Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 44


__ADS_3

"Aawww..."


Afran memegang sikunya yang terbentur tanah.


"Gue kenapa? Kok kayak abis jatuh dari atas?" Ia celingukan dan kaget. "Lho di mana Geet??"


Ia masih ada di lokasi sama, tapi situasinya berbeda.


"Perasaan barusan batu itu nggak ada? Terus kok ada pohon besar? Tadi nggak ada deh..."


Tiba-tiba ada seorang pria berbaju putih dan celana jins hitam. Berkulit putih, dan rambutnya lebat.


"Lho itu kan Huza?"


Huza terlihat mengendap-endap di sekitar gedung mengamati situasi.


Afran bergegas mendekati Huza namun Huza tidak bisa melihatnya.


Bingung melihat tubuhnya sendiri. "Wait, ini kenapa Huza nggak bisa liat gue? Apa gue udah mati?"


Baru tersadar yang terjadi membuatnya tegang.


"Jangan-jangan, gue kembali ke masa lima tahun lalu untuk melihat peristiwa Huza tewas?"


Huza lihat kanan kiri, sambil memperhatikan gedung.


"Mungkin gue bakal telat datang ke konser grand final, tapi gue nggak bisa diem aja. Adik-adik panti diculik dan dibawa ke mari. Gue harus selamatkan mereka semua." Huza membawa sebilah kayu untuk berjaga-jaga dan menyusup masuk ke gedung.


Afran bergegas menyusul tapi...


"Lho? Kenapa gue nggak bisa masuk?"


Seperti ada penghalang tembok transparan yang membuat Afran tidak bisa lewat.


"Gue nggak bisa susul Huza. Gue harus gimana?"


Ia berdiri melihat sekeliling, dan memutuskan berkeliling gedung mencari jalan lain.


Namun sekeliling gedung tak bisa ditembusnya.


"Aaarggghh... Apa gue ke mari nggak bisa berbuat apa-apa??" Ia frustasi sendiri.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari gedung, beberapa anak berusia sekitar 8 - 12 tahun berlarian keluar gedung.


"Eh tungguin Kak Huza.."


"Kata Kak Huza, kita pergi duluan nanti dia nyusul."


"Tapi kasian Kak Huza sendirian? Kalau Kak Huza ditangkap gimana?"


"Kak Huza pasti selamat. Kita tunggu di gubuk kampung sebelah kolong jembatan. Kak Huza pasti susul kita ke sana. Dan kita akan temani Kak Huza ke konsernya."

__ADS_1


Lalu semua anak itu berlarian melewati pagar besi, melarikan diri jauh dari gedung.


Afran memandangi gedung makin cemas.


"Pasti mereka sudah tangkap Huza. Gue nggak bisa berbuat apa-apa. Gue ke mari hanya untuk melihat kilas balik saja."


Tak lama muncul dua pria dari gedung, membawa boks pendingin dan memberikannya pada pria yang membawa mobil.


"Segera antar ini. Ke Rumah Sakit Jantung Sehat. Untuk pasien yang bernama Afran Ardiansyah."


Segera saja mobil itu pergi membuat Afran terkejut.


"Lima tahun lalu ketika tanggal Huza hilang gue emang lagi kritis di rumah sakit. Dan Papa bilang, rumah sakit kesulitan menemukan donor jantung buat gue. Ternyata gue dapat jantung Huza secara ilegal. Gue hidup dengan merenggut nyawa orang lain." Afran berlutut di tanah berbatu, air mata bercucuran begitu terluka.


"Jangan menyesal.."


Afran tersentak dan mendongak. Huza berdiri di hadapannya. Kontan ia berdiri mensejajarkan diri.


"Huza!" Langsung saja Afran memeluk Huza yang membalas pelukannya.


"Jangan pernah menyesal. Ini bukan salah lo. Hidup gue udah ditakdirkan begini. Terhenti ketika usia muda. Tapi gue nggak benar-benar mati, karena gue masih hidup dalam diri lo."


Afran merasakan sakit di dadanya mendengar perkataan Huza dan melepas pelukannya.


"Jadi lo yang bawa gue ke mari? Lo pengen ketemu gue?"


Huza mengangguk. "Gue cuma nggak mau membahayakan lo dan Geet. Sekarang lo bisa liat yang terjadi sama gue, dan tau apa yang harus lo lakuin."


