
Paginya Geet sudah lebih baik, meski matanya masih sembab bekas menangis, setidaknya Geet masih bisa tersenyum begitu Afran menghidangkan sarapan.
"Lecek banget mukanya, udah kayak jemuran baru kering.." ledek Afran membuat Geet mencibir.
"Biarin. Lecek juga masih cantik banyak yang suka."
Afran terkekeh dan meletakkan segelas susu di meja.
"Sarapan dulu nih. Udah gue buatin sandwich spesial."
"Wuihh enak kayaknya. Lo itu dokter atau chef sih sebenernya? Ngobatin orang bisa, masak bisa.." Geet mengigit sandwich dan mengunyahnya nikmat. "Enak lho."
"Gue bisa ngobatin orang, bisa juga jadi chef. Banyak talenta dijamin jarang nemu cowok kayak gue.." kata Afran membuat Geet terkekeh.
"Pede amat." Geet melanjutkan makannya begitu HP Afran berbunyi.
"Bentar ya." Afran menjawab telepon Pandu. "Halo, Om?"
"Halo, Fran. Om sudah pulang ke Jakarta. Kamu lagi di mana sekarang?"
"Aku ada pekerjaan Om. Nanti aku mampir ke rumah."
"Oh ya, Om dengar dari tetangga, sudah berhari-hari tak ada orang di rumahnya Tina. Apa mereka pindah ke luar kota?"
Afran melirik Geet sekilas. "Aku belum dengar soal itu, Om."
"Katanya temanmu Geet juga sudah lama tak terlihat di rumah. Ya sudah, Om hanya mengabarkan itu saja."
"Iya Om."
Begitu telepon ditutup, Afran memandang Geet yang langsung berhenti mengunyah.
"Kenapa?"
"Kayaknya kita harus balik ke rumah Tante lo."
"Kok?"
__ADS_1
"Om Pandu baru aja balik dari luar kota, udah dua bulan ini Om Pandu tugas ke Surabaya. Dan Om Pandu kasih info, dengar dari tetangga rumah Tante lo kosong. Udah berhari-hari nggak ada tanda-tanda ada orang."
Geet terdiam, entah kenapa tubuhnya menegang, mendadak jadi gelisah.
"Kenapa lo, Geet?"
"Kok perasaan gue tiba-tiba jadi nggak enak? Bukannya pengintaian terakhir itu Om Boni numpang tinggal di rumah Tante Tina?"
"Itu dia. Ada yang mencurigakan. Lebih baik kita pulang dan periksa rumah Tante lo."
Geet bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap, begitu gelisah memikirkan apa yang terjadi pada Tina.
***
Tiba di rumah Tina, Geet dikejutkan dengan kondisi rumah yang berantakan.
"Geet, kayaknya rumah Tante Tina kerampokan. Sampai berantakan banyak pecah barang begini." Afran hati-hati melangkah di lantai penuh barang berceceran.
"Fran, tolong cek ruangan belakang. Gue bakal cek kamar Tante Tina."
"Oke." Afran bergegas memeriksa bagian belakang rumah.
"Kalau emang rampok, harusnya kamar Tante juga berantakan. Tapi koper, baju, sepatu punya Tante ada semua. Ini di laci juga ada dompet dan HP Tante Tina. Di dompetnya banyak uang tunai. Masa' iya rampok nggak ambil ini semua?" Geet memeriksa isi lemari tempat Tina menyimpan surat-surat penting.
"Kamarnya nggak ada tanda-tanda dirampok. Berarti kemungkinan yang ada... Afrann...!! Kayaknya Tante Tina diculik.."
Geet berlari ke arah belakang dan tertegun melihat Afran berdiri di kebun belakang.
"Fran, kita lapor polisi aja. Kayaknya Tante Tina diculik. Kamarnya juga tapi nggak ada tanda-tanda dirampok. Ini HP, dompet sama isinya juga utuh. Kalau dirampok pasti ini semua digasak."
Afran diam saja memandang gundukan tanah di dekat pohon.
"Fran, kok diem aja sih? Ayo kita harus lapor polisi! Tante Tina..." Geet terdiam memandang ke arah gundukan tanah, tiba-tiba Afran menariknya dalam pelukannya agar tidak melihat yang sejak tadi dilihatnya.
"Jangan lihat, Geet. Gue nggak mau lo histeris."
Tubuh Geet kontan menegang. "Apa itu Fran? Kasih tau gue!"
__ADS_1
Afran mengeratkan pelukannya. "Kita lapor polisi, bukan untuk kasus perampokan, tapi kasus pembunuhan."
DEG.
"Enggak! Ini nggak mungkin ... Tante Tina, Tante Tina nggak mungkin... Fraaannn.... Tante Tina nggak mungkin meninggal!!"
Afran mengusap punggung Geet yang menangis histeris.
Apalagi melihat bercak darah di pohon.
Begitu polisi datang dan memeriksa seisi rumah, Geet tak sanggup berdiri tegak hingga duduk terkulai lemas. Memandangi gundukan tanah itu digali.
Geet langsung shock dan tak sadarkan diri begitu ada jenazah terkubur dievakuasi.
Investigasi dimulai, dicurigai ini kasus pembunuhan berkedok perampokan. Jasad Tina diperkirakan sudah dikubur berhari-hari.
Para tetangga diinterogasi polisi.
"Sudah sebulan ini Bu Tina tinggal bersama pacarnya di rumah ini Pak. Tapi setiap hari mereka selalu ribut. Dengar-dengar pacar Bu Tina terjerat hutang dan meminta Bu Tina menjual rumah ini, tapi Bu Tina menolak." Beber salah satu tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan lokasi kejadian.
"Iya Pak, kadang pagi-pagi saya bertemu Bu Tina di tukang sayur, di mukanya ada lebam bekas pukul. Tiap ditanya, Bu Tina langsung diteriakin sama pacarnya disuruh cepet pulang. Pacarnya itu kasar sekali, Pak. Pasti dia itu yang bunuh Bu Tina."
"Iya Pak, pasti dia yang bunuh. Waktu Pak RT dan warga menggerebek mereka tinggal serumah saja pacarnya itu malah marah-marah dan maki-maki kami semua Pak. Orangnya tidak sopan, sering pulang malam mabuk-mabukan, dan sering meludah di depan rumah orang. Orangnya kasar sekali Pak."
Info dari warga cukup menekankan bahwa Boni memiliki motif kuat membunuh Tina.
Setelah pencarian, ditemukan cangkul yang digunakan menggali, terdapat sidik jari dan noda darah.
Diduga Tina dibunuh sebelum dikubur.
"Pak... Tolong tangkap pembunuh Tante saya! Hukum seberat-beratnya!" Geet sungguh terpukul dengan kematian Tina.
"Kami akan segera melakukan penangkapan. Mohon menunggu."
Geet sungguh menyesal kenapa tidak lebih dulu melenyapkan Boni.
Ternyata laki-laki yang selalu dianggap baik oleh tantenya itu menghabisi nyawa tantenya dengan begitu sadis.
__ADS_1
***