Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 25


__ADS_3

Mobil berhenti di parkiran membuat Geet beringsut menegakkan duduknya.


"Katanya mau pulang, kok malah ke mari?"


Afran mematikan mesin mobil. "Belom juga jam sembilan malem. Lagian kita juga udah gede, nggak ada yang nungguin kita pulang di rumah. Ya kita jalan-jalan aja dulu. Bukannya lo suka di tempat ini?"


Geet memandang kereta gantung putar di pasar malam. Jadi teringat Huza.


Melihat raut wajah Geet, Afran tersenyum getir. Jelas gue tau apa yang lo suka, Geet. Semua kenangan kalian berdua hadir di mimpi gue. Begitu jelas membuat gue merasa bersama kalian, batinnya.


"Kita balik aja." Kata Geet membuat Afran bingung.


"Kenapa? Kita jalan-jalan aja dulu. Naik kereta gantung seru tuh."


"Justru gue nggak mau naik itu."


"Kenapa?"


Geet terdiam. Tak mau menjawab.


Afran melepas seat belt dan melepas seat belt Geet. Merapatkan jaketnya dan merapikan rambut gadis itu.


"Jangan bete lagi. Gue minta maaf kalau ngerusak mood lo."


Geet diam saja namun tak menolak perlakuan manis Afran.


"Kita pergi main dulu ya. Jarang-jarang lho ada pasar malem begini."


Setelah dibujuk, Geet mau ikut.


Bergandengan tangan mereka memasuki arena pasar malam yang hiruk pikuk.


Geet jadi murung lagi. Huza, gue kangen sama lo, batinnya. Tanpa sadar air matanya menitik.


Tiba-tiba Afran menarik Geet dalam pelukannya, dan menempelkan kepalanya di dada kiri. Agar Geet mendengar detak jantung Huza di tubuh Afran.


"Setiap lo nangis, apalagi teringat sama Huza, yang ini sakit rasanya. Jadi please, sharing sama gue apapun kesedihan lo. Biar kita selesaikan sama-sama."


Geet terisak beberapa saat mendengar detak jantung Huza seperti berkomunikasi dengan pria itu.


Lo harus hidup dengan baik, Geet.. lo juga berhak bahagia.


Terdengar suara Huza di telinganya.


Usapan lembut di kepalanya membuat hatinya menghangat.


Ia melepas pelukannya dan menghapus sisa air matanya.


"Lo tunggu di sini sebentar."


Geet bingung melihat Afran pergi, lalu mendongak ke atas arah kereta gantung yang berputar.


"Kali ini gue harus beli tiket kayaknya, Za. Dan harus ngantri kayak yang lain. Kalau gue pergi sama lo, kita naik aja nggak usah ngantri. Bahkan nggak ada batas kita mau naik berapa putaran."


Ia asyik bernostalgia mengingat kencannya dengan Huza ketika dirinya koma.

__ADS_1


"Nih buat lo.."


Geet menoleh dan melotot melihat yang dibawa Afran. Dua bungkus permen kapas.


"Permen kapas. Lo kok tau gue kepengen beli permen kapas??" Geet tersenyum lebar.


"Nggak ada yang gue nggak tau. Kita udah terikat dan sehati. Jadi jangan coba bohong, karena ini jantung gue kasih tanda kalo lo bohong."


Geet tersenyum mesem.


Afran menggamit tangan Geet.


"Mau ke mana?"


"Ikut aja."


Afran membawanya naik kereta gantung.


Pria itu memilih nomor 13.


Geet benar merasa Huza bersamanya. Afran membuka kenangan mereka.


Ketika kereta gantung mulai berputar, Geet mulai tersenyum.


Kali ini terasa beda, ia merasakan hembusan angin dan getaran kereta.


"Waahhh seru banget nihhh...."


Afran tersenyum melihat Geet ceria.


"Iya. Dari sini keliatan kan pemandangan di bawah. Ntar kita main lempar bola ya, gue bakal dapetin hadiah buat lo."


