Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 38


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Geet terbangun dengan tangan melingkari tubuhnya.


Matanya melotot, begitu kaget Afran tidur sambil memeluknya dari belakang.


Afran tidur begitu pulas, terlihat jelas pria itu kelelahan.


Geet tidak tega membangunkannya karena ingat Afran selalu kurang tidur.


Dan lagi ia juga ingat semalam ia yang meminta Afran menemaninya karena takut mimpi buruk lagi.


Hati-hati Geet melepaskan pelukan Afran dan turun dari ranjang.


Teringat semalam ia bermimpi Huza kesakitan, membuatnya miris dan ikut menangis seakan merasakan kesakitan pria itu.


"Ssshhh...."


Geet menoleh pada Afran yang memegang dadanya sambil mendesis seperti kesakitan.


Tapi pria itu masih tidur.


Ekspresinya sama persis dengan ekspresi kesakitan Huza, membuat Geet cemas apa jantungnya kesakitan.


"Afran... Lo kenapa?" Geet mengusap kepalanya.


Tiba-tiba Afran meraih tangannya dan mendekapnya tepat di dada kirinya.


"Kalo Huza kesakitan, lo juga ngerasain. Gue tau rasanya sakit banget. Kita harus segera selesaikan ini, Fran. Bertahan sebentar lagi."


Afran berhenti merintih kesakitan dan raut wajahnya kembali normal.


Geet bertekad tak akan lama lagi ini semua harus terungkap. Ia tidak tega melihat Afran kesakitan.


Tak lama Afran terbangun, heran melihat Geet sudah rapi dan sedang berdandan memoles bedak di wajahnya.


"Lo mau ke mana, Geet?"


Geet menoleh sekilas. "Mau sarapan di restoran."


"Restoran?"


"Iya. Di restoran favorit lo. Kita sarapan di sana ya, cari suasana baru. Setelah itu kita jenguk cucunya Nenek Tini."


Afran mengucek-ucek mata, bingung. "Tumben. Biasanya gue ajak makan di luar lo nggak pernah mau."


"Nggak ada tumben. Pokoknya mulai sekarang, kalau lo ngajak kemanapun, gue nggak akan nolak."


Mata Afran kontan melotot. "Yang bener?"


"Iya. Sana mandi dulu."


Afran tersenyum sumringah sambil turun dari ranjang. "Berarti lo nggak akan nolak gue ajak ke pelaminan.."


Geet terkesiap melihat di cermin Afran keluar dari kamarnya dengan senyum menggoda.


Entah kenapa Geet merasa senang digoda seperti itu oleh Afran.


Andai aja lo serius, gue pasti lebih bahagia, batinnya.

__ADS_1


***


Setelah bertanya sana-sini, Geet dan Afran menemukan rumah Nenek Tini tepat di pinggir kali.


Begitu mengetuk pintu, seorang anak laki-laki berusia kisaran delapan tahun, membuka pintu.


"Cari siapa?"


"Benar ini rumahnya Nenek Tini?"


"Iya betul. Tapi Nenek udah meninggal." Terlihat genangan air di mata bocah itu membuat Geet dan Afran terenyuh.


"Ada siapa, Abi?" Muncul seorang wanita berusia 40 an dari dalam rumah. Langkahnya agak pincang, ternyata mata kakinya bengkok.


Melihat dua orang datang, wanita itu langsung panik.


"Duuh... Maaf, uangnya belum ada. Saya minta waktu."


Geet dan Afran kontan saling pandang.


"Maksud Ibu apa?"


"Anda berdua dikirim juragan Janggar kan? Tolong bilang saya minta waktu untuk melunasi hutang."


"Kami bukan datang untuk menagih hutang, Bu.." kata Afran. "Kami kenal dengan Nenek Tini dan ingin bersilaturahmi saja. Nama saya Afran. Yang ini calon istri saya, Geet."


Geet mendelik sambil mencebikkan bibir dibalas kedipan mata genit ala Afran.


"Oohh saya kira.. oh ya nama saya Ratih. Ini anak saya Abi. Silahkan masuk."


"Maaf tidak ada kursi."


"Nggak apa-apa Bu." Geet duduk lesehan di atas tikar.


"Sebentar saya ke belakang dulu." Ratih berlalu ke dapur dengan langkah terseok-seok.


"Abi, sini duduk sama Kakak."


Abi duduk diantara Geet dan Afran.


"Abi udah sekolah?"


"Udah Kak. Tapi sejak Bang Deni meninggal, Abi nggak pernah sekolah lagi."


"Lho kenapa?"


