Pemburu

Pemburu
Bab 2


__ADS_3

Ardhius hanya tersenyum pahit mengingat hal itu namun dirinya yakin dengan bantuan system dirinya akan menjadi lebih kuat. Wanita itu hanya terkikik melihat Ardhius yang tersenyum pahit


" lanjutkan cairan Ķáéfù apa yang kamu inginkan " kata wanita itu tanpa melihat Ardhius yang berbaring


" yang dua puluh lima union coin " jawabnya


Wanita itu memandanginya memiringkan kepalanya dia pun turun dari kabin dengan malu malu melepaskan pakaiannya hanya menyisakan ****** ********


" tentu kamu tidak malu bukan Ardhius "


Ardhius hanya diam , cidera yang dimilikinya sedikit mengejutkannya berbagai bentuk tanda merah nampak di tubuhnya. Nampaknya Ardhius mendapat bullyan dari sekitarnya cukup lama Ardhius kembali berbaring di kabin. Kabin itu di tutup mulai menscan dan cairan Ķáéfù dimasukkan kedalam tempatnya. Semakin mahal cairan Ķáéfù, di baca Kefu semakin baik daya penyembuhannya. Namun cidera yang di alaminya hanya memar lunak, jadi seharusnya cairan Ķáéfù biasa cukup menyembuhkannya


Segera cairan itu menutupi seluruh tubuhnya secara perlahan lahan. Cidera internal yang dialaminya ketika melakukan perjalanan waktu segera sembuh juga dan tubuhnya penuh dengan energi, Ardhius pun meninggalkan ruang kantor dokter sekolah setelah berpakaian dan dirinya tidak bertemu dengan wanita itu.


Setelah berpakaian Ardhius dengan segera dia keluar menuju kelasnya yang tampak ramai mereka membicarakan distrik A 20 hanya ada dua puluh slot yang tergabung yang kebetulan ada 20 calon di kelas jadi mereka tidak perlu berebut dibandingkan dengan kelas yang lain.


" Dimana Qi Ma..." tanya guru Lao He tatapannya menyapu seluruh kelas


" Qi Ma, dia sedang menjalani operasi di distrik B


karna mengalami tulang rusuk patah "


" operasi..."


" Di pukul Ardhius..." kata Chen Li


Mereka tertawa mendengarnya bagaimana mereka akan percaya jika Ardhius dapat memukul yang mengakibatkan cidera seperti itu walaupun Qi Ma seorang Łìŕìéń rata rata namun dibandingkan dengan Ardhius dia tentu lebih hebat. Oleh karna itu tak satu pun dari mereka percaya dan menganggap sebuah lelucon.


" Li Chen kamu jangan membuat lelucon, kau hanya akan. Menjadi bahan tertawaan "


" k...kamu..."


Akhirnya dia hanya diam mendengus kesal, tak ada yang mempercayainya entah bagaimana Ardhius tiba tiba menjadi kuat dan mengalahkan Qi Ma dengan satu pukulan


" Guru bisakah kali ini aku ikut " tanya Ardhius


Banyak pasang mata yang melihatnya Chen Li dan Za Song gemetar ketakutan


" Ardhius apa yang hendak kamu lakukan? Keberadaanmu di tim hanya akan merugikan yang lainnya. "


" Di Distrik A20 banyak Jüēźēŕ dan Ýēśśůē bahkan kamu bukan Łìŕìéń pemula ( Shohisya ) " tambah seseorang mencibir jijik


Ardhius hanya diam melihat guru Lao He, yang lain juga beranggapan bila Ardhius hanya akan merugikan sekitarnya sedangkan guru Luo He juga melihat Ardhius nampak terlihat sorot matanya yang tegas dan dari pengalamannya bertahun tahun dia tahu jika Ardhius sadar dan tahu apa yang di bicarakannya


" Ardhius jangan impulsif Distrik A20 sangat berbahaya bagimu, lebih baik berlatih terlebih dahulu. Lain kali kamu dapat pergi " kata guru Lao He setelah diam beberapa saat

__ADS_1


Benar jika distrik A20 tempatt yang berbahaya namun Ardhius juga tahu jika dia terus seperti ini dirinya takkan pernah maju di tambah dengan adanya system mudah baginya melampau semua yang ada di kelas. Ardhius memang pandai dalam pengetahuan namun dia memikiki fisik yang lemah, Ardhius pun memandangi remaja yang meremehkannya tadi


