD membuat air mata Sherry mengalir.
Delon cuma mainin gue??
Tapi apa yang bisa gue lakuin sekarang??
Gue cacat seumur hidup??
__ADS_1
***