Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 49 - End


__ADS_3

Empat bulan kemudian...


Afran, Herald, dan Yesha menanti di depan ruang persalinan.


Ketika pembukaan klinik jantung miliknya mendadak Geet mengalami kontraksi dan ketubannya pecah. Langsung saja ia dilarikan ke klinik ibu dan anak yang lokasinya tak jauh dari klinik jantung milik Afran.


Afran tak henti menggesek kedua tangannya, begitu gelisah. Panik, takut, cemas, bercampur jadi satu membuatnya tak karuan.


Herald pun tak kalah cemas. Namun berusaha tenang karena ada Yesha.


"Pa... Harusnya aku temani Geet di dalam.." kata Afran makin gelisah.


"Tenang, Fran. Geet cuma nggak mau kamu shock lagi. Ingat kan kamu sampai pingsan begitu menemani Geet melahirkan Yesha? Geet juga pasti kuat. Papa yakin." Herald berusaha menenangkan.


Tak lama kemudian, pintu ruang bersalin terbuka. Dokter melepas masker. Langsung diburu oleh Afran dan Herald, sementara Yesha asyik bermain boneka Barbie.


"Bagaimana Dok?"


"Selamat Pak Afran. Bayinya laki-laki. Sangat sehat. Berat badannya 3,8 kg."


"Alhamdulillah..." Afran dan Herald mengucap syukur namun langsung terbelalak.


"3,8 kg Dok??"


"Benar."


"Besar sekali."


Waktu Yesha lahir berat 3,2 kg saja Geet sampai dirawat seminggu di rumah sakit. Kali ini bayinya 3,8 kg.


"Tapi sangat sehat, Pak. Ibunya juga sudah stabil. Sebentar lagi akan dipindah ke kamar rawat."


Afran berpelukan dengan Herald sambil menangis terharu.


"Menantu Papa hebat, sekarang cucu Papa sepasang perempuan dan laki-laki."


"Ayahhh...." Yesha berlari langsung digendong Afran.


"Sekarang Yesha udah jadi Kakak. Yesha punya adik bayi." Afran mengecup pipi Yesha berkali-kali.

__ADS_1


"Aciikkk... Nanti Yeca bajuin kayak belbie ya Yah?"


"Kok dibajuin Barbie? Adiknya Yesha laki-laki. Nggak bisa pake baju Barbie."


"Mana mana Yeca mau liat adiikk..."


***


Di kamar rawat VIP, bayi tampan yang begitu montok dan chubby tertidur di box bayi.


Geet tak henti memandangi putranya yang begitu lelap tidur.


"Sayang, minum dulu." Afran memberikan sedotan untuk Geet mudah minum.


Begitu setengah gelas air habis, Geet celingukan.


"Papa sama Yesha ke mana, sayang?"


"Pulang dulu. Kasian Yesha ngantuk. Aku juga suruh Papa istirahat di rumah karena tensi Papa sempat naik."


"Yang jagain Yesha siapa?"


Air mata Geet mengalir sambil tersenyum.


"Sayang kok nangis lagi? Masih sakit emang jahitannya? Bayi kita kegedean makanya kamu kesakitan lahirinnya?" Pertanyaan Afran membuat Geet tersenyum geli.


"Ya nggak mikir sakit, sayang. Yang penting anakku selamat."


"Yang penting kalian berdua selamat." Afran menciumi kening Geet penuh sayang.


"Sayang, udah siapin nama untuk anak kita?" Tanya Geet dijawab dengan senyuman.


"Huza Ardiansyah."


Geet tersenyum lebar dan mengelus pipi suaminya.


"Nama paling bagus. Dia bersinar seperti Huza. Yang memberi kita kekuatan untuk hidup yang baru." Afran memandangi putranya yang menggeliat menggerakkan kepalanya.


"Huza terlahir kembali di tengah keluarga kita, sayang. Dia akan selalu jadi cahaya harapan bagi kita yang putus asa. Dia akan menjadi secercah cahaya yang membawa harapan baru." Geet teringat kenangannya bersama Huza ketika dirinya koma, dan itu kenangan yang tak terlupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Huza memberinya pelajaran berharga untuk menjadi lebih berani. Membantu yang lemah. Dan tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup.


"Sayang, terima kasih.."


Afran yang sedang menggendong baby Huza menoleh.


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk hadir membuatku menjadi lebih kuat dan berani."


Afran tersenyum dan mendekat, lalu mengecup kening Geet.


"Sama-sama, sayang. Huza menjadi perantara kita bisa bersama seperti sekarang. Memang sudah jalannya. Dan aku nggak menyesali itu. Karena sekarang, keluarga kita sudah kedatangan Huza junior. Lihat, dia mirip banget sama Huza kan?"


Geet mengecup pipi gembul putranya.


"Anak Ayah kok chubby bener. Sayang, emang muat dia keluar dari situ?"


"Iiihhh Ayah nih..." Geet mencubit lengan suaminya sebal.


Afran terkekeh dan menyatukan kening mereka.


"Kita harus jadi lebih kuat untuk anak-anak kita. Jangan pernah lelah mendampingiku."


"Nggak pernah lelah. Karena nggak ada yang bisa mencintaiku seperti kamu."


"Kalo gitu...." Afran mengecup bibir Geet berkali-kali. "Udah baby Huza mulai makanan pendamping ASI kita program anak ketiga ya?" Ide Afran kontan dapat hadiah jeweran di telinganya.


"Duuhh sayang, bercanda kok."


"Bercandanya nggak liat waktu. Itu anak belum ada dua belas jam lahir udah niat mau ngasih adik." Omel Geet.


Afran terkekeh. Begitu menikmati moment bersama anak dan istrinya.


Ia merasakan jantungnya berdenyut begitu nyaman, tepat ketika baby Huza bersandar tepat di jantungnya.


Huza, gue dan Geet udah menjadi orangtua dari dua anak. Gue nggak ngerasa sendiri karena lo selalu ada bersama kami. Thanks Huza, atas kesempatan hidup dari Allah dengan lo sebagai perantaranya. Gue nggak akan pernah lupain lo. Thank you for everything, brother...


*TAMAT*

__ADS_1


__ADS_2