" jika aku dapat mengalahkanmu maka aku dapat pergi Xun Jie "


Xun jei memiliki tinggi diatas teman temannya tubuhnya pun atletis, dia tertawa mendengar perkataan Ardhius. Xun Jie tak menyangka Ardhius akan menantangnya, melihat Xun Jei meremehkan Ardhius pun berkata " Kita akan tahu siapa pecundang sebenarnya "


[ Ding, menggunakan Æņàŕiśùmè, dibaca Anarisum


Karak ter Xun Jie


Level Łìŕìéń Shohisya


Kekuatan 57


Fisik 44


Kecepatan 38


Total kekuatan tempur 445 ]


Dengan hati hati Ardhius menghindari serangan yang dilancarkan oleh Xun Jei sesekali menahan tendangan maupun pukulan, walau tangannya terasa sakit dan kebas Ardhius masih bertahan sambil menunggu parameter Ììćhìñòśéķì penuh


" Ardhius berhenti Xun Jei sudah seorang Łìŕìéń pemula kamu tidak dapat mengalahkannya " kata guru Luo He ketika Ardhius terus terpojok


" Ardhius berhenti seperti banci dan jangan menghindar... " teriak Xun Jei


Ardhius hanya tersenyum, karna keduanya bertempur banyak dari siswa yang berkerumun melihat. Karna lawannya terkenal lemah banyak dari mereka yang mengejek


" hai...hai lihat pecundang Ardhius menantang entah apa yang sedang dipikirkannya, mungkin otaknya sedang konslet "


" sungguh mencari kematian " kata seorang siswa di sebelahnya


Mereka tertawa mengejek


" Xun Jie berhentilah, mengalahlah dan lembutlah " kata seorang siswa yang di sertai tawa siswa yang lain


" Jangan khawatir Ye Tian aku sudah lama sangat ingin memukulnya "


sebenarnya bukan tanpa alasan Ardhius membencinya Xun Jie berdasarkan ingatannya dulu Xun Jei termasuk siswa yang membullynya hanya YeTian satu satunya yang tidak membulllynya di kelas. Guru Luo He memandang khawatir bagaimanapun keduanya adalah muridnya jika terjadi sesuatu tentu dia akan dimintai pertanggung jawaban. Biar bagaimanapun Xun Jei adalah seorang Łìŕìéń pemula tentu memiliki fisik kuat berbeda dengan Ardhius kedua tangannya sakit untungnya fisiknya ber tambah tiga poin dari tiga puluh tiga menjadi tiga puluh enam berkat cairan Ķáéfù walaupun itu hanya sebesah tiga poin itu juga merubah fisiknya. Melihat yang dilakukan Ardhius Chen Li dan Za Song saling melihat sebagai orang yang melihat secara langsung kekuatan Ardhius keduanya menganggap Ardhius seorang yang licik dan keduanya mereka memikirkan hal yang sama. Ketika Ardhius di pukuli tiba tiba dia memiliki kekuatan yang meledak


" sekali sampah tetap sampah terus bersembunyi dasar sampah " ejek Xun Jei


" Hahaha seperti yang diharapkan dirinya tak dapat menyerang kukira ketika dirinya menantang Xun Jei akan dihajarnya " kata salah seorang siswa yang menonton


" pukul didik dengan baik biar dirinya

__ADS_1


Semakin lama Xun Jei tidak sabar dia pun semakin kesal karna terlalu lama dan Ardhius terus menghindar ingin sekali dirinya menginjak injaknya di tanah hingga babak belur, guru Luo He sorot matanya menampilkan keterkejutannya.


Sebagai gurunya tentu dirinya mengenal Ardhius sebagai seseorang yang lemah lebih lemah dari manusia biasa. Guru Luo He tahu bagaimana Ardhius bekerja keras dan berusaha namun karna fisiknya yang sia sia di menjadi hinaan bahkan bullyan dikelasnya atau sekolahnya


" Mati... " kata Xun Jei


Sebuah pukulan penuh tenaga menyerang, banyak diantara penonton yang beranggapan sudah selesai walau tidak mati pasti Ardhius akan terluka parah karna menurut mereka serangan itu tidak dapat di hindari oleh Ardhius. Xun Jie sudah tak peduli lagi terserah Ardhius mati kini dirinya di penuhi oleh amarah dan kebencian, benci karna mengapa Ardhius harus memilihnya dan membuat pertempuran yang panjang padahal dirinya lebih unggul dibandingkan dengan Ardhius.


