
Di Sebuah asrama seorang pemuda berebahan sedang melihat notifikasi di depannya
[ Ding, selamat mster karna mendapatkan kesempatan untuk menarik kotak hadiah di Roulet di bulan Agustus ]
Itu masih sama seperti terakhirkalinya terdiri dari sepuluh kotak hadiah yang membuat dirinya tertarik terdapat tiga kotak hadiah dengan isi kartu ketrampilan dua tingkat Silver satu tingkat Bronze, tiga kotak senjata namun acak dan tiga kotak paket hadiah secara acak juga. Satu kotak hadia utama. Dirinya sudah memiliki kartu ketrampilan dan senjata itu akan menjadi kebahagiaannya jika paket hadiah atau hadiah utama Ardhius yang tersenyum senyum memencet tombol putar, jarum Roulet mulai berputar. Sudah tiga kali putaran penuh akhirnya mulai melambat, Ardhius mulai berkeringan dingin ketika mendekati kotak hadiah senjata. Dirinya telah menghabiskan banyak uang untuk Immortal Soul Gathering
" Berhenti...berhenti " teriak Ardhius
Ardhius benapas lega seolah oleh bebannya terangkat ketika itu salah satu dari paket hadiah
" untung saja itu bukan senjata jika senjata dia tak tahu harus bagaimana karna dirinya sudah memiliki tombak " guman Ardhius
[ Ding, selamat master mendapatkan paket kotak hadiah, Kyusecho ( pertumbuhan cepat )
Sebuah kotak besar muncul didepannya, dia memiringkan kepalanya bingung
" sialan. Apa itu Kyusecho..."
Karna penasaran di kliknya kotak hadiah, kotak hadiah itu mulai bercahya dan ketika menghilang beberapa barang muncul dihadapannya sepasang gelang pelindung kaki dan tangan pakaian yang mirip dengan rompi
[ Ding apakah master akan mengaktifkan Kyusecho Ya / Tidak ]
Ardhius memilih ya karna rasa penasarannya
[ Ding, diharapkan master untuk memakainya ]
Ardhius pun memakai semuanya karna penasaran
[ Ding, Kyusecho telah di lengkapi. Harap menunggu ]
[ Ding, selesaikan poin dan dapatkan poin potensial sebanyak tiga puluh lima ( 0/100000 )
Sialan itu benar benar banyak, Ardhius bangun namun tiba tiba terjatuh tanpa sebab. Berat...itu berat.
" sialan..." kutuk Ardhius
" Gelang di lengannya dua puluh kilo, rompi empat puluh kilo, pelindung kaki dua puluh kilo. Sialan system akan membunuhku " lanjutnya
Dirinya tak bisa bergerak dan ketika dirinya hendak melepasnya karna kehabisan energi sebuah suara dingin muncul di benaknya
[ master tidak di perbolehkan melepasnya sebelum selesai dan kenyebabkan kegagalan. ]
Peringatan...peringatan tidak di perbolehkan untuk melepasnya.
Ardhius tersentak tiba tiba, benda itu mengalirkan sengatan listrik
__ADS_1
" ternyatata benar system hendak membunuhku " gerutu Ardhius
dengang perlahan lahan di gerakkan di mulai dengan tangannya, dengan naik turun kemudian kakinya juga sama. Setelah di rasa cukup dirinya bermaksud untuk bangun, namun sia sia. Sedikitpun tak dapat mengangkat tubuhnya, Ardhius terlalu lelah hingga yang dapat dilakukannya hanya merangkak dan berguling kembali ke asramanya dengan susah payah. Di membawa beban sekitar seratus empat puluhan kilo dan dalam usaha dan kerja kerasnya hanya dapat menghasilkan dua ratus poin lebih. Untuk kembali keasramanya saat ini membutuhkan waktu yang banyak setelah beristirahat sepuluh menit dia kembali menjutkan terus demikian hingga tiba di asramanya.
Keesokaannya di selatan akademi Śhíķæńòģì Ardhius bangun untuk mengikuti pelajaran di akademi, kini sebagian besar mereka di lapangan ada yang berlatih atau spar biasa ada juga yang berlari. Ardhius juga salah satu dari mereka walaupun kesusahan namun setidaknya dia dapat berdiri. Seluruh lapangan nampak gaduh
[ Ding, 400 / 100000 ]
Ardhius sudah berkeliling lapangan walau hanya melangkah tak masalah baginya atau dapat dikatakan dirinya juga terpaksa. Dengan bobot beban seratus empat puluhan siapa yang tidak akan kesulitan, tiap putaran memberinya duapuluh terkadang empat puluh poin. Entah bagaimana menghitungnya, empqt ratus jauah dari akhir padalah dirinya sudah dua puluh putaran. Setidaknya dirinya mulai terbiasa dan mengenai poin itu akan mengikutinya dengan sendirinya
Dibawah terik mentari seorang pemuda berlari atau lebih tepatnya melangkah sedangkan teman temannya telah berlari jauh. Mereka bukan sedang berlomba hanya sedang melatih stamina mereka dengan ringan berbeda dengan pemuda itu, Ardhius dengan bobot beban sebanyak seratus empat puluhan kilo terpasang ditubuhnya nampak napasnya terseok seok dengan keringat yang membasahinya.
[ Ding, 400 / 100000 ]
Sebuah pemberitahuan dingin muncul di benaknya, sebuah angka yang kecil di bandingkan dengan jumlah akhir yang harus di perolehnya. Dirinya mendapat dua puluh poin terkadang empat puluh point dari berlari mengelilingi lapangan.
