
Di bawah mata Sang malam kelompok Xu Wenshi bermalam, mereka bergantian berjaga dan tidak mengulangi apa yang mereka lakukan kemarin. Bermalam di rumah yang kosong lagi pula mereka telah membersihkan sekita dari Jüēźēŕ. Seorang pemuda berlatih dengan tombaknya baginya jika dia tidak segera kuat dan menempa tubuh lemah ini dirinya pasti akan mati tanpa tahu alasannya. Walaupun dirinya memiliki system yang membantunya dia tahu dia adalah lemah dan tanpa kekuatan dirinya tak pantas hidup di era ini
" apa yang kamu lakukan Ardhius " tanya Li Laico menghampirinya merenggangkan tubuhnya
" berlatih hanya mengisi waktu luang " jawab Ardhius
Li Laico melihat apa yang dilakukan oleh Ardhius hanya gerakan gerakan tombak dasar, blokir, menusuk, menarik namun terlihat kuat dan mantap. Dia terus menari dengan tombak di bawah Mata Sang Malam, tak heran jika Ardhius kuat di usianya yang masih lima belas tahun dia lebih bekerja keras dibandingkan yang seusianya.
" Sebaiknya aku juga melakukannya " kat Xu Wenshi bangun dan mulai berlatih dengan pedangnya
Li Laico bersandar pada pohon yang tumbang nampak kepalanya mengangguk angguk berulang kali
" cekcekcek tak disangka kamu berlatih bahkan di malam hari, namun sekali pecundang tetap pecundang "
dalam kegelapan muncul sosok pria paruh baya dia nampak menyeringai memandangi Ardhius dari kejauhan
Telinganya yang sensitif terkedut mendengar sesuatu, segera dia membungkuk hanya beberapa helai rambutnya terpotong. Jika terlambat dapat dipastikan lehernya yang akan terpotong. Nampaknya dia telah mengamati dan menunggu kesempatan untuk membunuhnya
Ardhius berdiri memandanginya dengan wajah dingin dengan refleknya yang cepat dapat memblokir serangan pedangnya yang mengejutkan lawannya
" Siapa kamu dan kurasa kita tidak pernah bersikeras?"
" orang mati lebih baik diam dan terima kematiannya
Łìŕìéń Beteran menengah, dirinya tidak memiliki musuh yang begitu kuat kecuali..
" nampaknya kamu anjingnya Chu, bahkan setingkat keluarga bangsawan Chu mengirim Łìŕìéń tingkat Beteran menengah aku sungguh tersanjung atau karna tingkat Shohisya puncak milik mereka lemah." katanya mencibir
pria mendengus, " keluarga Chu apa ?, hanya keluarga sampah. Jika dia tidak memasang harga atas kepalamu memangnya aku akan berusaha dengan mereka "
__ADS_1
Xu Wenshi yang beristirahat mendatangi namun kedatangannya disambut oleh dua bilah angin berbentuk X. Dia tahu pria itu lebih kuat darinya
" Pergi !! bangunkan yang lain dia datang untukku " teriak Ardhius
karna teriakkan Ardhius mereka bangun namun tidak pergi meninggalkan Ardhius melainkan menyerang sosok itu. Melihat dirinya di keroyok dia hanya tersenyum mengeluarkan skill miliknya
" Ketrampilan Silver, Round Blast "
pria bertajuk hitam itu berputar sesekali terdengar ledakan senjata yang berbenturan terlepas dari tangan dan mereka terhempas. Pria itu tidak mempedulikan mereka dan kembali melihat Ardhius
" kalian tidak perlu membantu, pergi!! "
sia sia mereka tidak dapat membunuhnya dan hal yang pasti jika pria itu benar benar serius ingin mereka mati maka sudah pasti mati.Meteka hidup karna memang pria itu tak peduli pada Xu Wenshi dan lainnya. Ardhius segera melarikan diri menjauh dari mereka pria berbaju hitam itu mencibir dan langsung mengejar Ardhius
" kamu takkan pernah bisa lari."
" Siapa dia ? kapten dan apa yang kita lakukan sekarang?" tanya salah seorang
Xu Wenshi mengangguk dan mereka mengambil senjata berlari kearah mereka berdua lari
" benar seperti itu lebih baik kamu diam menerima nasibnya " kata pria berbaju hitam ketika melihat Ardhius berhenti
" aku hanya mencari tempat yang tenang untuk membunuhmu "
" ha...ha...ha haha, kau ingin membunuhku. memangnya bocah sepertimu bisa..."
Pria itu kembali menghilang dalam kegelapan malam, seketika Ardhius waspada dan di menggenggam erat tombaknya. Ardhius menusuk sebelah kirinya terdengar suara gesakan senjata, namun senjata pedang yang di gunakannya masih maju baru berhenti seketika menusuk leher Ardhius. Darah mengalir di lehernya walau hanya cidera kulit itu menakutkan
Dirasakannya rasa perih di lehernya, pria herbaju hitam itu terus menyerang tidak memberi kesempatan Ardhiu membalas. Sebuah pukulan mengenainya menerbangkannya membentur sebuah pohon
__ADS_1
Ardhius berusaha bangun menatapsambil tersenyum dingin, melihat tatapannya pria itu tak nyaman seolah olah ditetapkan binatang buas. Bagaimana mungkin dirinyabtakht dengan Ardhius
" Nak apa yang kamu lihat " katanya sedikit gelisah
Dia kembali ke kegelapan namun kali ini dirinya tak lama bersembunyi
" Mati!!! " teriaknya muncul diatas pedang ditangannya muncul cahya dingin
" Thousand Sword "
muncul di hadapan Ardhius banyak pedang menyerang entah mana yang asli, disituasi seperti ini Łìŕìéń biasa tidak akan bisa melawan. Satu satunya cara adalah menghindari semuanya, namun jika dirinya melakukannya pria itu dapat di pastikan menggosok leher belakangnya
" kenapa dia tersenyum ? " gumannya ketika melihat Ardhius tersenyum
" The Stab of A Terrible Storm of Rose ( ToSATSoR ) "
seperti dapat merasakan tekad dan maksud dari Ardhius tombak itu bergetar kegirangan. Bang...bang...bang
Ardhius membalas serangan pria itu dengan skill ToSATSoR, melihat apa yang di lakukan Ardhius pria itu berteriak marah. Dia ngerasa Ardhius meremehkan skillnya
Di detik terakhir pria itu berhasil menusuk bahunya, dan tombaknya menusuk tulang pipi pria berbaju hitam. Melihat ini pria itu tertawa
" Kamu kalah " katanyanya
Menurutnya selama dirinya memutar dan menarik pedanganya itu akan memberikan efek yang kuat. Ardhius menggeleng pelan," kamu salah kata siapa kamu menang ? "
pria itu mengerutkan kening mendengar kata Ardhius, dia melihat muncul tiga lubang di dadanya darah mengukur keluar dari sana. Mata pria itu menunjukkan keterkejuttannya, dirinya tak menyangka dia akan kehilangan nyawa disini. Akhirnya di jatuh dia mati dengan keengganan
[ Ding, selamat master karna membunuh Beteran tingkat menengah, master mendapatkan seratus lima puluh ribu exp... ]
__ADS_1
Ardhius memuntahkan darah pandangan di depannya mulai kabur dan kesaarannya mulai kabur ia pun terjatuh tak sadarkan diri. Entahbapa yang di katakan system selanjutnya dirinya terjatuh terlebih dahulu
Entah berapa lama dirinya tak sadar, dia terbangun ketika terdengar letusan api dan tercium bau daging