
Tak ada yang lebih mengejutkan untuk Bella selain kedatangan orangtuanya.
"Lhoo Mami, Papi? Kok udah pulang? Katanya tanggal tiga baru pulang. Kangen ya sama Bella?"
Plakkkk...
Bella terkejut dapat tamparan keras dari ayahnya.
"Lho Papi kenapa tampar Bella??"
"Papi malu dengan kelakuan kamu!" Bentak Andrean. "Papi kerja untuk kelangsungan hidup kita. Tapi anak Papi satu-satunya, kebanggaan Papi, melakukan hal yang sangat memalukan!"
Bella tak mengerti kemarahan ayahnya, beralih pada ibunya yang diam saja.
"Mami, Papi ngomong apa Bella nggak ngerti!?"
Plakkk...
Yang didapat malah tamparan keras melengkapi tamparan ayahnya tadi.
"Mami pikir kamu sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Tapi kamu malah jadi perempuan murahan!" Tuduhan Alina membuat Bella shock.
"Mami kok tega ngatain Bella murahan??? Bella ini anak Papi sama Mami!" Jerit Bella histeris.
"Putri kami tidak mungkin melakukan hal memalukan!"
"Apa yang udah Bella lakukan??"
Andrean menunjukkan foto di HP nya membuat Bella melotot kaget.
Fotonya memejamkan mata dengan tubuh telanjang, kedua tangannya ditaruh di atas kepala berpose pasrah dan sensual.
Foto-foto selanjutnya begitu vulgar. Ada pria telanjang menciumi dada montok Bella, dengan kedua tangan Bella mengusap rambut pria itu seperti menikmati.
Setiap foto begitu e*otis menunjukkan betapa murahannya Bella menikmati setiap sentuhan pria itu. Pria yang tidak terlihat wajahnya.
Terutama ketika pria itu membuka lebar kedua kaki Bella dan menenggelamkan kepalanya di antara paha gadis itu, Bella menunjukkan ekspresi yang sensual.
"Ini bohong, Mi!" Bella sungguh panik. Bagaimana mungkin ada foto-foto ini???
"Bohong apa? Ini jelas-jelas foto kamu. Kamu bener-bener memalukan! Papi nyesel ngerawat kamu!"
"Iya, Pi. Nggak nyangka anak yang kita rawat, malah mempermalukan kita! Mami nyesel! Tau gini, ngapain kita pungut anak?"
Bella terkejut mendengar perkataan orangtuanya. "Maksud Mami Papi??"
"Kamu bukan anak kandung kami. Papi dulu jadi relawan bencana longsor, di tenda pengungsian ada ibu melahirkan, dalam kondisi keluarganya sudah meninggal. Begitu bayi itu lahir, ibunya meninggal. Bayi perempuan itu tidak ada yang mau menanggung hingga Papi mengangkat dia jadi anak, karena kami sudah lama menikah belum juga dikaruniai anak. Ya. Bayi yang kami adopsi dari pengungsian itu kamu. Tapi sekarang Mami nyesel angkat kamu jadi anak! Kelakuan kamu bikin keluarga kita malu!"
__ADS_1
Penjelasan Alina mengejutkan Bella, yang langsung tertawa.
"Ini pasti Mami Papi bercanda kan?? Bella anak Mami Papi."
"Kami nggak bercanda!"
Bella tak habis pikir akan fakta yang didapatnya.
"Dari mana Papi Mami dapat foto itu?"
"Dari Geeta, teman kamu. Dia mengirim foto dan memberitahu kami kelakuan kamu."
"Geeta??" Bella baru sadar Geeta belum kembali barusan pergi hendak ke minimarket.
"Pi, ini nggak bener. Itu foto pasti udah direkayasa sama Geeta. Dia pengen fitnah Bella!" Bella berusaha membela diri.
"Cukup, Bella!" Bentak Andrean membuat Bella diam. "Mulai sekarang, kamu pergi dari rumah ini! Papi nggak sudi menganggap kamu anak lagi! Memalukan saja!"
Bella menganga kaget diusir. Lalu beralih mencoba membujuk Alina.
"Mi, tolong jangan usir Bella. Bella nggak salah."
"Pergi kamu sekarang, Bella. Sebelum nama baik keluarga makin hancur karena kelakuan kamu."
Bella sungguh shock diusir orangtuanya.
