Pemburu

Pemburu
bab 27


__ADS_3

Di sebuah kamar seorang pria misterius memainkan komputer miliknya untuk mengupload sebuah gambar atau bisa dikatakan foto sebuah benda yang telah menjadi langka bahkan di masanya. Foto itu adalah sebuah srigala android, sebuah senyum diingin terukir di bibirnya. Dia tahu benda apa itu dan dua yakin di luar sana juga ada yang tahu akan senang. Pemuda yang menjadi pemiliknya tidak tahu jika srigala androidnya ada yang menginginkannya walaupun itu secara paksa dan telah tidur dengan pulasnya


Keesokannya lapangan itu masih penuh dengan siswa walaupun kemaren mereka telah dieliminasi, bagi mereka menonton pertandingan ini akan menguntungkan.


Pertempuran akan di mulai pukul setengah sembilan pagi lima puluh siswa dibagi menjadi dua gelombang dan Ardhius termasuk gelombang yang kedua diam diam seorang pri menghampiri seorang remaja dia adalah lawan Ardhius Ji Gulin. Entah apa yang sedang di bahas keduanya, namun apapun itu dia nampak senang. Bagaimana tidak pria yang disebelahnya salah satu dari dekan senior di akademi dan dengan koneksinya tentu akan membuatnya lebih mudah di akademi. Di kenal dekan Hui Zang


Akhirnya pertandingan keduanya dimulai, keduanya berdiri di arena nampak tatapan Ji Gulin yang sombong, di letakkannya senjata palunya di sebelahnya yang memiliki bentuk yang besar hampir sebesar penggunanya


Ding,


Nama Ji Gulin


Level : Beteran menengah tingkat dua


Kekuatan : 280


Fisik : 190


Kecepatan 70


Total kekuatan 1789


Ardhius terdiam melihat status milik lawannya


" kukira aku cukup kuat untuk berpartisipasi "


gumannya mendesah


Apa yang di lakukan Ardhius membuat Ji Guyin mengerutkan kening nampak sorot matanya yang menunjukkan kemarahannya


" Siiiaaaallaaaannn " raungnya setelah menerima pemberitahuan untuk memulai pertempuran


Ardhius mengira dia akan kesulitan untuk mengayunkan senjata palunya ternyata dirinya salah ternyata dia masih dalam melakukannya. Suara berdebam terus terdengar karna palu tidak mengenai Ardhius yang terus menghindar, membuatnya terdesak entah apa yang membuatnya tiba tiba marah


" Mati...mati...mati " kutuk Ji Guyin terus menyerang

__ADS_1


" Tuan Yu lihat..lihat itu Ji Guyin, dia beraa di peringkat ke empat "


" Di usia yang mudah dia berada di Beteran Menengah tingkat dua " lanjut kepala sekolah Guo antusias


Namun dia mendapatkan balasan yang tidak terduga


" Ardhius juga hebat ..."


yang di sekitar terkejut entah apa yang di lihat dari Ardhius


" Apa maksudmu dengan meremehkanku ?"


Ardhius terdiam memiringkan kepalanya bingung, tatapan Ji Guyin dingin dan penuh amarah


" nampaknya kamu salah paham, aku mendesah karna aku lemah hanya seorang Beteran awal tingkat dua "


Mereka yang mendengar apa yang di katakan Ardhius terdiam dan mulai terdengar suara kutukan dari yang tahu siapa dia, seorang Łìŕìéń yang lemah dalam waktu sebelum setengah tahun tepatnya tiga bulan menjadi Beteran awal tingkat dua


" aku mengira cukup kuat untuk tidak khawatir dalam pertandingan akhir smester " lanjutnya


Ji Guyin kembali menyerang kali ini Ardhius tidak menghindar melainkan meluncurkan serangan. Tombaknya dengan cepat menusuk ke depan namun dengan mudah di tangkis dengan palu


" Rainstorm of Rose "


Ardhius berhasil melancarkan skillnya dan melukai bahu kanan meleset dari apa yang dia targetkan dadanya. Keterkejutan terlihat dari siswa yang menonton mereka tak menyaka jika Ardhius berhasil mendaratkan luka pada Ji Guyin siswa di peringkat empat di akademi.