" dua puluh putaran " katanya lirih
" kakak..." kata seseorang menepuk bahunya
Bang, karna menaggung beban yang berat dirinya terjatuh kehilangan keseimbangan walau hanya sebuah tepukan bahunya.
Ardhius bangun dan melihat seorang gadis bermbut panjang nampak kecantikannya. Sorot matanya yang polos membuat orang disekitarnya menyukainya, dan dapat dikatakan mereka dekat. Nampak matanya berair
" maafkan aku, kakak sedang mood buruk " kata Ardhius mengusap air matanya
" Humph. " jawabnya sambil menggembungkan pipinya melototinya
Dirinya tak menyangka gadis kecil dulu kini telah dewasa dengan kecantikannya, ramping elegan. dulu dirinya dengannya sering bersama dan gadis itu seorang pengrajin senjata. Sejak dirinya masuk SMA tidak bertemu
" Corinna apa yang kamu lakukan disini ?" tanya Ardhius
Keduanya duduk berdampingan di rumput, berdasarkan ingatannyabdulu dia adalah gadis anak tetangganya dulu dan dirinya masa lalu menganggapnya sebagai adik. Kini di juga sama lagi pula siapa yang tak mau dengan adik seimut dia
" ini hampir ujian tengah semester dan guru kami ingin membawa kami meliaht Akademi yang ingin kami masukki..."
" Lalu apakah kamu siapa ke Akademi Śhíķæńòģì untuk bermain denganku... " goda Ardhius tersenyum nakal
" Bah, kamu suka membual narsis kak." jawab Corinna menusuk pipinya dengan telunjuknya
Nampak wajahnya memerah, dulundirinya juga sering menggoda dan menjahilinya dalam artian saudara. Ardhius hanya tertawa kecil
" Apakah benar di Distrik A20 ada banyak Ýēśśůē " tanya Corinna
Mendengar cerita Ardhius tentang Distrik A20 nampak sorot mata Corinna menunjukkan keterkejutan, kegembiraan dan ketakutan
__ADS_1
" Aku juga ingin melakukan latihan tempur di Distrik A20"
" Apakah kamu sekarang seorang Łìŕìéń Pemula ?" tanya Ardhius tersenyum
" Yo bukankah ini Ardhius yang di sebelahmu " potong seseorang nampak sorot matanya meremehkan
Ardhius hanya diam
" Ku dengar di Akademi Śhíķæńòģì juga memiliki terkuat di bawah yang kebetulan juga bernama Ardhius " kata salah seorang rombongan pemuda itu
Corinna termasuk gadis yang cantik tentu saja banyak yang ingin mendekatinya dan melihat Ardhius berduaan bersama dengan Corinna tentu saja orang yang menyukai Corinna tak senang.
" Apa maksudmu Chu Ping ? " tanya Corinna marah mendengar kata katanya
" Bukan apa apa hanya para junior bertemu dengan senior Ardhius ingin sparring " jelas orang yang di panggil Chu Ping tersenyum licik dan malu malu
Dirinya sebenarnya juga menyukai Corinna tapi lebih ke berna**u bagaimana tidak diliat dari penampilan Corinna. Dirinya mendengar Arshius hanyalah seorang sampah yang bahkan lebih lemah dari manusia biasa. Chu Ping jugajuga percaya dirinya dapat mengalahkan Ardhius dalam dua tahun
" Kamu bisa bertempur denganku." balas Corinna menunjukkan kepalan sambil tersenyum
Corinna tahu kakaknya tak pandai dan Chu Ping hanya membullynya, Chu Ping tak mempedulikan gadis itu
" tentu senior Ardhius tak mungkin takut denganku bukan..." kata Chu Ping memprovokasi sambil tertawa
kelompoknya juga tertawa mendengar apa yang dikatakan Chu Ping. Ardhius tahu maksud dari Chu Ping jika dirinya tak memenuhi tantangannya maka dia Ardhius seorang Łìŕìéń yang tak berani kepada anak SMA. Ardhius melihat gadis di sampingnya menggeleng pelan
" sebenarnya tak masalah namun aku takut di katakan senior membully junior, tentu reputasiku akan buruk. Biar kalian berdua sparing kudengar Corinna hebat, dan kebetulan memiliki usia yang tak jauh."
" Senior Ardhius jangan khawatir, aku hanya ingin mendapatkan pengalaman lebih tentu melawan yang lebih kuat dari kita akan memberi motivasi untuk lebih baik."
Ardhius diam menyentuh dagunya nampak berpikir
" Tapi benarkah tidak masalah " kata Ardhius ragu
" ah lebih baik tidak itu memalukan jika aku membully juniorku." lanjutnya sambil nenggeleng pelan
Corinna yang di sebelehnya menghela napas pelan dirinya lega namun segera dia mengerutkan kening setelah mendengar apa yang Ardhius katakan
" Atau begini kalian bisa maju bersama sama, setidaknya kalian kuat jika bersama sama." kata Ardhius tersenyum
" Senior Ardhius kamu meremehkanku."
" kamu salah memang kamu lemah jika melawanku sendirian dan kalian akan kuat mungkin juga dapat mengalahkanku."
Chu Ping sangat gembira setelah memikirkannya lebih muda bagi mereka untuk memberi pelajaran dan memberi tahu bahwa pria di depannya tidak cocok dengan Corinna
__ADS_1