Pemburu

Pemburu
Bab 29 ( edit )


__ADS_3

Kemenangannya membuat riak yang besar banyak yang tidak menyangka Ardhius akan memenangkan disaat terakhir, entah apa yang terjadi disaat terakhir hanya Ardhius yang tahu kini dia sedang di kedai menikmati makanan


beberapa orang berbaju hitam mengahampiri mengepungnya seolah olah takut Ardhius akan kabur, mereka adalah petugas yang melindungi ketentraman dan hukum semacam polisi di kehidupannya yang dulu


Ardhius masih tenang menikmati makanannya tanpa memperdulikan mereka


" Apakah kamu Ardhius " kata salah seorang


Ardhius mengangkat kepalanya mengangguk pelan


" kamu mendapat laporan bahwa kamu di curigai telah membunuh "


Di keluarkannya borgol khusus untuk di pasang di tangan Ardhius, dia mengerutkan kening. Dirinya tak menyangka dirinya akan dijadikan kambing hitam padahal kematian Chu Tian tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya


Sesuai yang telah di ketahui khalayak umum membunuh di kota di larang, bagi pelanggar dia akan di penjara. Hotekina ( sebutan polisi ) merupakan seorang prajurit dan mereka kuat sehingga gak mudah bagi Łìŕìéń untuk melarikan diri


" Aku memiliki medali bisakah tanpa borgol " kata Ardhius tersenyum


mereka terdiam mereka melihat ketua tim mereka yang memiliki medali adalah orang yang istimewa dan yang pasti bukan orang biasa dan untuk memastikannya ketua tim mengeluarkan Smartbook dan memasukkan nomer medali yang tidak mungkin di palsukan


" sialan padahal sebentar lagi dengan dia masuk penjara bukankah lebih mudah untuk mengatasinya, bagaiamana dia memiliki piagam bahkan itu piagam ? " guman pria bertudung


" maafkan kami atas ketidaknyamanannya tuan Ardhius." kata ketua tim membuka borgol


yang lain juga meminta maaf


" Aku tidak tahu siapa yang telah membuat laporan namun aku khawatir yang jika dia telah membuat laporan palsu dan membingkaiku "


" Jangan khawatir tentang hal ini tuan Ardhius kami pasti akan menyelidikinya dengan benar..."


Pria bertudung di hentikan oleh salah satu dari mereka dan segera memasangkan borgol yang sama


" lepaskan aku...lepaskan...kalian bodoh bukan aku melainkan dia " teriaknya


" sebaiknya kamu ikut denganku kamu menuduh medali satu " katanya menamparnya sambil meloyotinya dengan dingin


Akhirnya pria bertudung itu memasuki mobil dan Ardhius sempat melihat siapa dibalik tudung. Dia tak menyangka jika itu adalah guru kelasnya Chu Tian


Seketika wajahnya berubah jelek mengetahui apa yang dikatakan oleh Ardhius


" katakan pada partiak Chu terima kasih "

__ADS_1


Pria itu tahu apa yang di maksud oleh Ardhius, dia tak menyangka jika Ardhius mendapatkan medali satu di perbatasan benteng. Ardhius kembali ke asrama namun di perjalanan dia bertemu dengan Tuan Yi dan rersenyum menyambutnya


" Apa ini tuan Yi.." tanya Ardhius dan membuka amplop mereha


Ardhius terkejut membuka disana tertulis Akademi Shéìnseñá ( di baca Sheinsena )


" aku telah mengamatimu selama ini dan kurasa kamu cocok untuk bergabung di sana "kata tuan Yi tertawa sambil mengelus jenggotnya


" Hari pertama bulan kesembilan kamu harus masuk disana dan tidak perlu untuk mendaftar ujuan masuk "


" tentu aku akan sampai.." balasnya pergi


Diam diam dia mengeratkan tangan


" bagaimana aku bisa menemuimu ?"