Geet mencibir. "Emang bisa? Kirain cuma bisa pake pisau doang."


"Eh ngeremehin gue. Liat aja gue bikin lo jatuh cinta sama gue ntar.."


"Coba aja kalo bisa." Tantang Geet membuat Afran geregetan dan menariknya duduk di pangkuannya.


Saking terkejutnya Geet sampai melotot apalagi begitu tangan Afran melingkari pinggangnya.


"Lo harus tanggung jawab gara-gara tadi di mobil gue jadi kebawa perasaan.."


Geet menatapnya bingung. "Yang mana?"


"Ya waktu lo narik gue sampe rebahan di paha lo, lo kata gue bukan laki-laki normal diem aja digituin?"


"Gue kan bukan sengaja. Lo baperan deh.."


"Tapi gue jadi pengen deket-deket lo."


Geet kontan waspada. Jantungnya berdetak kencang melihat pria berkacamata berwajah tampan di dekatnya.


Baru saja Afran mendekat hendak mencium Geet, kereta gantung berhenti dan ada petugas membukakan pintu.


"Satu putaran lagi dong, Mas." Afran jadi kesal.

__ADS_1


"Lagian bukan dari tadi nyosornya, Mas. Udah pada ngantri itu." Ledek petugas membuat Geet merona malu dan turun dari kereta gantung.


Diikuti Afran yang cemberut.


Geet cekikikan. "Waktu gue jadi arwah, malah nggak kenal waktu terus aja muter sampe tutup pasar malamnya. Sekarang malah dibatasi."


Afran merengut adegan kiss nya terhenti. Padahal tinggal satu senti.


"Ayooo katanya mau main lempar bola.." Geet menarik-narik tangan Afran yang cemberut aja.


Malas-malasan Afran mengikuti.


Sepanjang permainan lempar bola, Afran tak semangat.


Sampai mereka kembali ke mobil.


Geet menguap lebar dan tertidur.


Afran melajukan mobilnya meninggalkan kawasan pasar malam.


***


Satu jam kemudian mereka tiba, namun Geet masih tertidur pulas.


Tanpa membangunkan, Afran menggendong Geet masuk rumah.


Begitu merebahkan tubuhnya di ranjang, Afran menyeka keringat yang membasahi dahinya.


"Berat juga ni cewek.." gerutunya, sambil melepas sepatu dan kancing celana jins nya agar gadis itu bebas bernafas.


Setelah itu ia selimuti Geet dan mengusap kepalanya.


"Lo pasti capek." Ia mengecup kening Geet sekilas.


Geet menggeliat mengubah posisinya menjadi miring.


Afran senyum-senyum mengingat barusan ia gagal mencium Geet. Kontan melihat bibir tipis berwarna pink menggoda membuatnya terpikir sedikit mencuri cium.


Ia kontan menggeleng. "Gue harus gentle lah masa' nyium cewek lagi tidur."


Ia langsung keluar kamar setelah mematikan lampu kamar.


Afran ke dapur membuat secangkir kopi dan duduk di ruang tengah memeriksa laptopnya.


"Gue udah kirim orang untuk nyusup ke gedung itu. Mudah-mudahan dia nggak ketangkep."


Ia sungguh marah ada yang sekejam itu mempermainkan nyawa manusia. Setelah mengambil yang ada di tubuhnya korban dikubur begitu saja.


Ia mendapat pesan dari orang suruhannya.


#Tanggal 24 ada pencarian calon korban. Rute mereka ambil jalur Utara dari gedung.#


Afran berpikir rencana mencegah penculikan korban.


"Lebih baik gue begal mobil yang bawa calon korban. Rute yang mereka lewati tempat yang nggak lazim dilalui mobil. Gue harus kirim orang buat tebarin banyak paku, dan lapor polisi. Kalau terlalu lama, akan makin banyak korban."

__ADS_1


***


__ADS_2