Huza tersenyum Afran cepat memahami. "Gue juga minta tolong, supaya lo dan Geet temuin adik-adik panti gue. Mereka masih menunggu di tempat yang gue arahin untuk nunggu gue. Gue cuma pengen mereka ikhlas gue udah nggak ada. Jangan sampai terlalu lama mereka larut dalam kesedihan kehilangan gue."


"Gue janji akan penuhi permintaan lo."


Huza menoleh ke gedung sejenak.


"Lo mau pergi, Za?"


"Ya." Huza menatap Afran dengan senyuman yang begitu teduh. "Jaga diri lo, Fran. Jaga Geet juga. Jangan pernah kalian berpisah kecuali dipisahkan oleh maut."


Afran mengangguk air matanya sudah menitik. "Gue janji sama lo, Za. Selama jantung ini berdetak, gue akan selalu jaga Geet."


Lalu muncul cahaya dari langit, perlahan Huza menghilang seperti ditelan asap.


Tiba-tiba dari dalam gedung muncul tiga orang pria membawa karung besar.


"Buruan, kita harus kubur ni mayat, sebelum pagi."


"Lo duluan, gali yang dalem tanah di samping pohon itu."


"Oke." Pria yang membawa cangkul bergegas menggali tanah di samping pohon besar.


Dan mereka melempar karung begitu saja, lalu menguburnya.

__ADS_1


Afran merasakan ada yang menepuk-nepuknya.


#######


"Fran... Sadar Fran...."


Afran mengerjapkan mata dan melihat Geet menatapnya cemas.


"Geet?"


"Alhamdulillah kamu udah sadar..." Geet memeluk Afran begitu lega.


Afran memperhatikan sekeliling begitu ricuh banyak orang digiring polisi dalam kondisi diborgol.


Petugas hilir mudik keluar membawa kotak-kotak berisi barang bukti.


"Mereka udah ditangkap?" Tanya Afran.


"Sudah. Barusan ada petugas yang datang ke mari dan aku udah jelasin tujuan kita ada di sini. Mereka percaya kita ini informan tentang sindikat ini. Barusan kamu kenapa tiba-tiba nggak gerak? Lalu pingsan." Geet melepas pelukannya dan memakaikan kacamata Afran.


Afran mengerjapkan mata, masih bingung.


"Kenapa Fran?" Tanya Geet karena Afran menatapnya tegang.


"Aku ketemu sama Huza."


"Huza? Kok bisa?"


"Dia bawa aku ke masa lima tahun lalu ketika dia tewas. Dia ingin kita segera menemukan jasadnya yang dikubur."


Geet bernafas lega. "Aku kira kamu kenapa. Terus, kamu udah tau dimana jasad Huza dikubur?"


Afran menarik nafas berusaha tenang. "Iya aku udah tau. Kita panggil petugas. Karena, kayaknya bukan cuma Huza yang dikubur. Pasti banyak korban yang terkubur di sana."


Pencarian jenazah para korban pun dilakukan meski sudah dini hari.


Beberapa anjing pelacak diturunkan demi memudahkan pencarian.


Jenazah Huza ditemukan dikubur dekat pohon besar, sudah berupa tulang belulang di dalam karung. Namun ada pakaian, celana, dan sepatu yang dikenakan Huza. Juga ditemukan dompet berisi KTP Huza Adrian.


Membuat Geet menangis histeris melihat pakaian Huza dan tubuhnya yang sudah menjadi tulang.


Afran memeluk Geet berusaha menenangkannya. Air matanya bercucuran bercampur keringat, lega akhirnya menemukan jasad Huza.


Menjelang pagi, semua korban sudah ditemukan. Ada puluhan jasad terkubur di tanah kosong belakang gedung. Ada yang tubuhnya masih utuh pertanda belum lama dikubur, namun organ dalamnya sudah tidak ada. Banyak juga yang tinggal tulang belulang pertanda sudah bertahun-tahun terkubur.


Kasus ditutup dengan ditangkapnya semua komplotan sindikat meresahkan ini. Dan dengan segera akan mengungkap pihak-pihak terkait.


Wartawan, polisi, berdatangan ke lokasi memberitakan besar-besaran.


Berita hilangnya Huza diungkap tuntas dengan ditemukannya jasad Huza yang sudah tewas bertahun-tahun.

__ADS_1


***


__ADS_2