Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 48


__ADS_3

Lima tahun kemudian...


Geet dan Afran menunggu di luar gerbang Lapas.


"Sayang, makin panas ini. Kamu tunggu di mobil aja." Afran menghapus keringat di dahi istrinya dengan tisu.


"Aku mau ketemu Papa. Papa kan bebas hari ini."


"Bebas bersyarat, sayang."


Herald Hanjaya mendapat remisi hukuman dengan syarat tidak bisa meninggalkan kota selama sisa masa hukuman berlangsung.


Begitu saja membuat Geet gembira bisa berkumpul lagi dengan ayahnya.


Geet sungguh rindu pada ayahnya karena sudah enam bulan belakangan ini tidak berkunjung, karena menemani Afran untuk riset tesisnya di luar kota.


"Bunda, kita mau ketemu Opa kan?" Tanya seorang gadis kecil berusia tiga setengah tahun.


"Iya sayang, Opa akan pulang sama kita."


"Aciiikk.. jadi Opa bica temenin Yeca main belbie ya Bun?"


Geet dan Afran kontan tersenyum mendengar ocehan Yesha putri mereka.


"Masa' Opa diajak main Barbie, Nak? Mending ajak Opa main dokter-dokteran." Kata Afran sambil menggendong Yesha.


"Oh nanti Opa Yeca cuntik kalo gitu..."


"Iya suntik aja Opa sampe sembuh ya?" Afran mengecup pipi putrinya begitu gemas. Pipi gembul dan rambut hitam lebat sangat persis seperti Afran.


"Kacamata Ayah mecolot .. idung Ayah pecek."


"Merosot maksud Yesha ya? Masa' idung Ayah pesek? Idung Yesha yang pesek. Tapi cantik mirip Ayah."


Geet senyum-senyum melihat kedekatan Afran dengan putri mereka.

__ADS_1


Afran sangat memanjakan Yesha bahkan sampai menyiapkan dana pendidikan hingga ia menempuh pendidikan magister.


Geet sendiri begitu bangga pada suaminya yang sangat mencintai keluarga. Bagi Afran, keluarga yang utama.


Ia melihat jam tangannya. "Udah siang begini, kok belum keluar juga?"


"Sabar sayang, sebentar lagi pasti keluar.."


Begitu pintu gerbang terbuka membuat Geet tak sabar menanti yang akan keluar dari sana.


Benar saja, tak lama Herald Hanjaya keluar membawa tas dengan kemeja yang sudah pudar warnanya.


"Papa!" Jerit Geet langsung berlari menuju ayahnya.


"Sayaaangg.... Hati-hati!" Teriak Afran, bergegas menurunkan Yesha dan menghampiri mereka.


"Anak Papa, akhirnya Papa bisa bebas..." Herald memeluk Geet penuh haru. Begitu lega dengan keputusan memberinya remisi hukuman walau bersyarat dan masih menjadi tahanan kota.


"Aku kangen sama Papa..." Geet mengeratkan pelukannya.


"Sayang, jangan lari-lari gitu kamu kan lagi hamil.." omel Afran membuat Herald tersentak dan memandangi putrinya.


"Kamu lagi hamil, Nak?"


"Iya Pa. Udah lima bulan."


"Masya Allah... Papa tadi ngira kamu cuma gemukan. Kamu nggak boleh lari-lari kayak tadi. Bahaya. Gimana kalau kamu jatuh??" Herald malah mengomel membuat Geet cengengesan.


"Saking senengnya Papa udah bebas."


Herald mengelus perut putrinya, masih khawatir. "Lain kali jangan begitu lagi. Ada calon cucu Papa. Jaga baik-baik."


"Siap Pa. Nggak lagi-lagi deh. Sayang, maaf... Bikin kamu khawatir.." Geet memeluk lengan suaminya agar tidak marah.


"Iya tapi lain kali hati-hati, sayang. Kamu bawa hasil kerja keras aku setiap malem sampe kita sering ngeguling dari tempat tidur. Susah lho bikinnya." Perkataan Afran kontan membuat Geet malu abis.

__ADS_1


"Opaaaa..."


"Ehh cucu cantik Opa ini...!" Herald langsung menggendong Yesha yang memeluknya.


Sejak Yesha masih bayi Geet rajin membawanya menjenguk kakeknya di Lapas hingga Yesha begitu mengenal Herald sebagai kakeknya.


"Kita makan dulu yuk? Aku laper, sayang..."


"Iya. Kita bawa Papa makan di restoran favoritnya Yesha."


Berempat mereka meninggalkan kawasan Lapas yang menjadi saksi ayahnya menjalani hukuman selama hampir enam belas tahun penjara.


***


Kebahagiaan yang datang bertubi-tubi membuat Geet tak henti bersyukur.


Ia selalu mengira hidupnya kelam selama dua puluh tahun hidup. Menjadi tertindas, direndahkan, dan menjadi korban bully.


Namun ia pun berhak untuk bahagia.


Mendapatkan suami seperti Afran yang begitu mencintainya dalam segala kondisi.


Bahkan ketika mengandung Yesha, Geet begitu lemah hingga tak bisa bangun dari tempat tidur. Hingga tak tahan buang air kecil. Namun Afran begitu sabar membersihkannya. Bahkan suaminya tidak merasa jijik membantu membersihkan kotoran di tubuh Geet.


Membuatnya makin mencintai Afran yang begitu tulus padanya.


Terutama begitu Yesha lahir, tangisannya yang nyaring, dan begitu cantik, membuatnya merasakan kebahagiaan tak ternilai.


Membayangkan bayi secantik itu hidup dalam rahimnya selama sembilan bulan lamanya.


Dan sekarang, ia akan melahirkan anak kedua.


Afran sudah menyandang gelar dokter spesialis jantung. Dia sudah menyelesaikan kuliah magisternya dengan predikat cumlaude.


Afran ingin keluarganya turut serta hadir dalam wisudanya.

__ADS_1


***


__ADS_2