
Rencana dijalankan esoknya.
Geet dan Afran diam-diam mengawasi gerak-gerik wanita seksi yang dibayar mendekati Pak Dewo. Tak sulit memancing pria hidung belang macam Pak Dewo.
"Waduh... Pendek amat bajunya." Geet geleng-geleng kepala.
"Kalo mau mancing cowok ya kasih yang beginian. Kasih paha mulus glowing langsung mupeng." kata Afran.
"Berarti lo juga doyan liat paha mulus?"
"Ya yang lain nggak pa-pa, lo jangan."
"Mau pesan apa, Kak?" Muncul waitress.
"Geet, mau pesan minum?"
"Boleh deh. Haus nih. Jus jeruk ya Mbak."
"Kalau saya, minta ice cappucino."
"Baik, ditunggu ya." Waitress berlalu.
Mereka duduk selang dua meja dari Pak Dewo yang sedang makan siang dengan orang bayaran Afran.
"Tuh liat, udah gatel aja tu tangan pegang-pegang. Matanya juga ampe melotot gitu liat belahan dadanya."
__ADS_1
"Emang deh laki-laki, nggak bisa liat yang seksi, sayang dianggurin. Lo dapet dari mana cewek kayak begini, Fran?"
"Dia itu artis figuran. Gue dapet info dia lagi sepi job. Gue tawarin kerja begini dia mau."
Geet mengangguk-angguk. "Jangan sampai ngamar ya, kasian.."
"Sampe ngamar juga nggak pa-pa. Malah bagus sambil di gap sama istrinya."
"Pasti pecah tu."
Melihat si cewek seksi bernama Mawar permisi ke toilet, Afran memberikan sesuatu pada Geet.
"Buruan lo susul dia ke toilet. Kasih ini. Untuk kita arahin dia."
"Dia mau anter saya pulang, Mbak." Lapor Mawar.
"Bagus. Pokoknya, ulur waktu selama mungkin. Bikin dia nggak peduli sama HP apalagi kalau ada yang telepon. Nih lo pake ini, tutupi rambut, denger instruksi dari gue."
"Baik, Mbak." Mawar patuh memasang earphone di telinga.
Kembali ke meja, Pak Dewo gelisah melihat jam.
Geet dan Afran cekikikan melihat pria tua itu gelisah. Karena sudah mendekati jam pulang sekolah anaknya.
"Mawar, lo rayu dia sekarang. Supaya dia mau anter lo ke salon. Dan berlama-lama di sana." Afran berbicara lewat earphone yang terdengar Mawar.
__ADS_1
"Mas Dewo..." Suara Mawar begitu manja membuat jakun Pak Dewo naik turun. Apalagi begitu Mawar menyilangkan kaki menunjukkan paha mulusnya.
"Iihh Mas kok diem sih? Bosen ya ngobrol sama Mawar?"
"Eh nggak kok. Mana lah bosen. Tapi ini udah mau jam satu."
"Emang kenapa? Mas mau ketemu pacar Mas ya? Mau ninggalin Mawar?"
"Eh bukan.. tapi itu.."
"Mas temenin Mawar ke salon yuk. Mawar mau perawatan. Emang Mas nggak kepengen nih rasain kulit Mawar yang lembut?" Goda Mawar mengelus tangannya sendiri.
Pak Dewo kontan menelan ludah. "Iya mau. Tapi saya telepon.."
"Telepon kantor? Nanti aja Mas. Yuk kita pergi." Mawar langsung menarik tangan Pak Dewo yang manut aja. Begitu Mawar memeluk lengan Pak Dewo begitu manja.
Pada akhirnya, Pak Dewo benar-benar tergoda dan teralihkan. Mawar melakukan tugasnya dengan baik.
Berlama-lama di salon, sampe berlagak tak sengaja menjatuhkan HP Pak Dewo hingga rusak. Dasarnya Pak Dewo sudah terperangkap, sama sekali tidak marah karena diajak ke hotel.
"Udah cukup ni. Istrinya Pak Dewo ini pasti kelabakan suaminya nggak bisa dihubungi. Gue kirim foto-fotonya sekarang." Geet membuka HP sekali pakai yang hanya ada nomor istrinya Pak Dewo dan mengirim semua foto yang didapatnya. Terakhir foto mereka masuk hotel.
Geet tersenyum puas membayangkan perpecahan yang akan terjadi.
***
__ADS_1