Pembalasan Gadis Korban Bully

Pembalasan Gadis Korban Bully
Bab 42


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, tak sekalipun Afran melepaskan genggamannya membuat Geet malu.


"Fokus nyetir, Fran. Kok liatin aku terus sih?" Omel Geet.


"Ya aku happy. Masih nggak percaya kita bisa sampai di titik ini." Afran mengecup punggung tangan Geet berkali-kali.


"Tapi nggak boleh nakal lho.."


"Enggak akan. Dikit aja boleh tapi ya."


"Dikit-dikit naik bukit ntar."


HP Afran berbunyi.


"Jawab aja.."


Geet agak ragu. Khawatir itu privasi.


"Nggak apa-apa. Kamu kan calon istriku. Jawab aja, nggak ada rahasia kok."


Geet mengambil HP Afran dan menjawab telepon dengan loud speaker.


"Halo?"


"Halo Mas. Polisi dan tim SWAT akan menyerbu tempat ini tengah malam nanti."


Afran dan Geet saling pandang.


"Bagus. Gue akan langsung ke lokasi."


Begitu telepon ditutup, Geet jadi cemas karena tahu tentang sindikat human trafficking yang meresahkannya.


"Mereka akan dibekuk malam ini kan Fran?"

__ADS_1


"Iya. Aku nggak sabar mau grebek lokasi itu."


"Tapi hati-hati Fran. Mereka bawa senjata. Bahkan aku pernah lihat gudang senjata mereka."


"Tenang aja. Polisi dan tim SWAT pasti sudah persiapkan dengan matang. Kamu di rumah aja ya."


Geet menggeleng cepat. "Nggak mau. Aku mau ikut."


"Aku nggak mau membahayakan kamu."


"Kalau aku ditinggal sendirian malah takut. Aku ikut ya Fran.. kan aku bisa bantu kasih info dimana aja yang dijaga."


"Tapi..."


"Afraannnn...." Geet mengeluarkan jurus merajuk manjanya membuat Afran menyerah.


"Iya oke, tapi dengan syarat, nggak boleh kamu jauh-jauh dari aku."


"Makasih calon suamiku...."


Geet tersenyum getir.


Tiba-tiba ada kerumunan di pinggir jalan, di kawasan padat penduduk. Kerumunan itu membuat jalanan macet.


"Ada apa ini?"


Geet menjulurkan kepala keluar jendela melihat ke depan.


"Kayaknya ada kecelakaan, Fran. Bisa putar balik?"


"Nggak bisa. Ini jalanannya sempit."


Warga berkerumun melihat jenazah yang bersimbah darah.

__ADS_1


"Fran, jalan pelan-pelan. Kita bisa lewat kayaknya."


Afran melajukan mobil melewati lokasi dimana di jalanan tergeletak jenazah pria berbadan besar dengan tangan dan leher penuh tato.


Geet tercekat melihat sosok anak kecil berdiri memandangi jenazah pria itu.


"Lho Wina?"


"Siapa Wina?" Tanya Afran bingung.


"Fran, minggir sebentar." Geet yakin gadis kecil itu Wina, arwah gentayangan korban pemerkosaan yang ia temui.


Meski bingung, Afran menepikan mobilnya.


Baru Geet mau turun dari mobil, Wina sudah muncul di jendela mobilnya.


"Wina, itu pelakunya?" Tanya Geet.


Wina hanya mengangguk, senyum tersungging di bibir mungilnya.


Ternyata pelaku pembunuh Wina sudah mendapatkan ganjarannya. Preman itu tewas dianiaya penagih hutang, yang mana warga enggan menolong. Karena reputasi preman itu yang meresahkan warga kerap melakukan palak dan pungutan liar sampai melakukan kekerasan.


"Kamu bisa istirahat tenang sekarang, Wina. Dendam kamu sudah terbalas."


Wina tersenyum dan melambaikan tangan. Lalu berjalan mundur, perlahan menghilang seperti asap.


"Ada arwah lagi ya?" Tanya Afran, sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Geet. Setelah koma dan jadi arwah gentayangan, mata batin Geet selalu bisa melihat hal-hal gaib yang tidak bisa dilihat orang biasa.


"Iya. Namanya Wina. Dia masih kecil dan jadi korban pemerkosaan preman. Dan orang itu pelakunya. Wina bisa tenang sekarang nggak perlu gentayangan lagi."


Afran merinding membayangkannya anak kecil dianiaya preman dengan badan sebesar itu.


"Tega banget ya. Tapi untung yang begitu cepet dicabut nyawanya. Daripada bikin resah warga. Kita jalan lagi ya. Liat ke depan aja. Jangan noleh-noleh ke belakang."

__ADS_1


***


__ADS_2