[ Ding, apakah master ingin menggunakan Ììćhìñòśéķì Ta / Tidak ]


Tanpa ragu ragu Ardhius memilih Ya, pukulan Xun Jie disambut dengan pukulan hal membuat membuat Xun Jei marah


" Mencari kematian " teriak Xun Jie


banyak diantara gadis yang menunduk menutup matanya tak berani melihat ketika Ardhius dan Xun Jeia akan beradu pukulan bagi mereka Xun Jie adakah seorang Łìŕìéń pemula yang kuat


dan tinjunya dapat mematahkan tulang Ardhius


Bang!!...


Sebuah teriakan terdengar , teriakan itu sangat menyakitkan dan apa yang di harapkan oleh mereka tidak terjadi. Semua penonton diam melongo melihat yang telah terjadi, ternyata teriakan itu bukan dari Ardhius melainkan dari Xun Jie. Dia di kirim terbang nampak tangannya melengkung kebelakang begitu pula dengan jari jarinya dari kondisinya dapat dilihat jika Xun Jie terluka parah dengan tulang patah. Walaupun kenyataan ada di hadapan mereka penonton tak mempercayainya mereka beranggapan kalau mereka sedang bermimpi. Ardhius yang terkenal dengan julukan julukan buruk seperti sampah pencundang atau yang lain kini sedang berdiri tanpa senyum hanya melihat Xun Jei


" Tidak mungkin...itu tidak mungkin kamu pasti berbuat curang." teriak Xun Jie


Karna menurutnya Ardhius tidak dapat mengalahkannya tanpa berbuat curang, ketika mengingat dirinya dikalahkan oleh sampah ia pun memuntahkan darah dan pingsan


Walaupun guru Luo He terkejut segera guru Luo He memerintahkan salah satu muridnya untuk membawa Xun Jie kerumah sakit, agar segera mendapatkan perawatan pada tangannya


" siapa lagi ?? " teriak Ardhius melihat sekitarnya dengan tajam


Beberapa gadis melihat dengan mata berkilauan, jantung mereka berdetak lebih cepat, Ardhius tak mempedulikan pandangan mereka dan menghampiri guru Luo He


" Guru bolehkah aku mengikuti pelatihan pertempuran sebenarnya di Distrik A20, guru jangan khawatir aku tahu batasanku dan tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh hingga mengakibatkan kematianku " kata Ardhius menyakinkan guru Luo He


Tentu Ardhius memiliki rencana dengan mengikuti pertempuran di Distrik A20 dirinya akan lebih kuat dengan pengalaman yang didapatnya dan dengan bantuan system tentu dirinya akan lebih cepat dengan mendapatkan poin exp. Dia takkan melewatkan kesempatan yang ada di depan matanya, walaupun sebenarnya berbahaya namun jika dirinya tak melakukannya akan selamanya dia akan dicap lemah sampah pencundang atau yang lainnya dan terus di bully. Jika dirinya gak mau maka dia harus meningkatkan potensinya dan dengan pergi ke Distrik A20 adalah kesempatan untuknya


" baiklah..."


" bagaimana kamu melakukannya..." lanjutnya setelah mendesah pelan


Guru Luo He menyadari nampaknya muridnya telah berubah bahkan dirinya merasa tak mengenalnya tertutupi kabut, kekuatan yang ditunjukkannya membuatnya terkejut.


" itu rahasia..." jawab Ardhius singkat sambil tersenyum


Guru Luo He hanya dapat diam menggeleng pelan, pertempuran keduanya, topik pembicaraan di kampus. Banyak yang syok terkejut mengenai hasilnya mereka yang pertama mendengar pasti akan beranggapan Ardhius akan kalah nmun ternyata Ardhiuslah yang menang. Banyak yang dari mereka yang mencari kebenarannya dan bahkan mereka terkejut mengenai Qi Ma yang juga terluka di hari yang sama

__ADS_1


__ADS_2