Pemburu

Pemburu
Bab 13


__ADS_3

Di salah satu kamar asrama Ardhius duduk mengambil sebuah botol di tas kecilnya tertulis Iyashinko ( salep penyembuh ) di usapnya salep di tangannya yang patah. Itu terasa dingin awalnya dan mati rasa kemudian patah tulang yang dideritanya sembuh dengan sekejap. Dirinya memiliki keyakinan dapat mengalahkan Chu Tian dengan bantuan system apa yang tidak dapat dilakukan, dsetelah itu dia mengeluarkan kartu Pencerahan yang juga didapatnya dari kotak spesial bersamaan dengan botol Iyashinko dan Îķâŕî. Dia nemutuskan untuk tidak berlatih tombak dia megambil kartu pencerahan yang dimilikinya terdengar suara dingin di benaknya


[ Ding, apakah master ingin menggunakan kartu pencerahan Ya / Tidak ]


Muncul sebuah pilihan di depannya setelah mengklik Ya Ardhius melihat hitungan mundur. 23:59:59.


Arshius mulai duduk bersila memjamkan mata fokus setelah menggunakan Teknik Kultivasi untuk merasakan Qi, Ardhiu terus melakukan instruksi yang sesuai pada Teknik Kultuvasi namun belum juga merasakan Qi. Ardhius mengerutkan kening nampaknya memang sulit untuk merasakan Qi sebelum menjadi Łìŕìéń Resmi


Kini pikiran Ardhius menjadi jernih seolah olah mulai memahami banyak hal yang tak di ketahuinya. Ardhius kembali tenang setelah mendesah dalam dalam merilekskan tubuhnya dan menggunakan hati untuk merasakannya serta mengosongkan pikirannya memfokuskan pada Teknik Kultivasi. Dirinya mulai merasakan sesuatu memasuki pori porinya ada perasaan hangat membuat Ardhius sangat nyaman dan lebih rileks lagi


Sensani ini kembali diingatnya dan Qi mulai diserap melalui pori pori ke otot tulang dan sel tubuhnya Ardhius terus berlatih dirinya terus memperkuat tubuhnya dirinya juga dapat menyimpan dan menggunakan Qi dalam pertempuran sehingga memperkuat ketrampilannya


Menurutnya dia dapat berhasil tidak terlepas dari kartu Pencerahan, dirinya terus berlatih semalam dan menyerap Qi dengan rakus. Dia mengeluarkan inti crystal tingkat tiga yang di perolehnya dan mulai menyerap, ruang asrama yang minim Qi mulai penuh dengan Qi dan Qi ini langsung menuju ke Ardhius yang awalnya meningkat dengan perlahan langsung menyerap dengan cepat


Di hari berikutnya Ardhius memasuki Training Room, dia mengeluarkan sebuah kartu Fist Blast yang ditemukan di perpustakan dalam keadaan berdebu di permukaannya. Seolah olah memberitahukan kartu itu belum pernah ada yang menyentuhnya, padahal dari namanya ketrampilan itu terdengar hebat dan ketika dirinya bertanya pada petugas perpustakaan terkejut ternyata untuk menguasai ketrampilan tersebut menyakiti dirinya untuk mendapatkan kekuatan yang meledak nampaknya seperti skillnya Æņàŕiśùmè, ledakan yang disebabakan oleh Fist Blast cukup juga berdampak bagi yang melatihnya mangakibatkan lumpuh sebelum menguasainya. Oleh karna itu tak banyak dari orang yang mengambil Fist Blast, sesuai dengan namanya sebuah ledakan di udara dan merupakan pukulan yang kejam karna pukulanitu untuk merusak di dalam dan berlatih di belakang Akademi. Serangannya masih belum seperti seharusnya hanya masih melukai diluar bukan dalam


Sebenarnya telah banyak yang mengambil namun siswa yang berlatih mengalami pendarahan internal dan patah tulang, Ardhius sudah dipastikan tidak akan menguasainya jika bukan karna memiliki cairan Iyashinko selain dapat mengobati cidera luar juga dapat mengobati cidera dalam. Jadi ketika Ardhius cidera pendarahan internal di meminumnya efek penyembuhannya hampir seketika sehingga Ardhius dapat berlatih kembali


Dibawar sinar mentari malam Ardhius masih berlari memukulkan tinjunya di batu raksasa di depannya efek dari kartu pencerahan masih aktif tenyata itu juga dapat membantu meningkatkan kecepatannya dalam menggunakan ketrampilan


