Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 46


__ADS_3

Sudah seminggu lewat kasus sindikat ini masih diberitakan besar-besaran.


Para pendukung Huza Adrian yang mengetahui idolanya sudah meninggal menyampaikan duka lewat sosial media.


Dari pihak VR TV menyatakan belasungkawa meninggalnya kontestan berbakat.


Geet dan Afran pun berusaha tidak larut dalam kesedihan.


Misi mereka sudah selesai.


Tujuan sudah tercapai.


Membuat mereka bisa bernafas lega tak terikat dendam lagi. Semua sudah mendapat ganjaran setimpal.


Walau mengingat itu Geet sedih lagi karena harus kehilangan Emon dan Tina.


Meski kecewa, Geet sangat menyayangi sahabat dan tantenya itu.


Dan menyayangkan keduanya mati sia-sia.


"Geet, aku masak spaghetti nih. Makan ya?" Afran membawakan sepiring spaghetti, dan mematikan TV.


"Kok dimatiin?"

__ADS_1


"Mau liat apa lagi? Udah nggak usah dipikirin. Misi kita udah tuntas. Sekarang, kita harus fokus sama tujuan kita ke depan."


Geet beringsut menegakkan duduknya. "Iya Fran, kita nggak boleh terus begini. Hidup harus terus berjalan. Terus, rencana kamu apa sekarang?"


Afran mencubit hidung Geet gemas. "Nggak ada rencanaku. Yang ada rencana kita."


"Iya iya... Rencana kita maksudnya."


"Ya pertama, kita temuin ayah kamu di penjara. Gimanapun juga, sebagai laki-laki gentle yang mau ambil tanggung jawab atas hidup perempuan, aku harus menghadap ayah kandungnya." Afran menyuapi Geet yang senyum-senyum geli.


"Terus kalo udah ketemu mau ngapain?"


"Ya ngapain lagi? Langsung minta dinikahin sama kamu."


"Nggak usah alihin pembicaraan!" Afran mencubit pipi Geet. "Gimana? Kita ketemu Papa kamu."


Geet jadi cemberut. "Tapi aku takut Papa nggak mau akuin aku, Fran. Dulu aja aku ditolak mentah-mentah sama Papa. Nyeseknya masih kerasa. Aku takut kejadian lagi."


"Udah tenang aja. Itu biar jadi urusanku."


"Maksudnya?"


"Ya itu jadi perjuanganku untuk mendapatkan pengakuan, dan restu dari calon Papa mertua. Kamu tenang aja. Semua pasti berjalan lancar. Ikatan darah orangtua dan anak nggak akan bisa diragukan. Kamu baru sekali ketemu Papa kamu. Mungkin Papa kamu masih bingung tiba-tiba kamu muncul mengaku anaknya. Kali ini, kita temui Papa kamu. Aku yakin Papa bakal percaya."

__ADS_1


Geet tersenyum geli. "Yakin kamu berani? Papa Herald galak lho."


"Berani dong. Niatku kan baik. Asal kamu percaya sama aku, udah cukup jadi penyemangat."


"Iyaaa.. kamu yang paling aku percaya. Terus udah nikah, rencananya gimana?" Tanya Geet lagi.


"Aku dapat tawaran praktek di rumah sakit. Sambil aku mau lanjut S2 spesialis jantung. Aku ingin membuka klinik jantung. Dan karena cita-cita itu, aku harus belajar lebih giat. Kamu akan dukung aku kan?"


"Ya pasti aku dukung. Apalagi rencananya positif, untuk kemanusiaan. Huza pasti bangga sama kamu."


"Huza doang nih? Kamu nggak bangga gitu sama aku?" Afran cemberut lucu membuat Geet geram.


"Iihhh baperan deh kayak cewek lagi PMS. Ya pasti aku bangga... Siapa lagi yang bisa aku banggakan selain satu-satunya yang berani ambil tanggung jawab atas hidupku." Geet merangkul bahu Afran yang pura-pura ngambek.


Cupp..


Geet melotot pipinya dicium. "Iihhh ambil kesempatan aja deh."


Afran terkekeh. "Dikit aja. Ya udah makan lagi ya. Abis ini kan kita mau ke rumah adik-adik antar baju dan kebutuhan lain. Dio juga pasti udah nungguin sepeda barunya."


"Abis itu kita ke Lapas ya, aku mau bawain Papa makanan."


***

__ADS_1


__ADS_2