"Abi harus bantuin Ibu jualan gorengan, Kak. Kalau Abi sekolah, nanti Ibu nggak bisa jualan."


Geet dan Afran saling pandang, sungguh kasihan dengan kondisi Abi.


Tak lama Ratih muncul membawa dua gelas air putih.


"Sejak Nenek Tini meninggal, Ibu jualan gorengan?" Tanya Geet.


Ratih tersenyum getir. "Iya. Sejak ibu saya meninggal bersama Deni anak sulung saya, kami tinggal berdua. Biasanya Deni yang menjadi tulang punggung keluarga, dengan ngojek motor. Tapi semenjak Deni dan Ibu saya meninggal karena kecelakaan, saya dan Abi bertahan hidup dari menjual gorengan. Meneruskan usaha ibu saya jualan gorengan keliling. Suami saya pergi meninggalkan saya setelah saya kecelakaan dan cacat seumur hidup. Bapak saya sudah lama meninggal. Maka yang tersisa hanya saya dan Abi."


Sungguh miris mendengarnya.

__ADS_1


"Oh ya adik ini kenal dimana dengan ibu saya?" Tanya Ratih.


"Kami pernah beli gorengan Nenek Tini, Bu.." jawab Afran cepat. Kan nggak lucu kalau jujur kenalan di kuburan?


"Mengenai hutang? Ibu berhutang apa pada juragan?" Tanya Geet.


"Saya meminjam uang untuk biaya makam ibu dan anak saya. Juga untuk modal usaha jual gorengan. Tapi saya belum bisa membayarnya. Apalagi bunganya membengkak. Saya meminjam tiga juta membengkak menjadi lima juta karena saya telat membayar. Hasil dari jualan gorengan hanya cukup untuk makan sehari-hari saya dan Abi. Saya kasihan lihat Abi harus membantu saya jualan. Harusnya ia bisa lanjut sekolah. Tapi dengan kondisi saya begini, saya tidak bisa pergi sendirian."


Mendengar kesulitan yang dialami Ratih dan anaknya setelah Nenek Tini dan Deni meninggal, membuat mereka terenyuh.


"Ibu nggak usah kuatir. Kami akan melunasi hutang Ibu pada juragan Janggar. Dan Abi akan dipastikan bisa bersekolah lagi."


"Ah tapi..."


"Kami sedang berbuat baik untuk kelangsungan pernikahan kami ke depannya Bu. Kami akan biayai pendidikan Abi."


Ratih tercengang, Abi hanya bisa bengong.


"Apa benar?"


"Ya." Jawab Afran mantap. "Mulai sekarang, Abi bisa bersekolah lagi. Dan Ibu bisa membuka warung di rumah untuk sehari-hari. Tidak perlu jualan keliling lagi."


"Terima kasih.." Ratih dan Abi berpelukan sambil menitikkan air mata haru.


"Abi bisa sekolah lagi, Bu?"


"Iya, Nak. Kakak-kakak ini yang membantu kita."


Melihat ibu dan anak itu begitu bahagia membuat hati Geet dan Afran menghangat.


***


Setelah menyelesaikan urusan hutang sebesar lima juta rupiah, dan mengurus sekolah Abi juga mempersiapkan tempat berjualan, Geet dan Afran meninggalkan kampung itu.


"Sekarang Nenek Tini dan Deni bisa tenang. Lega rasanya bisa bantu yang lagi kesusahan."


"Iya. Gue juga senang bisa bantu yang bener-bener kesulitan."


Geet mendelik tajam dan menepuk lengan Afran. "Ngapain ngaku-ngaku calon suami gue?"


"Lho? Terus ngaku apa? Cuma temen? Kita udah pernah tidur bareng lho, masa' cuma temen? Gue mau tanggung jawab nikahin lo. Harusnya lo bangga." Jawab Afran membuat Geet melotot.


"Emang lo udah ngapain gue semalem?"


Terlintas ide jahil di benak Afran. "Tangan gue masuk ke baju lo, dan ngelus punggung lo pelan-pelan. Terus gue elus-elus dada lo, terus... Aaaaaww..."


Geet mencubit keras pinggang Afran. "Genit aja bisanya.."


Afran terkekeh dan mencubit pipi Geet gemas. "Bercanda. Gue nggak ngapa-ngapain kok. Masih bisa nahan."


"Iihh.."


"Sekarang kita ke restoran, gue dapet info kalau Emon sama Don biasa makan siang di sana. Kita bisa intai mereka."


Teringat yang diperbuat Emon membuat Geet geram lagi dan ingin segera memberinya pelajaran.


***

__ADS_1


__ADS_2