
D'Ranz Resto..
Geet mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Mereka di mana ya?" Afran ikut mencari dan menemukan dua sejoli sejenis itu sedang makan berdua di meja pojok.
"Geet, itu orangnya. Ih najis kelakuannya, masa' suap-suapan sama cowok?" Afran merinding sendiri.
"Lo belum liat aja yang lebih gila. Gue bahkan pernah pergokin mereka mandi bareng, yang dijamin nggak cuma mandi, pasti main pedang."
Mereka berdua duduk agak jauh mengintai Emon dan Don yang sedang bermanja-manja.
"Selamat siang Kak. Mau pesan apa?" Waitress mendekat.
"Geet, mau pesan apa?"
"Pesen cah kangkung seafood sama ayam bakar madu. Minumnya jus jeruk."
"Saya samain aja. Minumnya air putih saja."
"Baik, ditunggu ya Kak."
Begitu waitress berlalu, mereka memperhatikan tingkah Emon dan Don.
"Gimana? Siap nonton pertunjukan seru?" Tanya Afran membuat Geet bingung.
"Pertunjukan apa?"
Afran mengeluarkan HP yang digunakan membalas dendam pada Emon dan Don.
Di dalamnya sudah ada lengkap foto-foto mesra, semua kontak telepon keluarganya Don. Orang bayarannya melakukan tugas dengan sangat baik, info sekecil apapun didapat.
Langsung saja Afran mengirim foto kemesraan itu pada orangtua Don yang katanya keluarga terpandang di kotanya.
Tak lama kemudian, begitu Geet dan Afran sedang menikmati makanannya, Afran melihat Emon dan Don berdebat dengan Don menunjukkan HP nya.
"Tuh liat. Udah ribut mereka."
"Mereka ngomong apa sih?" Geet menajamkan pendengarannya.
"Mas Don, bukan Momon yang kirim itu ke Tante Lani! Momon juga nggak tau kok bisa ada foto itu??"
"Aku kecewa sama kamu, Mon! Kamu udah ngerusak semuanya! Pernikahanku, keluargaku! Kamu hancurin semuanya! Dari awal ini tujuan kamu?"
"Mas Don, Momon berani sumpah bukan Momon yang kirim foto itu."
"Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu kecewa kan cuma jadi pacar gelap ku? Makanya kamu ngerusak citraku di depan keluargaku?"
"Nggak gitu, Mas. Momon nggak ngelakuin apa-apa! Momon aja nggak tau nomor telepon keluarga Mas Don."
"Mau ngeles apa lagi Mon? Cuma nomor telepon gampang kamu bisa buka HP ku. Dan kali ini kamu keterlaluan! Aku kecewa sama kamu, Mon!"
"Mas Don, dengerin penjelasan Momon...!"
Begitu Don dan Emon keluar restoran, Geet dan Afran saling pandang.
"Sukses kan?"
Afran mengacungkan jempol.
Geet sungguh puas membayangkan tingkah keduanya yang begitu merendahkannya. Bagus kalau keduanya berpisah.
Tiba-tiba terdengar keributan dari luar.
Bergegas Geet keluar restoran ingin melihat ada apa, dan melihat Emon tergeletak di aspal dengan berlumuran darah dikerubungi beberapa orang.
__ADS_1
"Emon??!" Geet bergegas menghampirinya yang sudah tak sadarkan diri.
"Ini kenapa Pak?"
"Barusan Mas ini didorong sama Mas yang satunya ke depan motor saya, jadi ketabrak.."
"Lho terus yang satu lagi mana?"
"Udah kabur, Mbak."
Geet jadi cemas melihat kondisi Emon.
"Geet, kenapa ini?" Muncul Afran kaget melihat darah berceceran di aspal.
"Mas Don ngedorong Emon sampai Emon ketabrak motor, Fran.."
"Lah terus, orangnya mana?"
"Udah kabur. Mending kita bawa dia ke rumah sakit."
"Ya udah ayo.."
Dibantu beberapa orang, Emon dibawa ke mobil Afran.
***
Emon segera ditindak di UGD, membuat Geet tak bisa tenang.
HP nya berdering, dari Afran.
"Iya Fran, gimana?"
"Gue lagi di TKP. Polisi lagi periksa rekaman CCTV. Secepatnya, Don akan ditangkap."
"Harus secepatnya. Dia harus dihukum berat. Emon sampai kritis gara-gara dia!"
"Belum. Makanya gue masih nunggu di sini. Gue takut dia kenapa-napa, Fran. Gue emang benci dan dendam sama dia. Tapi liat dia begini gue juga nggak tega. Kalau dia kenapa-napa, apa yang harus gue bilang sama keluarganya?"
"Geet, lo tenang dulu. Tunggu Emon sadar, lo bisa bicara baik-baik sama dia. Yang pasti, ini semua bukan salah lo. Lo itu korban pelecehan mereka. Tapi lo masih khawatir sama Emon karena dia temen lo."
Geet membenarkan, memang Emon membuat kesalahan besar dengan merendahkannya. Ia selalu mengira Emon sahabat sejatinya yang tak akan pernah menyakitinya, karena itu ia amat kecewa. Tapi bagaimanapun juga, Emon banyak membantunya. Disaat semua membuatnya muak karena terus di-bully, hanya Emon yang bisa ia andalkan melindunginya.
