Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 45


__ADS_3

Geet menaburi bunga di atas makam Huza sambil terisak.


Afran ikut menaburkan bunga sambil menatap nisan bertuliskan nama Huza Adrian.


"Lo bisa tenang sekarang, Huza. Gue pasti hidup dengan baik. Dan menjaga perempuan yang kita sayang. Thank you for your heart, brother." Ia mengusap nisan itu.


"Kamu bisa tenang, Huza. Afran akan selalu bersamaku. Juga kamu. Terima kasih atas pengalaman tak ternilai yang kamu berikan sama aku. Kamu ajarin aku terbang, mengajari aku menikmati setiap waktu yang tersisa, mengajariku bahagia itu sederhana. Karena benar, aku punya hak untuk bahagia. Sekarang aku lebih berani, melawan siapapun yang bertindak nggak adil. Kamu jangan cemas lagi." Geet menghapus air matanya dan mengusap nisan Huza.


Afran membantu Geet berdiri sambil memeluk kedua bahunya. "Sekarang kita temui adik-adik panti."


Geet mengangguk dan memandang makam Huza.


"Nanti kan bisa ziarah ke mari lagi." Afran mengusap bahu Geet yang terlihat berat untuk pergi.


"Iya Fran. Aku harus ikhlas."


"Harus dong. Kalau enggak, kasian Huza. Dia nggak bisa tenang kalau kamu belum ikhlas."


Geet tersenyum. Senyuman Afran begitu teduh dan menawan persis dengan senyuman Huza.


Berdua mereka meninggalkan taman pemakaman dan menuju lokasi dimana adik-adik panti tinggal.


Begitu tiba, Geet agak bingung karena Afran membawanya jauh dari keramaian.


"Yakin di sini tempatnya, Fran?" Geet tak yakin melihat gubuk reyot hampir rubuh yang ada di kolong jembatan.


"Iya yakin. Huza bilang, waktu dia selametin adik-adik, dia nyuruh mereka nunggu di sini. Dan Huza bilang sama gue, sampai sekarang mereka masih nungguin dia. Kita harus sampaikan Huza sudah meninggal supaya mereka nggak larut dalam kesedihan menunggu lagi." Afran menggamit tangan Geet.


Begitu tiba di gubuk, ada lima anak remaja. Berbagi makanan seadanya, hanya nasi dan kecap saja.

__ADS_1


Afran dan Geet mendengarkan percakapan mereka.


"Maafin Kak Dudi sama Kak Ayu ya? Uang hasil jual kardus dan botol plastik cuma cukup beli beras seliter dan kecap sebungkus. Ini juga Kak Ayu cuma masak setengah, setengah lagi buat makan nanti malam."


"Iya nggak pa-pa Kak. Kata Kak Huza, kita harus selalu bersyukur."


"Padahal kita bisa ngamen di lampu merah buat bantu Kak Ayu sama Kak Dudi."


"Jangan. Dio, Uwi, sama Jaka nggak boleh ke jalanan. Nanti kalian diculik lagi kayak dulu. Biar Kak Ayu dan Kak Dudi aja yang kerja karena kami yang tertua."


"Kak, Kak Huza kapan datang? Udah lama kita di sini Kak Huza nggak datang juga."


Semua langsung diam, menunduk, menatap piring kaleng berisi sedikit nasi dicampur kecap.


Kondisi itu kontan membuat Geet dan Afran miris sekali.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak, kontan bergerumul di depan pintu.


"Siapa?"


"Kak Huza bukan?"


Geet dan Afran saling pandang, kasihan melihat adik-adik panti yang begitu kurus mengalami gizi buruk setelah lima tahun bertahan hidup menanti Huza.


Mereka sudah berusia belasan tahun.


Begitu Geet dan Afran menjelaskan maksud kedatangan mereka ingin memberitahu bahwa Huza sudah meninggal, kontan semua menangis tersedu-sedu.


"Kak Huza janji mau beliin Dio sepeda kalau Dio udah setinggi Kak Dudi. Tapi kenapa Kak Huza...??" Dio yang berusia tiga belas tahun terisak begitu kehilangan.

__ADS_1


"Kak Huza bilang akan nyusul kita dan sama-sama ke gedung konser. Malahan Kak Ayu udah susah payah bikin kostum untuk kita jadi supporter Kak Huza di grand final.." Uwi yang berusia tiga belas tahun dan paling dekat dengan Huza, terisak dalam pelukan Ayu yang berusia tujuh belas tahun.


"Lalu Kakak-kakak ini siapa? Kok bisa tau kami?" Tanya Jaka.


"Kami temannya Huza. Dan... Huza berpesan agar adik-adik semua mengikhlaskan kepergian Huza. Supaya Huza bisa istirahat dengan tenang." Jelas Geet membuat tangis semuanya terhenti, hanya isakan tertahan yang terdengar.


"Mulai sekarang, kami akan menjadi wali kalian. Sesuai permintaan Huza. Kami berdua akan membiayai sekolah dan pendidikan kalian semua. Jadi orang sukses, dan bantu yang kesulitan. Itu pasti yang diharapkan Huza pada kalian semua." Kata Afran membuat semua terdiam.


"Tujuan Kak Huza ikut kompetisi itu untuk dapat hadiah uangnya, Kak. Untuk biaya kami sekolah," kata Ayu.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita pergi dari sini. Kakak akan belikan rumah untuk kalian tinggal berlima. Dan kalian akan melanjutkan sekolah seperti harapan Huza."


Semua saling pandang, bingung. Tatapan mereka seperti waspada.


Afran dan Geet memaklumi pasti mereka trauma pernah diculik dan takut tertipu lagi.


"Sekarang lebih baik Kakak ajak kalian ke makam Huza, bagaimana? Supaya kalian percaya." Afran mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Ini bukti kami bukan penipu."


Semua terkejut melihat KTP Huza.


"Percaya sekarang? Kami hanya ingin bantu."


Akhirnya semua menurut, mengikuti Afran dan Geet.


Afran tersenyum lega. Huza, gue nggak akan ngecewain lo, gue akan melanjutkan perjuangan lo untuk adik-adik panti yang begitu lo sayangi ini, lo percaya sama gue, batinnya.


Ia memegang jantungnya yang berdenyut begitu nyaman, pertanda Huza bahagia.


***

__ADS_1


__ADS_2