Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 37


__ADS_3

Setelah meninggalkan Bella dan Geeta di mobil, Afran dan Geet bergegas pergi dari tempat itu.


Geet menarik nafas lega, puas dendamnya terbayar.


"Udah lega? Geng Purple udah dapat ganjarannya."


"Iya Fran. Udah plong rasanya. Mereka nggak akan berani berulah lagi."


"Gue udah buang kamera dashboard, juga HP mereka. Mereka juga nggak punya bukti, untuk laporin kita. Karena gue ancam mereka jangan macem-macem, kalau nggak mau mereka masuk penjara akibat celakain lo waktu itu."


Geet sungguh puas barusan ia menggunduli rambut Bella dan Geeta. Dulu mereka kerap menjambak rambutnya. Maka ganjaran yang setimpal mereka dapatkan.


"Bella sama Geeta nggak akan berani muncul di depan umum lagi."


Melewati jalan sepi, ada dua pria tergeletak di jalan bersimbah darah dengan motor di sampingnya.


"Fran, ada kecelakaan tuh."


Afran melihat sekitar sepi. "Biarin aja. Bisa jadi jebakan ntar kita dibegal."


Tiba-tiba Geet menangkap dua bayangan sosok yang dikenalnya. Berdiri memandangi dua pria yang tergeletak di aspal.


Lho Deni dan Nenek Tini??


Ia sungguh terkejut melihat dua arwah yang bergentayangan karena mati dibunuh begal motor.


"Berhenti, Fran. Mereka udah mati."


Afran menatapnya bingung. "Tau dari mana lo?"


"Nanti gue jelasin. Percaya sama gue."


Akhirnya Afran menepikan mobilnya di depan makam.


Geet turun dari mobil.


Dua arwah itu memandang ke arahnya.


"Deni, Nenek Tini... Jadi ini yang udah bunuh kalian berdua?" Tanya Geet.


Deni dan Nenek Tini hanya mengangguk.


Dua pria pelaku begal sudah bersimbah darah tak bernyawa.


"Kalian udah tenang sekarang. Dendam kalian sudah terbalas."

__ADS_1


"Nak, Nenek minta tolong, untuk sesekali Nak Geet ini menjenguk anak dan cucu Nenek yang masih kecil di rumah. Rumah Nenek ada di kampung sebelah di samping kali."


Geet mengangguk. "Baik, Nek. Saya akan mengunjungi anak cucu Nenek dan menghiburnya."


"Terima kasih Nak."


"Nenek dan Deni istirahat yang tenang. Urusan kalian di dunia ini sudah selesai."


Begitu kedua arwah itu menghilang, Afran bergegas mendekat dan menepuk-nepuk wajah Geet.


"Sadar Geet, istighfar..."


"Apaan sih Fran?"


"Lo ngomong sama siapa tadi? Ngeri gue."


Geet melihat dua pelaku begal yang sudah tewas.


"Waktu gue sama Huza gentayangan, kami ketemu sesama arwah yang mati nggak tenang. Namanya Deni dan Nenek Tini. Mereka mati dibunuh begal motor. Dan barusan ada mereka di samping mayat dua orang ini. Mereka kasih tau gue, ini pelaku yang bunuh mereka. Maka setelah itu mereka berdua menghilang. Nenek Tini cuma berpesan supaya gue jenguk cucunya yang masih kecil."


"Nggak ngarang kan lo?"


"Iihh lo nyebelin deh. Udah telepon polisi belum?"


"Udah, lagi on the way. Gue laporin di jalanan ada dua jenazah."


"Geet, jangan diem aja dong. Gue bacain ayat kursi ntar kalo lo bengong." Kata Afran membuat Geet tertawa kecil.


"Takut lo ya, sama pengalaman gue hidup di dua dunia."


"Siapa juga yang takut?" Walau Afran tak bisa menutupi ekspresinya, bulu kuduknya berdiri melihat suasana mencekam.


Namun tak lama karena mobil polisi tiba, langsung mengevakuasi dua jenazah.


Afran dan Geet memberi keterangan seadanya menemukan mereka di jalanan.


Dari hasil pemeriksaan, tidak ada tanda-tanda pembunuhan. Murni kecelakaan karena rem motor blong.


Bahkan kepala keduanya penuh darah terbentur batu hingga tewas seketika.


***


Tiba di rumah sudah hampir tengah malam, Geet langsung masuk kamar, matanya tidak bisa kompromi, ngantuk berat.


Afran melepas jaket dan ke dapur mengambil kaleng biskuit kosong.

__ADS_1


Lalu ia masukkan HP, memori card isi foto-foto Bella, kamera dashboard mobil Geeta. Tak lupa HP yang digunakan membalas Eros. Setelah itu ia bakar semuanya.


"Sekarang gue harus periksa perkembangan pengintaian di gedung itu." Afran memeriksa HP nya. Ada pesan dari orang suruhannya.


Bahwa ada beberapa orang suruhan kepolisian menyusup masuk ke sindikat ini.


Afran sungguh lega. "Kalau dari kepolisian sudah menyusup, gue yakin nggak lama lagi bakal dibekuk."


Ia memejamkan mata, lalu membuka mata lagi dan tertawa kecil.


"Gue nggak tau harus bersikap apa kalau Geet udah bahas dunia arwahnya. Secara medis dia bisa divonis sakit jiwa. Tapi semua perkataannya masuk akal. Bahkan polisi kasih info memang benar dua begal motor itu pelaku pembunuhan nenek dan cucunya. Pelaku sudah lama dicari polisi. Gue nggak tau masih harus berpikiran waras apa enggak."


HP di meja berbunyi.


"Lho ini HP yang gue gunain buat bales Emon dan Don. Apa mereka udah dapet bukti?" Ia memeriksa chat dari orang suruhannya.


Ada banyak foto dan video yang didapat setelah mengintai pasangan sesama jenis itu berhari-hari. Banyak foto kemesraan mereka yang begitu menjijikan. Bahkan ada foto mereka sedang berciuman di mobil.


"Gila banget ni orang. Nggak bisa bayangin gue kalo Geet jatuh ke tangan orang kayak begini."


Untuk menjalankan misi balas dendam, ia memang tidak banyak berinteraksi dengan orang. Semua dilakukan melalui telepon.


Seperti ketika ia membayar Delon dan Anto. Ia lakukan tanpa bertatap muka. Meminimalisir meninggalkan jejak.


Dan kini ia sudah siap membalas Emon dan Don. Sungguh geram membayangkan Geet dilecehkan keduanya.


"Huza!!"


Afran terkejut mendengar teriakan, bergegas menuju kamar Geet.


Geet terduduk dengan nafas tersengal-sengal, tubuhnya berkeringat dingin.


"Geet, lo mimpi?" Afran duduk di tepi ranjang.


"Fran!" Geet langsung menghambur memeluk Afran. "Gue mimpi Huza kesakitan."


Afran tersentak, mendadak dadanya nyeri.


"Dia... Kesakitan dan menangis. Dia nggak ngomong apa-apa sama gue. Tapi gue nggak tega lihatnya, Fran..."


Apa ini isyarat dari Huza buat gue? Supaya gue cepat menemukan jasadnya? Batin Afran.


Geet terisak menenggelamkan kepalanya di dada Afran.


Afran mengusap-usap punggungnya berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Nggak usah takut. Ada gue di sini. Gue janji akan secepatnya meringkus mereka semua dan kita akan menemukan jasad Huza."


***


__ADS_2