
Di kamar hotel..
Afran sedang duduk santai di sofa sambil memainkan HP ketika bel berbunyi.
Ia bergegas membuka pintu, gadis cantik berbaju seksi tersenyum padanya.
"Hay Fran.." Bella langsung cium pipi kanan kiri Afran. Pria tampan berkacamata itu sudah lama mencuri perhatiannya.
"Cantik banget lo. Wangi, lagi.."
"Iya gue abis perawatan. Demi ketemu sama lo. Lo kan spesial buat gue."
Afran mengajak masuk dan duduk di sofa dengan Bella duduk di pangkuannya.
"Gue seneng banget akhirnya lo mau ketemu gue berduaan. Lo nggak tau kan udah dari dulu gue suka sama lo. Tapi lo malah lebih perhatian sama Geet. Padahal cantikan gue kan."
"Masa'? Lo udah lama suka sama gue? Dan cemburu sama Geet?"
Bella mengangguk manja dan mengalungkan tangannya di leher Afran.
"Oh ya kenapa dua teman lo dikeluarin dari geng?" Tanya Afran mengulur waktu.
"Nggak usah tanya-tanya yang nggak penting. Gue pengen kita berduaan."
Afran mengelus paha mulus Bella. "Lo nginep sama gue kan malam ini? Atau... Lo ada janji sama orang lain makanya minta buru-buru?"
Bella kontan menggeleng. "Gue mau nginep sama lo, Fran. Gue mau kita resmikan hubungan kita."
"Hubungan kita bakal baik-baik aja kan kalo lo nggak macem-macem?"
"Macem-macem gimana maksud lo?"
"Celakain orang, misalnya."
Bella kontan menelan ludah. "Celakain orang? Mana lah gue bisa." Ia kontan turun dari pangkuan Afran dan mengambil segelas air di meja dan meneguknya.
Afran terkekeh. "Iya sih, gue dapet kabar Geet udah mati dibunuh, dan nggak mungkin kan lo yang celakain.."
Pffuuuuttt...
"Uhuk uhuk..." Bella kontan menyemburkan air yang ada di mulutnya dan terbatuk-batuk.
Afran tersenyum melihat Bella gelisah.
"Nih minum lagi. Abis itu kita mulai."
__ADS_1
Bella terkejut melihat tatapan Afran seperti bernafsu, mengangsurkan segelas air padanya.
Ia meneguk segelas air sampai habis.
"Gue ke kamar mandi dulu ya Fran.." baru berbalik, ia menguap lebar, matanya terasa berat.
Dalam hitungan detik, ia terjatuh di ranjang.
Afran tersenyum menyeringai dan menaikkan kakinya ke ranjang.
Pintu kamar mandi terbuka, dua orang pria keluar dari sana.
Salah satunya memegang kamera.
"Sudah siap, Mas."
"Lakuin sesuai rencana." Perintah Afran lalu ia masuk kamar mandi dimana Geet duduk di pinggir wastafel.
"Gimana?"
Afran tersenyum kecil. "Sesuai rencana. Dia bakal tidur pulas sampai pagi."
"Tapi jangan sampai diperkosa, Fran. Kasian."
"Nggak akan. Gue juga masih menghargai perempuan. Tapi kalo sampe nyakitin perempuan yang gue sayang, gue nggak bisa maafin juga." Afran berdiri menatapnya.
"Gue nggak terima ucapan terima kasih."
"Terus?"
"Gue mau dengar ucapan cinta."
Geet tertawa kecil. "Curang lo ah!"
"Gue serius, Geet. Gue udah lama suka sama lo. Dari awal gue pindah ke rumah Om Pandu. Tapi lo terus cuekin gue. Walau gue berusaha untuk cari perhatian lo, tetep aja lo jaga jarak dari gue. Dan peristiwa ini yang menyatukan kita." Afran meletakkan tangan Geet di dadanya. "Pemilik jantung ini, dari awal sudah ditakdirkan bersama lo. Entah Huza atau gue, kami adalah satu. Kami itu sama, mencintai satu perempuan, dan ingin membahagiakan perempuan yang dicintai. Please, jangan buat gue menunggu lagi, Geet."
Geet terdiam, jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan Afran. Untuk beberapa saat mereka terdiam, lalu Geet terkekeh dan mencubit hidung Afran gemas.
"Jadi laki-laki nggak ada romantisnya. Lo nembak gue di kamar mandi?"
Baru Afran tersadar, tempatnya kurang cocok, lalu terkekeh.
"Kebawa suasana sih. Jadi rusak moment sweet kita."
Geet sebenarnya salah tingkah, bingung ingin menjawab apa.
__ADS_1
Akhirnya ia mengalungkan tangannya di leher Afran membuat pria itu kaget.
"Sekali lagi terima kasih, Fran."
Tanpa aba-aba, langsung Afran menariknya turun dan merapatkan tubuhnya.
Geet kontan panik, karena tatapan Afran sudah seperti predator menemukan mangsa, siap dilahap.
"Jangan perkosa gue, Fran. Gue takut." Geet memejamkan mata ngeri.
Afran kontan tertawa geli. "Takut apa?"
"Takut hamil, takut lo kabur nggak tanggung jawab," cerocos Geet membuat tawa Afran meledak membuatnya bengong.
"Lucu banget sih lo.. mana mungkin gue nyakitin perempuan yang gue sayang. Lagian kalau pengen, kapan aja bisa gue lakuin, kita kan serumah. Kamar lo juga nggak pernah dikunci. Tapi gue nggak kurang ajar kan sama lo."
Baru sadar memang Afran tidak pernah berbuat macam-macam padanya. Hanya sekedar menggoda saja.
Mata Geet melotot lebar begitu Afran mengecup bibirnya sekilas.
"Kena kan!"
"Iihh Afran nakal ambil kesempatan.." Geet memukul lengannya sebal.
Afran terkekeh geli. Baru mau mencium lagi, pintu kamar mandi terbuka, kontan mereka menjauh.
"Sudah selesai, Mas."
Salah satu memberikan kameranya.
Afran memeriksa isi kamera dan tersenyum puas.
"Oke. Sisa bayaran kalian gue transfer nanti. Sekarang lo berdua pergi dari sini, hindari CCTV."
"Baik, Mas. Terima kasih."
Begitu orang suruhannya meninggalkan kamar, Afran dan Geet keluar kamar mandi.
Di ranjang, Bella tertidur mengenakan pakaian meski agak berantakan.
"Jadi gimana Fran?"
"Ya kita tinggal aja dia di sini."
"Kok ditinggal? Kasian."
__ADS_1
"Dia aja nggak ada kasian ninggalin lo di gedung itu. Bahkan lo ditendang dan diinjak. Mana bisa gue terima." Afran menarik Geet meninggalkan kamar.
***