***
Bella yang sibuk menyeret kopernya terkejut mendengar tawa itu.
"Geeta???"
Geeta duduk menyandar di mobilnya. "Ternyata lo cuma anak angkat? Gaya aja selangit, ternyata lo cuma dipungut sama orangtua lo. Di pengungsian pula."
Bella sungguh geram dan menerjang Geeta. "Heh! Ini semua kerjaan lo kan?? Lo jebak gue sampe ada foto itu?? Dan lo kirim itu ke orangtua gue?"
Geeta mengangkat kedua tangannya. "Bukan gue yang ambil foto itu. Ada yang kirim ke gue."
"Siapa?"
"Gue mana tau. Nomornya nggak aktif setelah fotonya gue terima."
Bella sungguh berang. "Trus kenapa pake lo kirim ke orangtua gue??"
"Ya gue empet aja sama lo! Jadiin gue babu mentang-mentang tinggal gue geng lo! Gue nggak suka sama sikap semena-mena lo nindas gue seenaknya. Jadi begitu ada foto dikirim ke HP gue, ya gue kirim aja ke Om Andrean dan Tante Alina. Biar lo kena marah. Eh taunya lebih parah. Lo malah diusir dan ketahuan cuma anak pungut!" Geeta tertawa puas.
"Br*ngsek lo, Geeta!!" Maki Bella emosi.
__ADS_1
"Maki aja gue sepuas lo, toh lo juga bukan siapa-siapa!"
Bella mendengus kesal, tak mengira terjepit situasi memalukan begini.
"Siapa yang kirim pesan itu?" Tanya Bella.
Geeta angkat bahu. "Mungkin orang yang tidur sama lo semalem. Afran mungkin?"
Bella teringat memang semalam ia bersama Afran di kamar hotel, namun ia tak ingat lagi mendadak mengantuk. Bangun-bangun ia sudah berbaring di ranjang, pakaiannya masih sama. Hanya resleting bajunya hampir terbuka semua.
"Afran? Jangan-jangan dia pelakunya!" Bella coba menghubungi Afran, namun tidak aktif.
"Coba nih cocokin nomornya." Geeta memberikan HP nya.
Bella mencocokkan nomor yang mengirim chat pada Geeta, dan nomor yang digunakan Afran berkomunikasi dengannya.
"Iya bener. Berarti Afran ini pelakunya. Anj*ng tu cowok! Gue kira bener dia pengen sama gue!" Umpat Bella sudah tertipu.
"Lo ikut gue sekarang!"
"Ke mana?" Geeta bingung.
"Ke hotel yang semalam. Gue mau cari tau. Cepet pake mobil lo."
Geeta mendengus dingin. "Last time. Next gue ogah disuruh-suruh sama lo."
Berdua mereka naik mobil menuju hotel.
"Gue bingung kenapa juga Afran berbuat itu sama gue? Bahkan semalam dia bahas kalau Geet udah mati, dan dia tanya apa gue yang bunuh Geet."
Geeta menoleh sekilas. "Geet? Si cleaning service?"
"Ya sama siapa lagi kita bermasalah?"
"Oh ya gue baru ingat. Ada cewek jawab telepon gue ke nomor Delon. Dia ngaku pacarnya Delon yang baru pulang dari luar negeri. Dan dia bilang Delon cuma pura-pura suka sama gue. Dia bikin gue sama Sherry ribut hingga geng kita pecah. Katanya Delon dibayar orang untuk ngelakuin itu."
"What??" Bella kaget.
"Dan gue yakin sekarang, yang jawab telepon gue ngaku pacarnya Delon itu suara Geet. Iya gue yakin itu."
Bella mulai curiga. "Apa semua masalah yang kita hadapi ini ulahnya Geet? Supaya geng kita pecah."
Geeta mendengus. "Lo sih pake bully dia. Ribet kan jadinya dia bales segini jahatnya. Lo sampe diusir. Sherry sama Lesta kecelakaan. Gue ditinggal cowok gue."
"Kok lo jadi nyalahin gue sih?"
"Ya lo kan ketua geng. Kita semua cuma nurutin yang lo suruh."
__ADS_1
"Udah deh gue nggak mau debat. Sekarang kalo emang kecurigaan kita mengarah ke Geet, kita lacak nomor yang kirim, dan kita labrak tu cewek! Dia udah bikin gue diusir dipermalukan, dan bikin lo dimainin sama Delon."
***