Bang bang bang Ardhius dengan cepat memukul batu dengan cepat namun efek yang di harapkan masih terjadi, nampak batu berjatuhan terkena dampak pukulannya


Mentari malam tersenyum hangat dan awah awan yang biasanya menghalangi menghilang seolah oleh mentari malam ingin mamandangi seorang remaja dengan takjub dan bersorak. Remaja itu masih berlatih, stamina telah meningkat banyak. Di tangannya sebuah tombak menemaninya melakukan gerakan gerakan dasar tombak dan ketrampilan AoTP berkat efek dari kartu pencerahan kemampuan tombaknya meningkat banyak begitu pula dengan ketrampilan AoTP meningkat menjadi ketrampilan tingkat Silver, menjelang dini hari Ardhius beristirahat menyerap Qi dirasakannya Qi kali ini lebih kuat dan murni sensasi hangat menyelimuti tubuh Ardhius yang lelah membuatnya sangat nyanan


Ding,

__ADS_1


Karakter Ardhius L


Level 12


Poin exp 10 ( 10 / 137000 )


Kekuatan 75


Fisik 72


Kecepatan 50


( rata rata seorang Łìŕìéń 38 tiap stats )


Æņàŕiśùmè, Ììćhìñòśéķì, Îķâŕî


Total kekuatan tempur 725


Poin potensia 15


melihat banyaknya pain potensia yang dimilikinya Ardhius berpikir untuk memasukkan dua belas poin ke attribut fisik dan menjadikannya tujuh puluh dua. Dirasakannya tubuhnya mengendur beban yang terpasang di tubuhnya sedikit ringan membuatnya nyaman poin yang didapatnya jauh dari cukup [ 93246 / 100000 ]


Sementara itu itu diluar sana sebuah berita muncul di TV proyeksi 3D di kelas dengan warna merah itu berita mengenai pertempuran Arshius dengan Chu Tian. Selain jelas tiga puluh menganggap berita ini lucu. Sudah diketahui jika Chu Tian seorang Łìŕìéń yang dekat pada tingkat Resmi melawannya hanya menjadi sebuah omong kosong, angan angan. Sesuati yang mustahil banyak kata kata cemoohan terdengar dan menjadi topik trending. Disuatu tempat dua remaja mengobrol dan jika di lihat dengan sungguh sungguh nampak kemiripan


" kakak Tian kamu harus memotong kedua tangan kakinya..."

__ADS_1


" tak masalah Ping aku akan membalaskan dendammu dan tidak boleh seorang pun menghina atau menginjak wajah Chu " katanya dengan dingin


Keesokannya Akademi Śhíķæńòģì sedikit sepi banyak dari siswa datang ke Seitosi Butai untuk melihat pertarungan Ardhius dengan Chu Tian. Kursi yang ada habis terisi bahkan ada yang diantara siswa membawa slogan Sampah vs Jenius


Di depan panel juri nampak beberapa orang mereka adalah guru dan seseorang yang di tuakan sorot matanya teduh orang akan menyangka bila dia orang yang baik hati namun bagi mereka yang mengenalnya tentu akan mengatakan tidak


" Luo He kapan Seitosi Butai terakhir "


" Setahun yang lalu tuan Yu.." jawab Luo He disampingnya dengan nada hormat


" Luo He aku akan menyuruh muridku untuk tidak terlalu keras, bagaimana menurutmu ? Tanya pria paruh baya tertawa


" Lin Li jangan khawatir siapa yang tertawa terakhir belum diketahui. " geleng Luo He sambil mendengus


" lihat dan dia akanmemberikanmu kejutan " tambah tersenyum licik


Mendengar apa yang dikatakan Luo He Lin Li tertawa terbahak bahak memegangi perutnya yang mulai sakit


bagaimana dirinya percaya seseorang tingkat bawah seperti Ardhius dapat mengalahkan Łìŕìéń tingkat Quasi yang hampir tingkat Sejati. Bukankah itu hanya mencari kematian


" Pertempuran akan segera dimulai diharapkan kedua peserta naik ke arena " kata seorang pria yang bertindak sebagai wasit


Dua sosok berdiri dan mulai melangkah memasuki arena, Ardhius rambut panjangnya dicukur sorot matanya tajam dan lembut namun nampak kekejaman dibaliknya. Banyak cemoohan yang mengejeknya dan mendukung Chu Tian. Melihat ini Ardhius hanya diam dengan wajah datar diantara penonton nampak Corinna Lailani yang diapit oleh temannya. Yang berteriak mendungkungnya, nampak kekhawatirannya di sorot matanya


" Kamu tidak boleh terluka kak"

__ADS_1


__ADS_2