Ardhius mengerutkan kening, dia tak menyangka bila serangannya sempat ditangkis, padahal dirinya telah menanti kesempatan yang muncul dan memberikan satu serangan cepat dan menjatuhkan Ji Guyin. Refleknya cukup bagus. Dekan Hui Zang mengerutkan kening


" dia harus mati " kata Hui Zang memberi gerakan memotong leher


Ji Guyin yang tahu maksudnya mengangguk, tanpa menunggu Ardhius dengan cepat dia menyerang tak memberi kesempatan


" Ketrampilan silver Great Acient Mountain..." kata Ji Guyin


Ardhius terdesak dia tidak dapat menghindar, tiba tiba api hitam muncul diujung tombaknya namun walau demikian tidak merasakan panas mulai membentuk phonix mini berjumlah dua puluh. Phonik api menghampiri Ji Guyin rasa digin mulai menyelimuti udara di sekitar arena

__ADS_1


bukannya mundur Ji Guyin berlari ke depan memukul dengan palunya, terdengar suara ledakan dan gelombang kejutnya menerbangkan keduanya yang hampir melempar ke dua terlontar dari arena. Es muncul di arena dampak dari serangan Ardhius


Keduanya menghilang dari tempatnya dan muncul di tengah arena, terdengar di tengah arena suara benturan senjata. Ji Guyin terus mengayunkan palunya menyerang Ardhius, Ardhius menggunakan skill RoR namun kali dengan mudah lima serangannya di tangkis. Ji Guyin tersenyum meremehkan


" terlalu lambat...lambat "


sebuah ayunan di lancarkannya dan Ardbius terpaksa bertahan dengan tombaknya membuatnya terlempar memuntahkan darah


" itu ketrampilan tingkat silver yang dimiliki oleh Ji Guyin, The Power of The Five Finger Mountain "


Nampak Ji Guyin di udara mengangkan palunya bersiap untuk penyelesaian. Dahinya berkerut melihat kekuatam yang dihasilkan, memaksa Ardhius ke sudut. Di genggamnya tombak di tangannya setelah menghembuskan napas penuh dengan tekat keyakinan dan keberanian, menanggapi tuannya tombak itu mengeluarkan gemuruh


Api melilit setengah dari tombaknya membuat yang melihat terkagum kagum, bertanya akan tingkatan akan ketrampilan yang di lepas oleh Ardhius, diam diam seorang remaja mengepalkan tangannya melihat Ardhius dengan tajam


Berbeda dengan api phonix sebelumnya nampak itu hanya tunggal memiliki kanggunan dan keagungan dengan warna api biru, dam atas kemauan Ardhius api itu meluncur ke arah palu milik Ji Guyin dan berbenturan


Bang...bang !! Afek dari berbenturannya kedua kerampilan tanah mulai begetar arena mulai muncul retakan retakan melontarkan Ardhius di sudut arena dan berhenti tepat di tepi arena sedangkan Ji Guyin menggelinding berulang kali dan memuntahkan darah memegang dadanya nampak keterkejutannya di sorot matanya. Setelah bernapas pelan berulang kali dia merasa lebih baik dan bangun melihat Arshius yang sudah meluncur dengan gerakan menusukkan tombaknya


" Mati..." teriak Ji Guyin


Tombak itu bukannya menusuk Ji Guyin melainkan palu miliknya, suara benturan logam memekakkan telinga. Segera getaran menyerang tangannya yang mengakibatkan mati rasa dan hampir dirinya melepaskan palunya. Dilihatnya disatu sisi palunya peyok kedalam membuat hati Ji Guyin berkedut sakit dia tak percaya senjata palunya rusak


" Hammer Blow Storm "


" Rainstorm of Rose " kata Ardhius mengeluarkan skill miliknya


Tidak seperti yang diawal Ardhius dapat menangkis serangan yang dilancarkan oleh Ji Guyin, yang diawal dirinya kesulitan melawan namun kali ini Ardhius dapat memblokir dengan tombaknya. Suara benturan logam terus bergema


Crak..crak, pakaian yang dikenakan oleh Ji Giyun robek karna serangan Ardhius membuat dia tidak mempercayainya, sebenarnya hal itu tidak akan terjadi jika Ji Guyin dapat tenang dan sabar karna sifat sombongnya yang tidak mau kalah membuat hatinya terguncang. Yang tidak diketahui oleh Ji Guyin diam diam Ardhius tersenyum nampak kemenangan sudah di depan mata. Namun dengan segera dia menekan kesenangannya itu dengan wajah datar acuh tak acuh sambil menghindari serang palu dari Ji Guyin


Di bangku penonton Luo He tersenyum melihat pertandingan di arena, menurutnya dia juga beranggapan Ardhius sudah menang. Serangannya yang membabi buta dan lemah, nampaknya hatinya benar benar terguncang diam diam Luo He menggeleng sambil mendesah pelan. Tak lama kemudian terdengar suara wasit yang mengumumkan kemenangan Ardhius, Ardhius pun terjatuh karna kelelahan


" Medis...medis." teriak Luo He sambil menghampiri Ardhius


Setelah tahu Ardhius hanyanjelelahan guru Luo He pun mendesah lega

__ADS_1


__ADS_2