" Shéìnseñá " jawabnya singkat


Kenangan itu kembali terngiang di telinganya, dia berhenti dan kembali menghampiri tuan Yi. Dirinya telah mencari informasi dimana lokasi Akademi Shéìnseñá namun tak satu pun ada informasi yang berbicara tentangnya maka diputuskannya untuk menanyakannya


" Puncak Hisan'shi ( kematian ) "


Tuan Yi diam melihat Ardhius


" bagaimana...?" tanyanya sambil melihat respon Ardhius yang datar


" aku pasti datang "


" karna kamu telah resmi menjadi siswa khusus Akademi Shéìnseñá kamu tidak perlu kembali, lalu apa yang kamu rencanakan ?"


" mendapatkan kualifikasi prajurit.."


" kau benar dengan mendapatkan ijasah militer itu akan membantumu di masa depan " kata tun Yi mengelus elus jengotnya


Ardhis pergi pamit bersiap siap dan bertemu dengan beberapa teman sekelasnya yang jika mendapatkan kabar jika Ardhius akan pergi. Mereka marah mendengar jika Ardhius di keluarkan, namun mereka hanya dapat diam karna keluarga Chu yang merupakan sponsor nomer satu akademi yang melakukannya


Ardhius pun pergi setelah melihat sejeliling ruang asramanya menjadi sedikit melakolis banyak kenangan yang ada. Dengan menggunakan tunggangan android miliknya Ardhius meninggalkan kota


Telinganya yang sensitif berkedut pandangannya di depan samping kiri, Ardhius langsung menyerang.


Bang...bang...bang, dengan tangan kosong Ardhius membunuh mereka dan pemberitahuan notifikasi berdering. Dia segera muncul di arah jam sembilan disana dia juga berhasil membunuh

__ADS_1


Pria bertudung terdiam sadar ketika Ardhius memanggilnya


" aku sungguh tak menyangka jika akan bertemu dengan patriak Chu Mubai "


" Aku akan membunuhmu membalas..."


" Patriak Chu Mubai nampaknya memiliki penyakit daya ingat pendek, atau mungkin patriak Chu buta " potong Ardhius dengan nada sarkasme


Mendengar apa yang di katakan Ardhius membuat Chu Mubai dalam kemarahan, dia ingin merobek mulutnya itu dan mulai menyerang


kedua senjata yang bertubrukan membuat percikan api, nampak banyak lubang di tanah bahkan pohon sekitar tumbang karna efek dari senjata keduanya


Qi mulai mengalir dari tubuhnya menuju pedannya tak lama kemudian burung api phonix muncul membakar tubuhnya


" pergi ke neraka.."


" ketrampilan tingkat Gold The Nine Heaven Pnonix Dance " lanjut Chu Mubai


Ardhius berusaha menghindar namun itu mengejar


" Menghindar?, tak mungkin kali ini kau pasti mati Ardhius "


tiba tiba mata Ardhius dingin menatap serangan Chu Mubai dengan senjatanya dia mulai melakukan yang sama


" ketrampilan tingkat gold The Nine Heaven Phonix Dance..."


" tidak mungkin "


Ardhius tak mempedulikan keterkejutan Chu Mubai, kedua ketrampilan tingkat Gold berbenturan walaupun sama namun itu jelas berbeda Ardhius terlontak karna kejutannya dan memuntahkan darah


Walaupun dirinya dapat menirunya melalui skill yang di milikinya namun perbedaannya jauh dan dia terkena dampak dari serangan yang di gunakan


Ardhius berusaha bergerak melihat Chu Mubai kembali menyerang kembali benturan senjata terjadi dan enatah bagaimana Ardhius dapat mengimbangi kecepatannya, namun dia yakin ith takkan bertahan lama


Ketika melihat kesempatan Chu Mubai menebas dengan kekuatan penuh dan Ardhius hanya dapat memblokir dengan tombaknya, akhirnya tombaknya terbelah menjadi dua menghilangkan mata tombak Serangan pedangnya hanya menusuk bahunya


" bodoh tan..."


" apa kamu lupa aku juga memiliki Qi " tombak tumpulnya menembus dada Chu Mubai


Sebuah keberuntungan dan jika Chu Mubai tidak lupa bahwa Ardhius juga dapat menggunakan Qi tentu hari ini di pastikan dialah yang mati. Keduanya terjatuh namun Ardhius hanya kelelahan dan terdengar suara pemberitahuan notifikasi

__ADS_1


__ADS_2