Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 41


__ADS_3

Setelah pencarian selama beberapa hari, Boni ditangkap di sebuah losmen di pinggir kota dengan wanita yang disewanya.


Geet bergegas menuju kantor polisi untuk menemui Boni.


Begitu Boni muncul dengan kedua tangan diborgol, langsung saja Geet menerjangnya dan memukulinya.


"Pembunuh!!! Tega ya Om bunuh tanteku!!" Jeritnya lepas kendali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Boni.


"Geet, tenang Geet..." Afran langsung memeluknya dari belakang menahannya.


Boni hanya diam tak ada suara. Bahkan sebelah kakinya pincang terluka.


"Membusuk di penjara! Aku akan tuntut hukuman seberat-beratnya untuk pembunuh kayak Om!" Seru Geet penuh emosi.


"Bawa kembali ke sel."


Dua polisi segera menggiring Boni kembali ke sel dengan langkah pincang, terkena tembakan karena mencoba kabur.


Afran mengajak Geet duduk menghadap polisi.


"Bagaimana Pak?"


"Dari keterangan yang kami dapat, ini semua dipicu dari pertengkaran korban dan pelaku. Pelaku meminta uang untuk membeli sabu-sabu. Namun korban menolak. Pelaku sudah mengalami kecanduan narkoba sehingga bertindak di luar nalar. Agak sulit mendapat keterangan konkrit dari pelaku mengingat pelaku dalam pengaruh obat. Dan sering mengulang-ulang pernyataan. Dari hasil investigasi tempat kejadian perkara, kami menyimpulkan senjata yang digunakan untuk membunuh adalah vas bunga. Terdapat noda darah korban di pecahan vas bunga dan ada sidik jari pelaku. Korban dipukul pada area vital di bagian kepala hingga tewas seketika. Setelah menghabisi korban, pelaku membawa korban untuk dikubur di kebun belakang rumah. Ada noda darah di gagang cangkul dan sidik jari tertinggal. Noda darah juga terdapat pada pohon di samping lokasi korban dikubur." Penjelasan polisi membuat Geet geram.


"Saya ingin mengajukan tuntutan agar pelaku dihukum seberat-beratnya, Pak!"


"Sesuai pasal yang berlaku, pelaku bisa dijerat ancaman pidana paling ringan dua puluh tahun penjara, atau penjara seumur hidup."


Geet sungguh merasa kehilangan satu-satunya keluarga. Dan berharap hukuman terberat yang akan dijatuhkan.


Sepanjang jalan pulang, Geet tak henti terisak teringat Tina.


Afran menggenggam tangan Geet berusaha menenangkannya.


Baru aja Geet kehilangan Emon sahabatnya, sekarang harus kehilangan Tantenya. Lo nggak akan sendirian, Geet, batinnya.


Tak ada percakapan antara mereka, Geet masih berkabung.


***


Afran menghentikan mobilnya di restoran.

__ADS_1


Geet melihat sekeliling. "Mau apa ke mari, Fran?"


"Yuk makan? Lo jarang makan beberapa hari ini. Sekarang kan Om Boni udah ketangkep dan pasti dihukum setimpal. Lo harus makan." Afran melepas seat belt dan keluar mobil.


Geet sebenarnya tidak nafsu makan, namun tak ingin membuat Afran cemas.


Berdua mereka memasuki restoran dan memesan makanan.


"Geet, udah dong, jangan sedih lagi." Afran mengusap-usap punggung tangannya. "Kan masih ada gue."


Geet tersenyum getir. "Kalo nanti lo ketemu perempuan lain, pasti lupa sama gue."


"Sssttt... Ngomong apa sih lo? Nggak mungkin gue lupain lo."


"Omongan laki-laki bisa dipercaya nggak sih?"


"Cuma sama gue, lo boleh percaya. Inget aja..." Afran meraih tangan Geet dan meletakkannya di dadanya. "Gue udah terikat janji sama pemilik jantung ini. Dan sampai gue mati, nggak akan pernah gue ingkari janji itu."


Geet jadi terharu, merasakan ketulusan Afran padanya.


"Jadi hubungan kita apa sekarang? Lo nggak pernah tegas ah godain gue doang.." Geet cemberut menarik tangannya, tambah aksi buang muka cemberut.


Afran terkekeh, baru ingat ia memang belum memberi kepastian hubungan mereka.


"Fraaannn... Ngapain sih??" Geet sungguh malu ingin menyembunyikan wajahnya.


Tak peduli jadi pusat perhatian, Afran membuka kotak berisi cincin berkilauan begitu cantik.


Kontan Geet menutup mulut berusaha tidak teriak.


"Geetazia, will you marry me?"


Banyak orang bergerumul menyaksikan adegan melamar itu tak lupa mengarahkan kamera HP mengabadikan momen sweet ini.


"Fran, lo serius??" Geet sungguh shock.


"Sangat serius. Lo nggak tau kan udah sejak lama gue suka sama lo, tapi lo cuekin gue. Ternyata ada jalan supaya kita bisa bersatu. Please, kali ini terima cinta gue. Gue nggak bisa hidup tanpa lo, Geet."


Geet sampai speechless bingung ingin menjawab apa.


"Terima... Terima..."

__ADS_1


Terdengar riuh orang-orang yang menyaksikan menepuk tangan menyuruh Geet menerima lamarannya.


"Kita masih muda, Fran. Yakin mau ambil tanggung jawab hidup gue?"


"Gue yakin seyakin-yakinnya, Geet. Gue siap lahir batin jadi imam lo. Nggak ada salahnya nikah muda."


Keraguan Geet mulai luntur merasakan keseriusan Afran.


Tak ayal begitu cincin dipasang di jari manisnya, semua bertepuk tangan heboh.


Pipi Geet merona malu, tak berani menatap Afran yang pasti senyum-senyum menggodanya.


"Kok malu-malu gitu?"


"Lagian pake ngelamar depan umum."


Afran meraih tangan Geet dan mengecupnya. "Biar kamu tau seberapa seriusnya aku sama kamu."


Kontan Geet merinding mendengar gaya bicara Afran berubah menjadi lebih manis.


"Mulai sekarang..." Afran merapikan rambut yang menutupi dahi Geet. "Biasain pake 'aku kamu' ya."


Geet hanya mengangguk, masih malu memandang Afran yang terus menatapnya.


Sampai makanan datang, tingkah keduanya jadi perhatian yang lain karena Afran begitu perhatian menyuapi Geet.


"Gue... Eh aku makan sendiri aja, Fran... Malu."


"Ngapain malu? Semua udah tau kok. Ayolah... Aku kan nggak terima penolakan."


Akhirnya Geet mau disuapi Afran sampai makanan habis.


"Pokoknya kalau kamu susah makan, aku suapin sampe kenyang."


Geet tersenyum jahil. "Kalau gitu tiap makan aku mau disuapin."


"Geet... Sayang... Jangan goyahin imanku dong, nggak usah keluar senyum imut gitu. Gawat kalo lagi khilaf." Afran sungguh geregetan.


Geet terkekeh. Tak mengira akan dilamar Afran, pria yang perhatian namun selalu diacuhkannya.


Suasana hatinya membaik, ia yakin Afran akan selalu bersamanya, mencintainya.

__ADS_1


Sesuatu yang pasti dilakukan oleh Huza.


***


__ADS_2