
Banyak yang hadir untuk menyaksikan pertaruangan Ardhius dengan Chu Tian bahkan kepala keluarga Chu yang merupakan ayah dari Chu Tian dan Chu Ping hadir, para penontong meliaht dua remaja di atas arena yang satu menggunakan tombak yang satu menggunakan pedang. Nampak sorot mata remaja berpedang berkilat dingin dan meremehkan Ardhius, dirinya dapat merasakan dindingkan dulu waktu keduanya bertemu nampak lebih kuat. Dirinya bertanya tanya bagaimana bisa dengan berlari siang malam dapat membuatnya kuat
" Berjuanglah Ardhius..." teriak Yang Tie
Walaupun Ardhius tidak dapat mendengar apapun dari posisi tempatt Ya Tie duduk, banyak teman kelas tiga puluh duduk disana memandangi Ardhius dengan sorot mata marah kagum dan khawatir. Mereka bukan marah karna Ardhius berani melawan Chu Tian melainkan karna mereka tidak berani. Diantara mereka juga ada Zang Tie
" kamu tidak boleh kalah Ardhius " gumannya mengepalkan tangan
Biar bagaimana pun Ardhius juga berada di kelas tiga puluh walaupun keduanya berselisih namun ketika melawan diluar dirinya akan mengesampingkan egonya dan mendukung Ardhius, biar bagaimana pun oertempuran Ardhius membawa kemuliaan untuk kelas tiga puluh
" Baiklah pertarungan Seitosi Butai dimulai. Di sebelahku ada Ardhius L dari kelas tiga puluh..."
Seketika banyak dari penonton mencibirnya dan mengutuknya
" Di sebelahku yang lain ada Chu Tian dari kelas dua..." kata wasit
Seketika banyak dari penonton bersorak mendukungnya bahkan menyuruhnya untuk menyiksa atau membunuhnya. Meneriakkan namanya, walauoun dirinya berada di peringkat lima puluh di Akademi namun masing masing dari seratus besar di puji sebagai jeniis dan populer.
" Jam digital hologram menunjukkan pukul delapam dan kedua pihak bersiap siap, bagi yang pertama kali menyereah akan dianggap kalah dan mengakhiri kompetisi "
" jadi kalian berdua tidak perlu saling membunuh cukup paksa lawan untuk menyetah..."
Mendengar apa yang di katakan oleh wasit membuat penonton protes begitu pula dengan Chu Tian bahkan keluarga Chu juga melakukannya. Menurutnya sudah dipastika Ardhius akan kalah namun mengingat kemampuannya dirinya akan menjadi sosok yang akan di banggakan oleh Akademi. Sungguh di sayangkan jika bakat itu mati begitu saja, dan mendengar kata Chu Tian yang mengejeknya sebagai pengecut sampah membuat Ardhius diam mengerutkan kening
__ADS_1
" Kamu salah Chu Tian bukan aku yang tak berani aku memiliki keyakinan dan aku takut dengan keluargamu. Seperti yang kamu katakan Chu Tian senjata tidak memiliki mata aku membunuhmu mereka akan seperti makan t*i dan pasti akan membunuhku. " kata Ardhius tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
Mendengar apa yang dikatakan Ardhius mereka diam melongo tak percaya Ardhius akan mengatakan seperti itu. Tuan Yi tersenyum melihat Ardhius dengan mata berbinar. Melihat Chu Tian diam dengan wajah jelek Ardhius berkata, " Ehm, jika memang kamu dapat membunuhku biarlah mungkin aku yang sedang sial namun bagiku kamu tak dapat melakukannya " kata Ardhius yakin dan serius
Tiba tiba Chu Tian menyerang tak membiarkan Ardhius berbicara kata katanya membuatnya marah, menyerang dengan ketrampilan tingkat Bonze Blood Thirst. Dia benar benar ingin membunuh Ardhius dan Ardhius menahan dengan tombaknya memandangi Chu Tian dengan mata menyipit
" nampaknya kamu benar benar ingnin membunuhku "
Chu Tian diam dan terus menyerang Ardhius, sesekali memblokir serangan ChuTian. Ardhius harus mengakui jika Chu Tian kuat dan dengan perbedaan kekuatandapat menekan Ardhius.