"Geet, gue jamin, Don akan segera ditangkap polisi, dia akan dapat ganjarannya udah ngelecehin lo, dan celakain Emon. Selesai dari kantor polisi, gue nyusul lo ke rumah sakit."
Begitu telepon ditutup, dokter keluar ruangan.
"Dok, gimana dengan kondisi teman saya?" Tanya Geet langsung.
"Pasien mengalami gegar otak karena benturan keras di kepalanya. Dan..." Dokter agak ragu memberitahu.
"Dan apa Dok? Kondisinya parah? Tapi bisa sembuh kan?"
"Begini, ada hal lain yang lebih parah."
"Apa itu Dok?"
"Awalnya yang terlihat Pasien hanya kesakitan, dan ternyata Pasien mengidap penyakit kelamin. Bagian lubang an*s nya terluka parah dan *********** terluka seperti melepuh."
Geet menutup mulut berusaha tidak teriak. Emon kena penyakit kelamin??
"Penyakit kelamin?? Gimana bisa Dok?"
"Penyakit ini biasanya menular dari hubungan s**s. Dan kondisi tubuh Pasien yang lemah, saya perkirakan Pasien tidak bisa bertahan hidup lebih lama."
Sungguh miris membayangkan kesakitan Emon. Ternyata selama ini Don mengidap penyakit kelamin menular dan kini Emon tertular hingga sekarat.
__ADS_1
"Mon.."
Emon yang terbaring penuh luka membuka mata dan terkejut.
"Geet?"
Geet duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Emon sambil terisak.
"Lo kenapa bisa begini, Mon? Apa lo udah lama tau kalo Mas Don itu sakit?"
Emon menangis tersedu-sedu. "Aku udah lama tau. Tapi Mas Don meyakinkanku, kalau dia sudah sembuh. Tapi ternyata, penyakitku udah parah. Bahkan dokter vonis hidup aku hanya hitungan bulan." Emon mendekap tangan Geet di dadanya. "Aku minta maaf, Geet. Udah ngerusak persahabatan kita. Aku nyesel nurutin kemauan Mas Don untuk maksa kamu..."
"Udah Mon, jangan dibahas lagi.." potong Geet sambil menghapus air matanya. "Gue udah maafin lo. Nggak usah diomongin lagi. Sekarang yang penting kondisi lo. Lo beneran nggak bisa sembuh? Lo udah pernah berobat?"
Walau tadi dokter sudah menjelaskan kondisi Emon yang mungkin tak akan bertahan hidup lebih lama, Geet tidak ingin melukainya dan ingin sedikit menghiburnya.
Pria kemayu yang biasa tersenyum bersama Geet, kali ini terbaring tak berdaya.
"Ini hukuman buat aku. Aku sadar yang aku lakukan selama ini salah. Hanya berdasar nafsu, dengan imbalan harta. Dan aku udah dapat ganjarannya. Ternyata harta nggak menjamin hidupku bahagia." Emon membusungkan dada sulit bernafas.
"Mon, lo kenapa Mon?? Gue panggil Dokter ya..."
"Geet... Aku minta tolong, jangan biarkan keluargaku tau tentang Mas Don dan penyakitku. Aku nggak mau membuat mereka malu.. hhhhh...."
"Mon, Emon... Emon bertahan!"
Genggaman tangan Emon melonggar dan matanya terpejam.
"Emonnn!! Dok, dokter! Emon kenapa, Dok??"
Dokter datang langsung memeriksa kondisi Emon dan menyorotkan senter ke matanya, lalu memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya.
Lalu Dokter menggeleng. "Pasien sudah meninggal dunia."
Geet menutup mulut menahan tangisnya. Emon sudah meninggal??
***
Don ditangkap polisi begitu hendak kabur ke luar kota.
Pria berbadan besar itu berontak tak ingin ditangkap, karena merasa tak bersalah.
Namun kesaksian orang sekitar dan rekaman CCTV membuktikan memang Don yang mendorong Emon hingga tertabrak motor.
Jenazah Emon langsung dikirim ke kampungnya, dengan polisi mendampingi memberitahu Emon meninggal karena kecelakaan. Sesuai permintaan terakhir Emon agar keluarganya tidak tahu kalau Emon terkena penyakit yang ditularkan pasangan sesama jenisnya.
Menghormati permintaan Emon, Geet menutupinya.
Geet sendiri tak sanggup ikut apalagi bertemu keluarga Emon. Tak mengira Emon akan meninggal seperti ini.
Ia hanya terisak teringat Emon.
Afran hanya bisa memeluknya berusaha menenangkan.
"Kasian Emon, Fran. Gue nggak nyangka dia mati semuda ini. Umurnya bahkan baru dua puluh tahun."
Afran mengusap kepala Geet penuh sayang. "Yah mau gimana lagi, Geet? Hidup, mati, jodoh, semua rahasia Allah. Nggak ada yang tau kapan akan datang kematian. Sayangnya Emon mati dalam kondisi buruk. Kita berdoa aja untuk ketenangan Emon."
Geet menghapus air matanya. "Mas Don pasti dihukum setimpal kan?"
"Itu pasti. Udah jangan sedih lagi. Masih banyak yang perlu kita lakuin."
Afran ke dapur dan mengambil palu, menghancurkan HP yang digunakan membalas Emon dan Don, begitu sudah hancur berkeping-keping, ia buang di tong sampah.
"Nggak nyangka begini endingnya. Kasian Geet, dia ngerasa kehilangan sahabatnya."
__ADS_1
***