" Blood Thrist " teriak Chu Tian
Seragannya kembali di blokir kembali di blokir membuat Chu Tian terkejut mungkin yang pertama beruntung namun dapat melakukannya yang kedua tentu itu bukan sebuah keberuntungan. Ardhius mengerutkan dahi sambil menyentuh lehernya yang sedikit terluka, kerumunan itu kembali gempar mereka mengira untuk membunuh Ardhius tidak memerlukan banyak waktu untuk menutupi rasa malu banyak diantara mereka berteriak untuk menyiksanya.
" benar benar kuat seperti yang diharapakan dari seratus besar..."
Nampak penonton bersemangat bagi mereka apa yang di lakukan oleh Ardhius hanya ketololan, ketika Ardhius mengalami kerugian mereka pun bersorak dengan semangat. Orang orang yang kenal dengan Ardhius nampak ke khawatiran Luo He memegang pinggiran kursi dengan erat
" Sialan apa yang sebenarnya dilakukannya.." gumannya ketika melihat Ardhius tersenyum
" Lambat, terlalu lambat. Siput...siput." Ejek Chu Tian mengindari serangan Ardhius sambil menyerang Ardhius dengan pedangnya yang di lapisi oleh Qi
Sesuatu yang aneh mulai terjadi walau Ardhius dalam keadaan pasif dia mulai banyak serangannya yang di tangkisnya. Walaupun serangannya mengancam namun tidak dapat mengambil nyawa Ardhius hanya mengakibatkan luka kecil. Itu benar benar tidak normal, benar benar aneh. Membuat Chu Tian marah
__ADS_1
" Fire Rage " teriak Chu Tian mengumpulkan sejumlah Qi dan melapisi pedangnya
Nampak pedangnya di lapisi oleh api
" hahahaha...bagaimana kamu akan memblokir serangan ini " kata Chu Tian sambik tertawa
Ardhius diam melihat serangan Chu Tian dengan dan mengangkat tombaknya saat dia pun juga mengeluarkan ketrampilan AoTP, memasukkan Qi ke dalam serangannya. Serangan api berbentuk phonix nampak dia atas, banyak yang terkejut dengan ketrampilan tersebut bahkan beberapa orang kuat berdiri dari kursinya. Luo He belum pernah melihat Ardhius menggunakan ketrampilan itu dirinya tidak tahu tingkat ketrampilan itu
Saat ini dia hanya melihat ketrampilan yang juga berisi dengan kekuatan Qi, Chu Tian meluncur menyerang Ardhius. Luo He tak menyangka Ardhius dapat menyerap Qi. Ardhius dapat memblokir sebagian serangan sehingga hanya bahunya terluka tertusuk serangan ini, Ardhius terlempar dan serangan AoTP miliknya menghilang, Ardhius terjatuh terengah engah. Penonton pun bersorak ria
" kakak Ardhius..." kata Corinna Lailani dengan mata sembab
" Corinna tenang saja kakakmu pasti bangun lagi " hibur temannya yang diangguki teman di sebelah kirinya
" sudah saatnya kamu mati " kata Chu Tian
Sebenarnya Chu Tian tak menyangka bila dirinya seperti ini, rasa malu, dan dihina oleh sampah di hadapan banyak orang. Banyak di antara mereka menganggap Ardhius tidakdapat berdiri Chu Tian terdiam melihat Ardhius yang berdiri, pakaiannya terbakar wajahnya hitam. Untungnya dirinya dapat memblokir sebagian serang
" Akhirnya, aku sudah selesai pemanasan dan sekarang saatnya untuk yang sesungguhnya dan ini adalah awal pertempuran yang sebenarnya " kata Ardhiud sambil merobek robek sisa pakaian di tubuhnya
" kuharap kekuatanmu belum habis dan sebaiknya kamu mengeluarkan semuanya tanpa menyembunyikan " lanjut Ardhius
Mendengar apa yang di katakan Ardhius hampir keseluruhan siswa Akademi tertawa dan Chu Tian mencibir
__ADS_1